
Wanita itu terus menggoda Julius dengan segala cara, tapi tetap saja Julius tidak memperdulikannya. Wanita itu seperti berbicara pada patung. Merasa terus dicuekin, wanita itu malah berbuat lebih berani lagi. Ia merangkulkan tangannya di leher Julius dari belakang sambil menekankan buah dadanya yang seperti melon tersebut.
"Kau beruntung aku menyukaimu, tampan. Maukah kau tinggal lebih lama lagi? Aku akan mentraktir semua yang kau mau asalkan kau ikut aku sebentar ke atas," bisik wanita itu di telinga Julius sambil perlahan jari-jemarinya membelai wajah Julius dan dipaksa nya menatap wajahnya.
"Ha... Ha... Hachi!"
Tanpa diduga tiba-tiba Julius bersin dan tepat mengenai wajah wanita tersebut. Ia seketika melepaskan rangkulannya dan mundur selangkah dari Julius. Barista yang sendari tadi melirik mereka berusaha menahan tawa melihat kejadian tadi. Ia meletakan sekotak tisu dihadapan wanita tersebut.
"Astaga, aku tidak tahu mengapa tiba-tiba aku bersin sebelumnya. Hachi!" Julius menggosok hidungnya untuk menghilangkan rasa geli yang membuatnya bersin.
..."Peringatan! Sistem mendekteksi pengguna dalam keadaan gebut! Kecepatan hampir melebihi 80 km/jam. Peringatan! Kecepatan meningkat menjadi 90 km/jam. Peringatan!"...
Julius dikagetkan dengan suara notifikasi hpnya yang memberi sinya bahaya. Ia segera memasukan hpnya ke saku jaketnya sambil beranjak dari kursi.
"Ju-li-a! beraninya kau. Lihatlah bagaimana aku akan membuatmu jera kali ini!"
Dengan aura dingin di sekitarnya Julius melangkah pergi menuju lokasi yang ditunjukan oleh sistem. Karna diselimuti emosi, Julius sampai lupa akan temannya.
"Julius, maaf membuatmu menunggu lama. Tadi aku kesulitan..." Carl terdiam sesaat sambil melirik kesana kemari mencari temannya. "Eh? Kemana perginya dia?"
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
Kebut-kebutan masih terus berlanjut. Julia terlihat memimpin setelah berhasil memotong Veronica di tikungan. Rasa senang menyelimuti Julia. Sudah lama ia tidak merasakan kegembiraan bisa kembali balapan seperti ini. Bermanuper di jalanan dalam kecepatan tinggi membangkitkan semangat yang sempat hilang sesaat. Namun hal tersebut tidak berlangsung lama. Tiba-tiba pandangan Julia menggelap bersamaan dengan rasa sakit menyerang kepalanya. Untuk keselamatan dirinya sendiri, ia terpaksa harus menurunkan kecepatan mobilnya disela-sela rasa sakit yang menyerang. Karna hal itu membuat Veronica kembali berhasil mendahuli Julia. Tapi tidak jauh dibelakang mobil Veronica ada satu mobil lagi yang berhasil memotong laju mobil Julia.
"Julia!!!" teriak Julius yang tenyata mengendarai mobil tersebut. Ia kemudian memblokir jalan yang Julia lalui.
"Hah?!" Julia tersentak kaget dan lantas menginjak rem. "Kakak?!"
Dengan aura dingin yang tidak memudar, Julius keluar dari mobilnya sambil melangkah pelan mendekati mobil Julia. Tatapan tajam terus ia arahkan pada adiknya itu yang telah keluar dari mobilnya.
"Kau... Berani-beraninya mencoba balapan lagi. Apa kau pikir aku tidak tahu hah, adikku?"
__ADS_1
"Kakak sungguh mengerikan jika sudah marah," batin Julia.
Cuman kakak dan mamanya yang bisa membuat Julia gemetar ketakutan. Kalau dengan papanya, Daniel sama sekali tidak perna marah pada Julia. Paling teguran halus lah yang biasa Daniel gunakan jika Julia berbuat salah. Harap maklum putri dan papa ini selalu kompak untuk hampir segala hal. Julia mewarisi kemampuan Daniel dalam bidang teknologi dan robotika. Dalam beberapa kesempatan mereka bisa berlama-lama membahas tentang perancang robot atau menjelajahi situs jaringan komputer.
"Eh... Hehe... Si, siapa yang balapan? Ti, tidak ada bukti aku melakukan itu," Julia masih berusaha menyangkal semua yang sudah jelas terjadi.
"Memang, tapi aku punyak saksi. Kalian berdua keluar!" kata Julius pada dua orang yang ada di mobilnya.
"Marjorie, Nisa. Kalian yang memberitahu kakak ku soal ini?"
"Tidak. Kami sama sekali tidak memberi tahunya."
"Tak lama setelah kalian melaju, Julius berhenti tepat di depan kami dan meminta kami masuk ke mobilnya," sambung Nisa menjelaskan.
"Aha! Rasakan itu. Aku lah pemenangnya! Sesuai taruhan kita tadi, kau harus menuruti kemauanku."
Orang yang tidak dinginkan malah datang lebih cepat dan memperburuk keadaan bagi Julia. Dengan gembira karna telah menang balapan, Veronica turun dari mobilnya. Ia baru sadar kalau ada seorang pria di hadapan Julia.
"Hah?! Siapa pria ini?" tunjuk Veronica pada Julius. "Apa dia pacarmu?"
"Sudah aku duga kalau kau itu bukan wanita baik-baik," teriak Veronica memotong kata-kata Julia. "Kau menggoda kakak ku tapi nyatanya kau telah memiliki seorang pacar. Aku akan memberitahu hal ini pada kakak ku. Lihat saja nanti," Veronica masuk kembali ke dalam mobilnya lalu melaju pergi.
"Bocah itu mengalami gangguan jiwa."
"Sekarang, kau mau mengelak apa lagi? Bukan kah mama sudah melarangmu untuk balapan? Aku jadi bertanya-tanya, bagaimana jadinya kalau mama tahu soal ini?"
"Mama akan membunuh ku," gumang Julia pelan. "Em... Kakak ku yang tampan, baik dan cerdas, bisa jangan beritahu mama soal ini? Kumohon...." Julia menggunakan senjata pamungkasnya untuk memohon pada kakaknya agar tidak melaporkan ia.
"Hah, cara itu tidak akan mempan padaku. Adelia saja bisa tampil lebih imut darimu."
"Tidak mungkin. Cara ini selalu berhasil pada papa."
__ADS_1
"Oho... Ternyata sebab itu papa tidak perna menghukum mu. Aku jadi sedikit bertanya, apa mungkin mama juga melakukan hal yang sama untuk menaklukan papa yang dingin itu," kata Julius berpikir-pikir.
Melihat kondisi lengah, Julia mengambil kesempatan ini untuk melarikan diri. Ia memberi isyarat pada Nisa dan Marjorie untuk ikut melarikan diri juga. Tapi baru berbalik, Julius sudah menahan krah baju Julia dan menariknya kembali ke tempatnya. Nisa dan Marjorie tidak bisa membantu Julia sama sekali kalau sudah seperti ini. Tapi disisi lain, mereka berpikir ini juga demi kebaikan Julia.
"Kau mau kemana?" tanya Julius sambil menyeringai. "Kau pikir bisa kabur kali ini? Kita lihat hukuman apa yang akan mama berikan padamu agar kau kapok!" ia mengeluarkan hpnya dan hendak menghubungi mama mereka.
"Aah....! Kakak jahat!"
Julia mencoba merebut hp tersebut namun tubuhnya terlalu pendek dari Julius. Karna masih dilanda rasa sakit sedikit di kepalanya, Julia tiba-tiba kehilangan keseimbangan saat melompat. Beruntung Julius berhasil menahan tubuh adiknya tersebut agar tidak terjatuh.
"Julia!"
"Hoek...!"
Jauh dari terkejutnya Julius melihat Julia yang jatuh dengan kondisi tubuh melemah, Julius lebih kaget lagi melihatnya tiba-tiba muntah ke samping.
"Kau kenapa?"
"Ah! Parfum apa yang kakak pakai, baunya menyengat sekali? Perutku benar-benar mual menciumnya. Hoek!"
Julia menjauh sejauh mungkin, menjaga jarak dari Julius karna tidak tahan dengan bau yang melekat pada pakaian Julius. Marjorie dan Nisa yang sedang berbincang sesaat bergegas mendekati Julia begitu tahu temannya itu muntah.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
ξκύαε