Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Jarak dan kedekatan


__ADS_3

Mereka masih berkeliling di taman saat ini, kecuali Febby yang pamit undur diri. Ia harus mengurus toko kuenya sekarang, sedangkan Wendy juga ikut pamit dengan beralasan mau membantu Febby. Sementara itu, setelah makan siang. Seperti yang dikatakan Daniel, Tn. Pinkston segera menemuinya di ruangan yang sudah tetapkan. Dengan kepala tertunduk ia melangkah masuk setelah mengetuk pintu. Daniel terlihat duduk santai di sofa sambil menuangkan sari anggur ke cangkir dihadapannya.


"Duduklah Tn. Pinkston," pinta Daniel.


"Baik," dengan perasaan gugup Tn. Pinkston mengambil tempat duduk dihadapkan Tn. Flors.


"Sari anggur Tn. Pinkston," kata Tn. Flors menawarkan. Ia mengangkat gelasnya lalu meneguk habis sari anggur tersebut.


"Terima kasih Tn. Flors," Tn. Pinkston menerima gelas yang Tn. Flors berikan dan meminumnya. Ia tidak berani jika harus menolak. "Tapi, kenapa anda memilih sari anggur? Saya yakin Tn. Vincent menyediangan minuman anggur terbaik di kota ini. Anda harus mencicipinya."


"Aku tidak diizinkan minum minuman beralkohol sebelum makan malam hari ini."


Tn. Pinkston sedikit tidak percaya atas apa yang didengarnya. "Seseorang seperti Tn. Flors ternyata begitu mematuhi perkataan istrinya. Padahal Tn. Flors bisa saja untuk melanggar itu karna ketidak hadirnya istrinya disini. Tapi ia lebih memilih minum sari anggur dari harus berbohong pada istrinya," batin Tn. Pinkston.


"Ada masalah?"


"Tidak. Tidak ada."


"Baiklah, tidak perlu basa basi lagi. Untuk masalah hari ini, berterima kasihlah pada putri mu Nisa, Tn. Pinkston. Karna aku mengenalnya. Dia gadis yang baik dan sopan santun. Tidak seperti putrimu yang santunya."


"Dia bukan putri kandungku. Saya menikah lagi setelah kematian ibunya Nisa. Rica merupakan putri tiri ku," jelas Tn. Pinkston.


"Tapi jika dilihat-lihat, kau lebih menyayangi putri tiri mu itu dari pada putri kandungmu sendiri. Semuanya begitu jelas kalau putri tiri mu lebih membanggakan nama keluarga Pinkston yang bahkan sama sekali bukan nama keluarganya."


"Em... Soal ini... Saya terlalu disibukkan dengan pekerjaan, jadi saya mempercayakan Nisa pada istri saya saat ini. Saya cuman memenuhi kebutuhan mereka dengan uang tanpa memperhatikan tubuh kembang putri saya. Nisa sangat berbeda dengan Rica yang ceria dan terkadang karna sifatnya pemalu nya inilah yang membuat saya selalu bertindak tegas padanya. Sampai sekarang, barulah saya sadar kalau hubungan saya dengan putri kandung saya semakin jauh."


"Seberapa jauh?"


"Mungkin sudah cukup jauh. Kami sangat jarang berbicara apa lagi menghabiskan waktu bersama antara ayah dan anak."

__ADS_1


Daniel membetulkan posisi duduknya. "Bukan gaya ku mengurusi urusan keluarga orang lain tapi karna hukumanmu ini berhubungan dengan kedua putrimu, yang satu sebagai penyebab kehancuran dari bisnismu sendiri dan yang satunya lagi merupakan penyelamatmu. Aku menetapkan hukuman berdasarkan kedekatan mu dengan mereka. Seberapa dekat dirimu dengan putri tirimu, maka semakin besar pula kesalahanmu dan semakin jauh hubunganmu dengan putri kandungmu, maka semakin sedikit pula pengampunan yang aku berikan. Apa kau setuju dengan keputusanku ini Tn. Pinkston?" kata Daniel menanyakan pendapat pria di depannya ini.


"Iya, saya setuju," jawab Tn. Pinkston dengan tegas. "Hukuman tersebut memang pantas untuk saya dan sekaligus... Sebagai hukuman karna telah tidak adil pada Nisa."


Ditetapkan hukuman bagi Tn. Pinkston adalah pembatalan kerja sama dalam salah satu kontrak perusahaan. Hal ini berdampak pada kerugian yang cukup besar bagi bisnis yang Tn. Pinkston kelola. Namun Tn. Pinkston menerima dengan iklas semua itu. Mungkin dengan munculnya masalah ini merupakan suatu peringatan baginya untuk lebih peduli pada keluarganya, terutama putri kandungnya, Nisa.


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


"Julius," sapa Carl seperti biasa. Tanpa sengaja mereka bertemu di taman saat jalan-jalan santai.


"Carl, Jeffri," balas Julius menyapa. Ia segera menghampiri kedua temannya. Julius cukup senang bertemu dengan teman-temannya karna ia sudah merasa bosan terus mengikuti kemana ibu dan adik-adiknya pergi. Apa lagi mendengarkan ocehan Julia sepanjang jalan.


"Julius, tega sekali kau membohongi kami. Kenapa kau tidak bilang kalau sebenarnya kau itu tuan muda dari keluarga Flors? Aku sangat marah padamu!" kata Jeffri. Ia membuang muka dengan kesal.


"Memangnya kau berani? Kau sudah tahu sendiri kalau dia tuan muda dari keluarga Flors, keluarga paling berpengaruh di ibu kota. Tapi kau malah masih berani membentaknya di depan Ny. Flors lagi. Apa kau mau bernasip sama seperti Rica?" kata Carl mengingatkan kalau ibu dan adik-adiknya Julius masih berdiri tidak jauh dari mereka.


"Tidak perlu minta maaf. Suara kicauan burung sepertimu itu sama sekali tidak aku pedulikan."


"Terima kasih Julius. Kau memang teman terbaik ku," Jeffri hendak merangkul leher Julius namun ia dikagetkan dengan suara mendesis dari Piepar. Sontak ia mundur sejauh mungkin. "AAH ! ! Ular itu masih saja selalu menempel padamu. Aku kira kau meninggalkannya di kamar," katanya sambil menunjuk ke ular putih yang mendesis ganas padanya.


"Dia bosan jika harus menetap di kamar terus. Sesekali mengajaknya keluar tidak apa bukan?" Julius mengelus kepala Pieper dengan manja.


"Tidak apa bagaimana? Banyak orang disini tahu. Bagaimana kalau sampai ia terlepas dari pengawasanmu? Dia bisa menggigit seseorang!" ujar Jeffri. Ia masih tidak berani mendekat.


"Itu tidak akan terjadi. Oh iya Carl, bagaimana teman baru Tras yang kau ambil di bar waktu itu?" tanya Julius mengalikan pembicaraan.


"Mereka sekarang mulai akur, tapi malah aku yang Tras abaikan."


"Aku minta maaf karna meninggalkamu disana hari itu. Kau tahu, adikku itu selalu saja berbuat ulah dan aku terpaksa harus membereskannya."

__ADS_1


"Tidak apa. Aku maklumi itu. Hanya saja aku sedikit kapok jika harus memintamu menemaniku lagi ke kota," kata Carl dengan nada gurauan.


"Baru sekali kau sudah merasa kapok. Hei, di situs ilegal tempat kau memesan Tarantula baru mu itu, apa menyediakan hewan eksotis lainnya?"


"Iya. Hampir yang kita inginkan ada. Apa kau juga mau memesan hewan eksotis?"


"Aku mau lihat-lihat dulu. Mungkin ada beberapa hewan eksotis yang bisa menambah koleksiku, maka aku akan membelinya."


"Akan kutunjukan padamu situsnya. Tapi pengirimannya biasanya sangat lambat tergantung seberapa langkah hewan yang ingin kau pesan."


"Aku bisa memakluminya."


Julius dan Carl semakin jauh meninggalkan Jeffri sendirian disana. Kebiasaan mereka berdua kalau sudah membicarakan soal hewan eksotis, mereka selalu lupa pada Jeffri.


"Jika sudah bicara hewan-hewan berbahaya mereka selalu menghiraukannku," gerutu Jeffri dengan wajah cemberut. "Hei kalian! Tunggu aku!" teriaknya sambil mengejar kedua temanya itu.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε

__ADS_1


__ADS_2