
Julius dan Julia keluar dari kamar mereka secara mengendap-endap. Mereka pergi ke kamar orang tuanya untuk melakukan menyelidiki mengenai kenapa sikap orang tua mereka sedikit berbeda. Hal yang tidak terduga mereka temukan begitu mengikuti papa mereka iyalah Daniel mala masuk ke kamar tamu.
"Kenapa papa masuk ke kamar tamu?" tanya Julia sambil mengintipi dibalik tembok.
"Mungkin ada sesuatu yang papa ambil disana."
"Atau jangan-jangan papa dan mama memutuskan untuk pisah ranjang," kata Julia menebak-nebak.
"Jangan berpikiran yang aneh-aneh. Tidak mungkin papa dan mama sampai memutuskan untuk pisah ranjang."
"Lalu kenapa..."
"Sutt... Lihat, papa keluar."
"Hore! Mmph."
Julius seketika menutup mulut Julia sebelum mereka ketahuan. Tapi suara itu telah lebih dulu terdengar oleh papa mereka. Daniel menghampiri sumber teriakan senang itu.
"Julius, Julia. Apa yang kalian berdua lakukan disini? Kenapa kalian belum tidur?"
"Eh... Kami..." Julia sedikit kebingungan mencari alasan.
"Aku haus. Iya sangat haus."
"Benar. Dan kakak memintaku untuk menemaninya karna dia takut turun sendiri ke dapur," tunjuk Julia pada Julius dengan tatapan tanpa rasa bersalah.
"Apa?!" seketika Julius melirik tajam pada Julia.
"Jangan mulai. Ini sudah malam. Papa akan temani kalian berdua ke dapur, setelah itu kalian harus lekas tidur, okey."
"Iya papa."
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
Esok paginya, Julius dan Julia sudah bersiap dengan rencana mereka yang telah disusun semalam. Hari ini mereka akan melanjutkan penyelidikan mengenai perubahan sikap orang tua mereka yang terlihat masih berlanjut sampai pagi ini, saat sarapan. Rencananya Julia bertugas mengawasi gerak-gerik papanya di kantor, sedangkan Julius mengawasi mamanya yang cuti untuk pemulihan akibat kecelakaan.
"Lina, Aku sudah meminta Emma dan Judy untuk menggantikan mu mengurus semua pekerjaanmu. Jadi mulai hari ini, besok dan seterusnya kau harus istirahat baik-baik di rumah sampai kau benar-benar sehat. Atau sampai Qazi berhasil menemukan kucing kecil yang sebenarnya dan aku bisa menendangmu dari sini!" batin Daniel sambil menghirup kopinya.
"Iya."
"Aku berangkat kerja dulu. Julius, Julia, kalian jangan nakal di rumah."
__ADS_1
"Papa," panggil Julia sambil turun dari kursinya lalu berjalan mendekati papanya.
"Ada apa putri kecilku?"
"Em... Apa boleh aku ikut papa ke kantor hari ini?"
"Ikut ke kantor? Tapi papa ada meeting setelah jam makan siang nanti."
"Aah... Pokoknya mau ikut," rengek Julia.
Julia merenggangkan kedua tangannya minta digendong dengan ekspresi memohon. Daniel tidak bisa berkata 'tidak' jika putrinya sudah menggunakan tatapan itu.
"Hah... Baiklah," Daniel mengangkat Julia dan menggendongnya. "Tapi janji jangan mengacau ya. Jangan mencoba menyusup sistem keamanan perusahaan lagi."
"Seharusnya papa berterima kasih padaku. Berkat aku, lubang kecil itu bisa ketahuan."
"Jangan membuat papa mengingatkan apa yang kau lakukan setelahnya."
"Aku cuman main-main."
"Main-main. Kau membuat kekacauan besar di jaringan komputer perusahaan dan butuh waktu 12 jam untuk membereskannya kembali."
"Seharusnya aku tidak membiarkan Via mengenalkan komputer pada Julia di usia dini," batin Daniel.
"Bagaimana denganmu, Julius? Apa kau juga mau ikut?" tanya Lina (Violet) pada Julius yang duduk di hadapannya.
"Tidak. Terlalu membosankan di kantor. Aku mau main game saja hari ini."
"Sifat bocah ini sungguh mirip papanya waktu kecil. Aku rasa dia tidak mungkin akan mengganggu," pikir Violet.
Lina (Violet) mengantar kepergian Daniel sampai di depan pintu rumah. Ia membalas lambai Julia yang ada dalam gendongan Daniel begitu masuk ke mobil. Disaat mobil telah pergi menjauh, ia baru melangkah masuk. Dengan tidak ada adanya Daniel di rumah, Violet lebih leluasa bersikap seperti dirinya semula, tanpa harus berpura-pura.
"Hah... Beginilah seharusnya aku hidup sejak dulu," Violet membaringkan tubuhnya di tempat tidur dengan keadaan kaki masih menyentuh lantai. "Semua kekuasaan, kekayaan dan cintaku sekarang menjadi milikku seutuhnya. Tinggal bagaimana caranya aku menyingkirkan kedua anak Lina itu? Hmp! Aku tidak akan sudi merawat mereka dan harus bersikap baik pada mereka. Mungkin aku bisa meminta seseorang untuk menculik mereka dan sedikit menyiksa mereka, setelah itu baru membunuhnya. Maka hidupku akan sempurna. Aku akan memiliki anak bersama Daniel dan hidup bahagia. Lina pasti menangis di alam sana melihatku berhasil merebut semua miliknya. Ngomong-ngomong soal Lina. Bawahan yang kusuruh semalam untuk mencari mayatnya itu kenapa belum kunjung memberi kabar ya?"
Violet bangkit dari tempat tidur, mengeluarkan hpnya lalu mengubungi bawahannya. Sambil menunggu telpon diangkat, ia berjalan menuju balkon kamar tersebut. Tak lama telpon diangkat.
"Iya nona. Ada perlu apa?"
"Kau bertanya, ada perlu apa? Seharusnya aku yang minta penjelasan darimu! Bagaimana pekerjanmu? Apa kau sudah menemukan mayat Lina?"
"Mohon maaf nona, kami belum menemukan mayatnya. Kami berspekulasi kalau mayat wanita itu mungkin telah diterkam buaya. Kami menemukan ada satu, dua buaya berukuran cukup besar disini," kata anak buah Violet mencari alasan. Mereka tidak benar-benar mencari mayat Lina dikarenakan takut terjun ke sungai itu setelah melihat seekor buaya berenang disana.
__ADS_1
"Apa kalian sungguh yakin?"
"Sa, sangat yakin nona."
"Jika memang sudah diterkam buaya, temukan pakaiannya atau cari bukti lain kalau dia mamang sudah mati! Jika tidak ketemu maka kalian lah yang akan aku jadikan santapan buaya! Mengerti?!!"
"I, iya nona."
Dengan kesal Violet memutuskan telponnya. "Dasar orang-orang tidak becus! Mencari seonggok daging saja tidak bisa."
Jam 09.01 Ducan datang setelah mendapat kabar kalau putrinya mengalami kecelakaan. Dengan sekeranjang buah dan kue jahe, ia dipersilakan masuk oleh salah satu pelayan yang membukakan pintu. Pelayan tersebut mempersilakan Ducan duduk namun Ducan lebih memilih langsung naik saja menuju kamar Lina (Violet). Violet yang sedang duduk santai memainkan hpnya sangat terkejut atas kehadiran ayahnya.
"Ayah?!"
"Lina," Ducan seketika langsung memeluk Lina (Violet). "Bagaimana bisa kau kecelakaan? Kenapa tidak memberitahu ku lebih awal?" Ducan melepaskan pelukannya dan mengaja Lina (Violet) duduk.
"Maaf ayah, aku tidak bermaksud tidak memberitahu mu. Aku terlalu lelah semalam dan... Hpku masih ada di Daniel."
"Lalu hp itu?" tunjuk Ducan pada hp yang tergeletak disamping Lina (Violet).
"Eh... Ini hpku yang lain. Maaf, aku lupa menyimpan no ayah di hp ini," kata Lina (Violet) mencari alasan secepat mungkin.
"Oh, iya. Aku bawakan buah-buahan dan kue jahe kesukaan mu," Ducan menyodorkan keranjang yang ia bawa pada Lina (Violet).
"Te, terima kasih ayah," Lina (Violet) menerima keranjang itu dengan senyum dipaksa. "Iii... Yang benar saja Lina menyukai kue dengan rasa pedas ini. Selerahnya masih saja kampungan, tidak perna berubah. Benar-benar tidak cocok mewarisi rumah lelang Red Krisan."
"Kakek? Kapan kakek datang?" tanya Julius yang berdiri di depan pintu kamar.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε
__ADS_1