Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Tidak berpikir panjang


__ADS_3

"Apa? Aku sudah minta maaf padamu tapi aku masih mendapat hukuman. Jangan pikir Tn. Flors membelamu kau malah melunjak!!" bentak Rica tidak terima.


"Memangnya kau pikir dirimu itu siapa? Jangankan dirimu yang rendahan itu, gadis kecil ini saja aku berani menjewernya," Via seketika menjewer telinga Adelia.


"Aadududuuuh sakit!" pekik Adelia kesakitan. Telinya tampak sedikit merah akibat jeweran tersebut. "Kenapa bibi Via benar-benar menjewerku?"


"Hihi... Maaf keponakanku yang manis."


"Apa?! Bibi? Keponakan?"


"Apa maksudnya ini?"


Rica dan ibunya tersentak kaget dan tanpa sadar mundur selangkah. Akibat terlalu meremehkan orang lain dan senang mencari muka, mereka sekarang dalam masalah besar karna telah menghina adik dari Daniel.


"Itu benar. Wanita gila anime ini adalah adik kandungku," kata Daniel tanpa melirik Via.


"Sembarangan kakak mengatakan wanita gila!" Via benar-benar terima dikatakan wanita gila.


"Itu memang kenyataannya."


"Sewaktu remaja aku memang menyukai anime dan semua yang berbau Jepang, bukan tanpa alasan karna negara itu kaya akan perkembangan teknologi yang hebat. Tidak seperti kakak yang masih mendapat julukan kulkas berjalan sampai sekarang."


Daniel seketika melirik tajam pada adiknya itu. "Apa katamu?"


"Sudah cukup kalian berdua! Tidak mungkin setiap kali bertemu selalu bertengkar seperti anak kecil. Kalian berdua 'kan sudah dewasa," lerai Lina.


"Jangan marah begitu sayang. Kami cuman bercanda," yang tadinya seperti mau menekram mangsa, dalam sekejap Daniel berubah lembut.


"Hm, kalau sudah ada pawangnya, singa yang ganas pun bisa berubah menjadi kucing," ejek Via dengan nada kecil namun Daniel masih bisa mendengarnya.


"Kau kukirim kembali ke jepang, mau?"


"Tidak, tidak. Aku masih mau bermain bersama keponakanku."

__ADS_1


"Sutt... Mumpung Tn. Flors masih dalam keadaan bersahabat sebaiknya kalian cepat minta maaf," suruh Tn. Pinkston pada istri dan putrinya sambil berbisik.


"Em... Tn. Flors," panggil Ny. Pinkston ragu-ragu.


Daniel menoleh pada satu keluarga kecil itu yang sempai ia lupakan. "Kalian masih ada disini setelah semua yang terjadi?"


"Saya dan putri saya mau minta maaf atas kejadian barusan. Kami sungguh tidak tahu kalau guru Via merupakan adikmu. Ini sungguh ke salah pahaman yang besar. Mohon maafkan kami," pinta Ny. Pinkston dengan sangat.


"Aku juga minta maaf karna sudah lancang pada anda Prof. Via. Aku sungguh tidak bermaksud begitu. Aku..."


"Jika aku bukanlah adiknya, apa kau dan ibumu itu masih mau minta maaf seperti ini? Ketahuilah kalau aku adalah gurumu, orang yang seharusnya kau hormati tidak peduli seberapa tinggi atau rendah derajatnya. Ingat itu baik-baik!" tekan Via diakhir kalimat.


"I, iya aku pasti mengingatnya," jawab Rica tanpa berani menatap Via.


"Tunggu, tidak bisa secepat itu. Aku tidak terima..."


"Daniel, sudah cukup. Lain kali saja. Aku tidak mau ada masalah di hari ini," pinta Lina dengan lembut pada suaminya itu.


"Terima kasih atas kemurahan hatinya. Saya berjanji kalau hal ini tidak akan sampai terulang kembali."


"Aku harap kau menepati janjimu."


Daniel berbalik pergi sambil menggandeng tangan Adelio. Mereka melangkah menuju ruangan yang yang ditunjuk Via sebelumnya. Lagi-lagi ternyata Daniel salah ruangan. Ruangan mereka ada tepat bersebelahan dengan ruangan VIP.


"Rica, setelah acara perlombaan selesai nanti segera temui aku ya, untuk menerima hukumanmu," kata Via mengingatkan sebelum menyusul kakaknya.


"Ba, baik," jawab Rica.


"Fiuhh... Tadi itu hampir saja," Ny. Pinkston menghembuskan nafas lega setelah keluarga Flors pergi.


"Aku sudah sering bilang pada kalian untuk tidak selalu bersikap sombong ke sembarang orang! Lihat apa yang kalian lakukan... Perusahaan ku bisa tiba-tiba bangkrut karna ulah kalian!" bentak Tn. Pinkston yang sendari tadi ditahan nya.


"Jangan menyalahkan kami karna tidak tahu kalau dia adalah adik Tn. Flors. Lagi pula mana ada orang kaya seperti mereka malah mau jadi guru di sekolah ini?" kata Ny. Pinkston membela diri.

__ADS_1


"Itulah yang tidak kalian ketahui. Tidak jarang orang-orang seperti mereka suka menyamar menjadi orang biasa untuk menilai orang-orang seperti kita. Karna ini lah aku sering menekankan pada kalian untuk selalu bersikap ramah pada siapapun. Tapi nyatanya tidak. Kalian terlalu sombong dan suka berfoya-foya."


"Kenapa kau malah menyalahkan kami? Kau sendiri cuman diam saja tadi. Begitu tahu kalau wanita itu adik dari Tn. Flors, barulah kau sok-sok baik pada mereka dan mendorong kami menjadi tamengmu!"


"Jika Diana masih disini, dia tidak akan seperti dirimu. Aku pikir kau itu merupakan wanita yang baik tapi nyatanya tidak! Ketahuilah, aku menikahimu karna kau baik pada putriku dan aku berharap kau mungkin bisa menjadi ibu penggatinya disaat aku tidak bisa bersamanya."


"Selalu saja, setiap kalian kau pasti membanding-bandingkan aku dengan istrimu yang telah tiada itu. Aku bukan dia dan tak akan bisa sama seperti dia! Hiks... Hiks..." teriak Ny. Pinkston dengan air mata telah mengalir di pipinya.


"Gloria, maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakiti hatimu. Berhentilah menangis," Tn. Pinkston hendak mengusap air mata itu namun anganya cepat ditepis istrinya.


"Seharusnya ayah pikirkan dulu perasaan kami sebelum berbicara. Memang ibuku tak akan bisa menggantikan posisi ibu kandung Nisa, tapi ia sudah berusaha menjadi istri yang terbaik untuk anda."


"Iya, iya. Maafkan ayah, sayang," ujar Tn. Pinkston merasa bersalah.


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Ruangan yang cukup luas berfasilitas lengkap, ada sofa berserta meja, tv sebagai hiburan, kulkas mini berisi minuman dan buah-buahan segar. Dilengkapi dinding kaca transparan yang memungkinkan mereka melihat pertunjukanyang ada dibawa sana dengan jelas. Kaca tersebut berfungsi satu arah. Dengan begini disaat Julia tampil nanti, ia tidak akan mengetahui kehadiran keluarganya. Daniel berserta keluarga cukup puas dengan fasilitas yang diberikan Tn. Vincent. Semuanya sesuai dengan yang harapkan. Tn. Vincent juga merasa lega akan hal ini. Kedatangan dari keluarga Flors yang tiba-tiba benar-benar membuat ia kalang kabut. Jam sudah hampir menunjukan pukul 08.00. Via bergegas kembali ke panggung pertunjukan karna dia merupakan pembawa acara pada perlombaan kali ini. Setelah memastikan semuanya sudah siap, perlombaan sains dan teknologinya dimulai.


"Apa kabar semuanya yang telah menyempatkan diri hadir pada pagi yang cerah ini? Sebagai bagian dari festival kebudayaan, klub sains SMA Anthony secara resmi mengadakan perlombaan sains dan teknologi. Mari kita saksikan bersama presentasi dari masing-masing kelompok yang sudah bersusah payah membuat project sains mereka. Seperti apa hasil dari cipta karya dari siswa dan siswi berbakat SMA Anthony? Tidak perlu berlama-lama lagi, mari kita sambut kelompok pertama yang diketuai oleh Hendry, siswa kelas II B. Beri tepuk tangan yang meriah untuk mereka."


.


.


.


.


.


.


ξκύαε

__ADS_1


__ADS_2