Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Teman berharga


__ADS_3

"Apa sebab itu kau memanggil kakakmu barusan?" tebak Daniel.


Julia menganguk pelan. "Em... Apa itu cuman mimpi? Aku harap iya," ia menoleh pada Julius dan baru menyadari ada selang infus tersemat di punggung tangan Julius. "Tu, tunggu dulu... Selang infus? Kakak, apa kau sungguh terluka?"


"Ah, bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Seharusnya kau lihat dirimu. Untuk berbicara saja kau selemah ini."


"Apa yang terjadi padamu?" tanya Julia dengan raut wajah khawatir.


"Cuman luka ringan. Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku. Kakak mu ini tidak selemah yang kau kira."


Julia kembali memejamkan matanya. Ia menarik nafas panjang, menahannya sebentar lalu menghembuskannya perlahan. Keadaan menjadi sunyi untuk beberapa saat.


"Julia, mama periksa dulu kondisi tubuhmu, ya."


Julia membuka matanya lalu melirik ke mamanya. Persis seperti apa yang dilakukannya pada Julius, Lina memeriksa kondisi kesehatan Julia. Julius telah kembali ke tempat tidurnya dan membaringkan diri disana. Tubuhnya juga masih lemah dan memang harus banyak-banyak istirahat. Karna dilanda kantuk, lama-kelamaan Julius malah tertidur.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Daniel setelah Lina selesai melakukan pemeriksaan pada Julia.


"Iya, keadaannya sudah mulai membaik. Cuman Julia memerlukan satu kantong darah lagi agar bisa cepat sembuh. Ia benar-benar kehilangan banyak darah akibat luka itu."


"Pihak rumah sakit bila stok darah yang mereka pesan di bank darah akan sampai sebelum atau mungkin sesudah jam makan siang ini. Harap-harap sebentar lagi sampai," Daniel membelai rambut Julia. "Bersabarlah ya putri ku. Papa rindu tawa ceriamu."


"Kak Julia," panggil Adelia sambil menyodorkan rangkaian bunga.


"Apa yang kau berikan ini Adelia?" Julia masih belum sanggup mengangkat tangannya untuk menerima rangkaian bunga tersebut.


"Ini adalah rangkaian bunga untuk menyambut kesembuhan kak Julia," Adelia meletakan rangkaian bunga itu di atas meja. "Bagus, bukan?"


"Iya, sangat indah. Terima kasih."


"Ya... Kak Julius sudah tidur. Ia tidak bisa menerima rangkaian bunganya," kata Adelio yang berdiri di samping tempat tidur Julius dengan rangkaian bunga di tangannya.


"Kakakmu masih lemah, Adelio. Ia memang perlu banyak-banyak istirahat. Saat ia bangun nanti barulah kau berikan rangkaian bunga itu," kata Lina.

__ADS_1


"Ternyata itu yang sendari tadi kalian buat."


"Iya. Agar kak Julius dan kak Julia bisa cepat sembuh," ujar Adelia.


Julia tersenyum mendengarnya. Ia sekuat tenaga mengangkat tangannya untuk membelai wajah Adelia. Walau sulit namun ia berhasil meletakan telapak tangannya di pipi Adelia. Julia membelai lembut pipi adiknya itu sampai turun ke liontin kunci yang melingkar di leher Adelia. Ditatapnya lama liontin tersebut.


"Mau seberapapun kuatnya rahasia dijaga, tetap saja masih ada orang yang mau berusaha untuk mengetahui. Benda kecil ini begitu diicar semua orang. Aku merasa kalau pilihanku tepat membiarkan Adelia yang menyimpannya. Setidaknya mereka mengira kalau aku lah pemilik dari liontin ini. Maka dengan begitu mereka akan lebih mengincarku dari pada Adelia."


"Memangnya apa yang spesial dari liontin yang mama wariskan ini? Kenapa kakak bilang banyak yang mengincarnya?" tanya Adelia. Sejauh ini Adelia belum tahu kalau liontin yang ia kenakan merupakan bagian dari token rumah lelang Red Krisan.


"Suatu hari kau akan tahu betapa berharganya liontin itu."


"Apa karna ini alasannya? Ternyata selama ini mereka sebenarnya mengincar liontin kunci," kata Lina.


"Iya," jawab Julia tanpa suara. Ia terlihat ngantuk.


"Sebaiknya kau tidurlah dulu, Julia. Kau sepertinya ngantuk sekali," saran Daniel.


Julia mengangguk sekali lalu ia memejamkan matanya dan mulai tertidur. Lina membantu menarikkan selimut untuk menutupi tubuh Julia.


"Iya," jawab Lina dengan anggukan.


"Syukurlah, aku merasa lega mendengarnya."


"Nisa, terima kasih telah selalu mendampingi Julia. Karna melihatmu ia dapat mengingat semuanya. Aku tidak bisa membayangkan jika Julia terpaksa harus bergantung pada obat-obatan lagi."


"Karna melihatku?"


"Itu benar. Dulu dia juga perna seperti ini. Setelah sadar dari koma selama tujuh hari, Julia tiba-tiba tidak mengingat apa yang terjadi. Ia linglung dan terlihat mencari seseorang namun sama sekali tidak menemukannya. Seseorang yang dapat membantunya mengingat semuanya, yaitu teman berharganya. Sepertinya mulai dari sekarang kau merupakan teman berharga baginya saat ini."


"Aku..." Nisa berhenti sebentar sambil menatap wajah Julia yang tertidur. "Sejujurnya aku juga telah menganggap Julia sebagai teman paling berharga bagiku. Karna dia telah membawa kehangatan yang dulu sempat hilang dalam hidupku. Aku tidak dapat membayangkan jika harus kehilangan dia. Mungkin hidupku akan kembali suram."


"Julia tidak cukup beruntung jika soal mendapatkan teman setia. Kepribadiannya memang ceria dan mudah bergaul pada siapapun tapi semua itu cuman sebatas teman kenalan atau berteman karna mengetahui status kami. Ia tidak perna mendapatkan teman yang benar-benar saling mengerti dan peduli pada sesama kecuali Gerda. Sejak kepergian Gerda, aku sering melihat Julia melamun sendirian sambil menatap kosong ke depan. Tapi setelah mengenal dirimu, Julia ku sepertinya sudah kembali seperti dulu. Apa kau perna melihat tingkah anak-anak yang tidak terkontrol?"

__ADS_1


"Julia memang suka bermanja di berbagai kesempatan. Perna diakhir pekan kami jalan-jalan menyelusuri kota. Ia terlihat sangat bahagia mendatangi setiap toko yang menyediakan makanan manis. Kami sungguh kerepotan meladeni kemauannya, jika dilarang pun ia akan merengek seperti anak kecil."


"Merengek. Hihi..." Lina tertawa begitu mengingat kembali raut wajah Julia ketika merengek menginginkan sesuatu. "Sudah lama sekali aku tidak melihatnya seperti itu. Itulah yang aku ridukan dari dirinya. Apa kau tahu? Jika Julia sudah memperlihatkan sifatnya yang satunya ini, itu berarti kalian merupakan teman-teman istimewanya."


"Apa benar begitu? Aku rasa sifatnya itu spontan muncul saat melihat kudapan manis."


"Tidak," Lina menghela nafas panjang. Ia mengapai kedua tangan Nisa dan menatap dalam matanya. "Nisa, bisa kau berjanji padaku?"


"Janji? Janji apa?"


"Aku mau kau berjanji akan selalu menjadi teman Julia biar apapun yang terjadi. Bisa kah kau menjanjikan itu untukku? Aku meminta ini bukan sebagai Ny. Flors tapi sebagai mamanya Julia."


"Ny. Flors tidak perlu seperti ini. Aku pasti akan selalu menjadi teman Julia karna dia merupakan matahariku. Tapi..." Nisa tampak ragu-ragu mengatakannya. "Em... Aku ada satu permintaan."


"Katakan saja, apapun itu sebisa mungkin aku akan memberikannya padamu."


"Aku ingin jadi lebih kuat agar bisa melindungi temanku. Aku tidak mau terus menjadi bebannya dan malah menyusahkan nya. Aku ingin menjadi teman yang berguna dan dapat bertarung bersamanya."


"Oh, sesuatu permintaan yang terbayangkan olehku. Tapi kau tenang saja Nisa. Selama kau memiliki tekat serta semangat yang kuat, aku jamin kau pasti bisa menjadi lebih tangguh dan hebat."


"Terima kasih Ny. Flors."


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


ξκύαε


__ADS_2