
Lina membuka kotak tersebut. Ada dua tingkatan dengan masing-masing memiliki 64 petak yang dipisahkan kayu tipis. Setiap petak di isi dua bukusan terpisah dengan lebel masing-masing. Selain bukusan yang terbuat dari kain atau plastik ada juga yang di kemas dalam tabung kaca mini. Tidak semua petak dalam kotak itu terisi. Masih banyak ruang lagi yang kosong.
"Bukusan aneh apa itu? Ini yang kau sebut berharga? Tunggu, kunci apa itu?" tunjuk Daniel pada liontin kunci yang tersimpan dalam kotak tersebut.
"Ini adalah liontin kunci satu-satunya peninggalan ibuku. Dulu sempat hilang, sebab itu aku menyimpannya. Aku takut menghilangkan nya lagi. Hanya liontin ini yang membuatku merasakan kehangatan seorang ibu. Setiap kali melihatnya aku merasa ibu ada disisiku," Lina mengambil liontin tersebut dan langsung mengenakannya. Dipandanginya dengan senduh liontin kunci yang berukir nama nya itu.
"Ah... Jadi bungkusan aneh ini yang kau sebut harta berharga?" ujar Daniel mengalikan pembicaraan. Ia tidak suka melihat wajah manis itu tertunduk sedih. Daniel hendak mengambil salah satu bukusan tersebut namun Lina segera memukul punggung tangan Daniel.
"Jangan menyentuhnya!"
"Aduh... Memang apa isi setiap bungkusan itu?" tanya Daniel sambil masih mengusap punggung tangannya.
"Mau tahu? Semua ini berisi racun yang telah aku kumpulkan sejak dulu. Jumlahnya ada seratus jenis racun berbeda. Sebagian adalah racun paling mematikan dari tumbuhan maupun hewan dan sebagian lagi hasil ciptaanku sendiri," jelas Lisa sambil menyeringai.
"Racun? Hobi gadis ini memang unik," pikir Daniel.
Memang sendari kecil Lina sangat tertarik bermain dengan tumbuhan dan hewan beracun. Karna terlalu sering memainkan benda-benda beracun dan tak jarang juga ia hampir kehilangan nyawa. Tubuh Lina cukup kebal terhadap berbagai jenis racun dari yang lemah sampai sedang. Hanya saja kegemarannya ini tidak perna ia beritahukan pada Ramona. Ia takut Ramona akan sangat khawatir dan sampai melarangnya dengan benda beracun lagi.
"Sebagian besar racun ini telah aku temukan penawar racunnya. Yang paling aku suka dari semuanya adalah racun ini, kuberi nama Foxglove.
Diambil dari nama bunga cantik namun beracun yang berasal dari Eropa," Lina mengambil tabung kecil berisi semacam cairan tak berwarna yang terletak pada petak paling ujung dalam kotak tersebut. "Membunuh korbannya secara perlahan. Satu hari belum timbul gejala apa-apa, esoknya korban menderita demam dan nafsu makan menghilang. Tiga sampai empat hari kemudian fungsi ke lima indra akan rusak. Hari kelima fungsi organ tubuh juga akan mulai mengikuti kerusakan dan hari keenam adalah pemakaman. Racun ini tak berbau, tak berwarna, tak berasa dan juga tidak akan terdeteksi dalam tubuh korban. Suatu racun yang sangat sempurna dan bersih."
"Itu memang racun yang sangat sempurna untuk membunuh seseorang tanpa meninggalkan jejak sedikitpun. Tak heran ia menyebut ini sebagai harta tak ternilai. Jika racun ini masuk dalam daftar lelang pasar gelap... Aku jadi penasaran seberapa tinggi harga yang akan mereka tawar untuk mendapatkannya?"
Lina meletakan kembali racun itu pada tempatnya lalu mengambil racun lain. Cairan merah menggoda seperti rubi dalam kaca transparan begitu cantik. "Oh... Aku juga punya si cantik ini, kuberi nama mawar berduri. Itu kuambil dari aroma manis mawar yang dihasilkannya. Walaupun begitu ini tetap saja racun paling mematikan dan paling kejam yang kumiliki. Bagi orang yang terkena racun ini, kurang dari 24 jam semua organ dalamnya akan membusuk sampai tulang dan dagingnya tidak bersisa."
__ADS_1
"Ia menceritakan semua itu dalam ekspresi polosnya membuat orang yang mendengarnya begidik ngeri. Benar-benar gadis yang unik. Aku semakin menyukai gadis ini." batin Daniel. "Aku rasa kau tidak memiliki racun yang cocok untuk penyiksaan?"
"Siapa bilang tidak punya. Tentu aku memilikinya," Lina mengambil bungkusan bubuk beracun yang tersimpan pada kotak bagian kedua. "Bagi orang yang meminum racun ini, ia akan merasakan gatal yang tak tertahankan di aliran darahnya. Semakin kau menggaruknya semakin gatal pula rasanya. Racun ini tidak mematikan tapi kau akan lebih memilih mati dari pada merasakan gatal yang teramat sangat menyiksa. Semua tikus percobaan ku memilih bunuh diri setelah merasakan sejam efek dari racun ini. Menggigit lidah mereka atau membenturkan kepala mereka ke tembok, apapun dilakukan demi bisa bebas dari penderitaan."
"Em... Tikus apa yang bisa melakukan bunuh diri?" pikir Daniel bingung. Ia tidak tahu yang dimaksud Lina tikus percobaan adalah teman-teman mainnya. "Racun yang bagus. Hei, boleh aku memintanya sedikit? Kebetulan aku memiliki tahanan yang harus diintrogasi malam ini. Kami sudah melakukan semua siksaan namun ia masih saja tidak mau membuka mulut."
"Sudah kuduga kau tertarik dengan isi dari kotak ini, tapi sayang nya aku sudah perna bilang tidak akan perna memberikannya padamu," kata Lina seketika menutup kotak itu.
"Aku tidak perna menjawab iya. Tapi aku bisa berikan apapun yang kau mau sebagai transaksi. Aku tahu tidak ada yang gratis di dunia ini apa lagi untuk barang yang berharga."
"Em... Mungkin aku bisa memberinya sedikit, tidak rugi juga. Aku bisa meminta ia membebaskan ku. Hidupku akan kembali normal," pikir Lina dengan matang. "Baiklah, tapi aku minta..."
"Kecuali kebebasanmu," potong Daniel.
"Apa? Ta, tapi kau bilang aku boleh meminta apapun!" kata Lina kesal.
"Sial!" gerutu Lina. "Tapi mungkin aku bisa meminta yang lain. Ya sudah aku mau Ganoderma Darah. Kudengar bahan ini sangat langkah dan bernilai tinggi. Apa kau yakin mau membelikannya untukku?"
"Kau pikir aku orang yang kekurangan uang? Aku bahkan sanggup membelikan satu kota untukmu."
"Hm, aku tidak membutuhkan kota," Lina melipatkan kedua tangannya di dada sambil memalingkan muka. "Cuman aku berpikir bagaimana caramu mendapatkan Ganoderma Darah itu."
"Beberapa bulan lagi rumah lelang terbesar di pasar gelap akan mengadakan pelelangan tahunan mereka dan kudengar mereka melelang apa yang kau cari."
"Pelelangan pasar gelap?"
__ADS_1
"Apa kau mau ikut ke acara pelelangan? Aku salah satu tamu VIP mereka. Selain Ganoderma Darah, masih banyak lagi benda-benda menarik disana. Jika beruntung kau mungkin mendapatkan bahan racun untuk menambah koleksimu."
"Benarkah? Mereka juga melelang racun?" tanya Lina bersemangat.
"Tentu saja."
Melihat wajah Lina yang begitu bersemangat membuat Daniel kembali tersenyum. Entah mengapa setiap ekspedisi yang Lina tunjukan sangat menarik di mata Daniel.
"Siapa yang mau membeli racun jika kau mendapat kesempatan untuk melelang racunmu. Menurutmu berapa keuntungan yang aku peroleh jika aku melelangan salah satu racunku ini?" tanya Lina lagi dengan mata berbinar.
"Hah... Pikiran gadis ini sulit ditebak." Daniel hanya menghela nafas panjang. "Pihak pelelangan akan menilai seberapa berkualitasnya racun yang kau miliki dan apa memenuhi syarat untuk masuk dalam barang yang dilelang. Jika iya, mereka akan memberi tawaran terendah lalu memasukan racunmu dalam urutan barang pelelangan."
"Tawaran terendah? Seberapa rendah itu?"
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
ξκύαε