
Qazi menancap gas secepat mungkin meninggalkan area hutan tersebut. Begitu memasuki jalan raya ia menambah kecepatan lagi. Kondisi jalan yang sepi memudahkan Qazi melajukan mobilnya sampai batas maksimum.
"Kau harus tetap terjaga. Jangan tutup matamu. Aku mohon," Daniel mendekap tubuh Lina di pangkuannya. Diusapnya lembut wajah yang terlihat lemah dengan mata setengah terbuka.
"Daniel... Jangan menangis," Lina berusaha mengusap air mata di ujung mata Daniel. Ia masih mencoba untuk tersenyum, walau darahnya telah memenuhi dress serta kursi mobil.
Daniel menggenggam tangan Lina yang terasa mulai dingin. "Ssutt... Jangan bicara lagi. Kau harus bertahan. Hiks... Hiks..."
"Jaga mereka untuk ku."
"Tidak, tidak Lina. TIDAK ! ! ! buka matamu, sayang! Jangan tinggalkan aku sendiri. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Percepat Qazi!"
"Ini sudah maksimal tuan muda."
Qazi mencoba mengendalikan mobilnya yang kini telah memasuki kawasan perkotaan. Mereka cukup beruntung jalanan tidak terlalu dipadati kendaraan. Qazi menurunkan kecepatan begitu memasuki kawasan rumah sakit. Ia menginjak rem tepat di depan pintu rumah sakit.
"Kita sampai tuan muda."
Daniel bergegas keluar dari mobil. Ia menerobos masuk pintu rumah sakit sambil mengbopong Lina, berteriak mencari Dokter.
"Dokter! Tolong dokter! Selamatkan istriku."
Beberapa suster berpakaian putih datang menghampiri Daniel dengan sebuah stretcher. Daniel membaringkan Lina perlahan di atas tempat tidur beroda itu. Dengan cekatan para suster mendorong stretcher itu menuju ruang UGD.
"Maaf tuan. Anda harus menunggu diluar," cegat salah satu suster kemudian ia menutup pintu.
Tak berselang lama Briety datang bersama Jony yang menggendong salah satu bayi Lina dan bayi lainnya bersama Briety.
"Daniel!" panggil Briety menghampiri.
"Ibu," Daniel berdiri dari kursi tunggu begitu melihat ibunya.
"Tuan muda," Jony Menyerahkan bayi yang ada dalam pelukannya pada Daniel.
"Silakan masuk tuan, nyonya. Kami akan memberi perawatan pada bayinya," kata salah satu suster membukakan pintu di ruangan sebelah.
Briety dan Daniel segera masuk ke ruangan tersebut. Di dalam, dua bayi Lina langsung diambil alih oleh suster disana untuk mendapatkan perawatan selanjutnya.
Norman, Jony dan Rey menghampiri Qazi yang berdiri bersandar di dinding dekat kursi tunggu yang berada tepat di depan ruangan.
"Bagaimana keadaan nona Lina?" tanya Jony pada Qazi. Ia duduk di kursi tunggu untuk melepas lelah.
__ADS_1
"Baru saja masuk ke ruang UGD. Tapi tumben kau bertanya seperti ini, Jony. Aku sangat mengenal dirimu, sifatmu itu hampir sama dengan tuan muda."
"Orang seperti tuan muda saja bisa dibuat nangis. Tapi jujur saja ini pertama kalinya aku merasakan perasaan kasihan pada seseorang. Gadis lembut seperti nona Lina tidak seharusnya merasakan penderitaan ini."
"Kau benar. Melihat perjuangan nona Lina melahirkan... Dia gadis yang baik. Aku tidak tega mendengar teriakannya yang memilukan di bangunan tua tersebut," sambung Rey.
"Nona Lina seperti kuncup bunga yang indah. Dengan pesonanya ia dapat mengubah sifat dingin seseorang. Ia merupakan sinar matahari yang menyinari kediaman dan memberi kehangatan," kata Norman.
"Aku juga merasa kasihan padanya. Melihatnya sampai di titik ini..." Qazi menatap senduh ke pintu UGD. "Aku percaya dia pasti baik-baik saja. Lina bukanlah gadis lemah seperti yang tampak di wajah lembutnya. Dia gadis hebat dan pemberani serta kuat. Dia tidak bisa disamakan dengan gadis lain diluar sana. Dia harus selamat."
"Sepertinya kalian semua mengkhawatirkan istriku," kata Daniel yang tidak mereka sadari telah berdiri di depan pintu mendengar percakapan mereka.
"Tuan muda?!" Norman, Rey dan Jony tersentak kaget dan segera berdiri.
"Ma, maafkan kami," kata Rey sambil membungkuk bersama yang lain.
"Ka, kami tidak bermaksud lancang," sambung Norman.
"Sudahlah. Tidak perlu minta maaf. Aku tidak bisa menyalahkan kalian jika mengkhawatirkan kucing kecil," Daniel melangkah dan duduk di kursi tunggu. "Apa yang kalian katakan benar. Kucing kecil membawa perubahan besar di kediaman. Aku tidak mau kehilangannya. Kehilangan sinar matahari yang menghangatkan."
"Tenang saja Daniel. Lina pasti akan baik-baik saja. Ia gadis yang kuat," ujar Briety yang keluar dari ruang bayi. Ia mengambil tempat duduk disamping putranya itu.
"Aku tidak dapat membayangkan kehilangan dia."
Daniel memperhatikan kemeja putih serta tanggannya yang masih penuh bercak darah. "Baiklah ibu."
"Norman, Rey, kalian pergilah ke butik terdekat untuk membeli pakaian ganti untuk kami. Jony, kau juga bersihkan dirimu."
"Bagaimana denganku, Ny. Flors?" tanya Qazi.
"Qazi, kau jaga mereka," tunjuk Briety pada ruangan bayi.
"E? Hah... Baiklah."
Baru beberapa langkah mereka beranjak dari tempat masing-masing, mereka dikejutkan dengan suster yang tergesa-gesa keluar dari ruangan tempat Lina dirawat.
"Yang mana diantara kalian suaminya?" tanya suster itu
"Saya suaminya," Daniel seketika maju. Ketegangan kembali di wajah mereka semua.
"Begini tuan. Istri anda kehilangan banyak dan kami kekurangan stok darah yang cocok untuk istri anda," jelas suster itu dengan cepat.
__ADS_1
"Ambil darahku. Golongan darahku sama dengannya."
"Baik. Ikuti saya."
Daniel segera mengikuti suster itu ke ruang lain. Satu kantung darah Daniel donorkan untuk Lina. Setelah mendapatkan stok darah yang diperlukan, suster tersebut kembali ke ruang UGD. Daniel menolak untuk beristirahat, ia mau menunggu istrinya tepat di depan pintu UGD. Ia juga menolak bujukan ibunya hanya sekedar mencuci taganSesekali Daniel mengintip dari balik kaca bundar yang ada di pintu.
"Daniel ! ! !"
Teriak Ducan sambil berlari membuat Daniel dan Briety menoleh. Tiba-tiba!
Bugk!
Satu pukulan mendarat di wajah Daniel dengan keras. Hal itu membuat Daniel tersungkur ke lantai. Ia memengangi rahangnya yang sakit dan menggusap bekas darahnya yang mengalir disana. Briety yang terkejut menutup mulutnya yang mengangah. Dengan geram Ducan menarik krah kemeja Daniel.
"Aku memintamu untuk mejaga putriku! Kenapa bisa jadi seperti ini?!! Kenapa kau tidak memberitahu ku?" bentak Ducan dan hendak menojok wajah Daniel lagi.
Briety dengan cepat menghadang. "Sudah cukup Ducan! Jangan pukul putraku lagi. Semua ini terjadi tidak terdunga. Kami juga tidak mau hal seperti ini terjadi!"
Daniel tidak melawan sama sekali. "Tidak ibu. Aku memang bersalah. Seharusnya aku selalu ada disampingnya. Ini semua salahku. Salahku. Pukul aku lagi Tn. Cershom. Aku memang pantas mendapatkannya!"
Ducan menggeretakan giginya lalu menghempaskan tubuh Daniel ke lantai. "Arrrgghh!!"
"Daniel!" Briety berjongkok di samping putranya dan mencoba membantunya berdiri.
"Jika terjadi sesuatu pada putriku. Jangan harap kau bisa melihat cucuku lagi. Akan aku bawa mereka keluar negeri!!" tunjuk Ducan pada wajah Daniel dengan sorot mata mengancam.
"Ducan kau tidak bisa melakukan ini! Daniel adalah ayah mereka."
"Bisa! Tentu saja aku bisa melakukannya dan tidak ada seorangpun yang dapat mencegatku. Briety, jika kau berada di posisi ku kau pasti akan melakukan hal yang sama," Ducan berbalik lalu duduk di kursi paling ujung. Ia menutup wajahnya kemudian berlalu meremas rambutnya.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
ξκύαε