
Diruang bersantai yang berhadapan langsung dengan taman belakang. Ruangan dengan hampir keseluruhan dindingnya merupakan kaca transparan yang memungkinkan siapapun duduk disana dapat menikmati pemandangan taman yang berada disisi kiri. Tepat di depannya merupakan rumah kaca yang digunakan Lina untuk menanaman tanaman beracun dan tanaman herbal.
"Julia! Singkirkan semua bonekamu dari objek penelitian ku," kata Julius sambil mendorong semua boneka Julia yang ada di atas meja menjauh dari eksperimennya tentang racun.
"Objek penelitian kakak lah yang masuk wilayaku," Julia kembali meletakan semua bonekanya di atas meja.
"Aku yang duluan disini."
"Tidak. Ini tempatku. Aku biasa main disini."
Mereka terus saling mendorong barang mereka masing-masing. Sepertinya ukuran meja yang luas itu masih tidak cukup besar untuk mereka berdua berbagi. Karna terus saling mendorong, Julia tanpa sengaja menjatuhkan tabung kaca yang berisi racun yang sedang diteliti kakaknya itu. Tabung kaca tersebut pecah dan menumpahkan semua apa yang ada di dalamnya.
"Julia! Apa kau tahu? Aku sudah mengerjakan ini selamat tiga hari. Bisa-bisanya kau menjatuhkannya begitu saja," bentak Julius karna kerja kerasnya selama tiga hari ini hilang seketika.
"Salah sendiri berebut tempat denganku," Julia mendengus kesal dengan wajah cemberut.
"Kau itu memang sengaja ya? Banyak tempat di rumah ini. Kenapa kau harus bermain disini?!!"
"Ini tempat favorit ku. Lagian kakak yang kenapa melakukan penelitian disini? Kenapa tidak di laboratorium saja?"
"Tempat ini dekat dengan kebun herbal dan racun, serta pencahayaannya juga bagus. Mama sering mengajari ku disini."
"Bibi Via dan papa juga sering mengajari ku disini. Pokoknya ini tempat aku!"
"Aku lebih tua dari mu!"
"Cuman 15 menit. Sebab kau kakak lah yang harusnya mengalah pada adik!"
"Kau adik yang maunya menang sendiri. Aku sudah sering mengalah padamu."
"Sudah seharusnya. Itulah tugas kakak. Menjaga dan mengalah untuk adiknya."
"Kau adik yang menyebalkan! Aku mau adik lain!"
"Apa?! Tidak bisa! Akulah yang seharusnya punya adik!"
"Julius, Julia, apa lagi yang kalian berdua pertengkarkan sekarang?" tanya Lina yang baru pulang dari rumah sakit. Dengan masih mengenakan jas putih panjangnya, ia menghampiri putra-putrinya begitu mendengar pertengkaran mereka lagi. "Kalian berdua itu bersaudara. Tidak baik bertengkar terus setiap harinya."
"Mama!" teriak mereka bersamaan sambil berlari lalu melompat dalam pelukan Lina. Hal itu membuat Lina sampai terduduk.
"Oh... Astaga. Kalian semakin berat."
"Mama, mama, aku mau adik baru," kata Julius tiba-tiba.
"Apa?!" mendengar itu membuat Lina cukup terkejut
"Tidak. Yang seharusnya punya adik itu aku," protes Julia.
__ADS_1
"Kau itu sudah cukup memiliki Gina. Kalian bisa bermain seharian. Aku ingin adik laki-laki agar aku ada teman bermain."
"Kakak bisa bermain dengan paman Qazi, bukannya memang selalu begitu. Gina tidak setiap hari datang kesini. Pokoknya aku ingin adik perempuan."
"Tidak! Adik laki-laki."
"Adik perempuan! Mama harus hamil adik perempuan."
"Adik laki-laki!"
"Adik perempuan!"
"Sudah, sudah cukup. Berhenti bertengkar!" lerai Lina menjauhkan Julius dan Julia. Ia sedikit meninggikan suaranya.
"Julius, Julia," kali ini Daniel yang memanggil mereka. Ia baru pulang dari kantornya.
"Papa!" teriak mereka bersamaan. Sama sepertinya sebelumnya, mereka melompat ke arah papanya. "Papa, papa, kami mau adik baru!" kata mereka membuat Daniel terkejut.
"Hah?! Kalian mau seorang adik?"
"Iya. Aku mau adik perempuan."
"Tidak. Adik laki-laki."
"Jika kalian ingin seorang adik, maka bicaralah pada mama kalian," lirik Daniel pada Lina yang baru saja berdiri.
"Iya. Mama pasti mau jika papa yang membujuknya," sambung Julia sambil mengeluarkan ekspresi andalannya.
"Biarpun mama kalian mau, bagaimana bisa memenuhi permintaan kalian berdua secara bersamaan?"
"Aku tahu. Mama bisa hamil bayi kembar lagi seperti kami," saran Julia.
"Ide bagus," kata Julius seketika menyetujuinya.
"Apa yang kalian bertiga bisikan?" tanya Lina dengan aura dingin. Hal itu membuat ketinganya seketika merinding.
"Ti, tidak ada."
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
Setelah makan, Lina menyempatkan diri bermain sebentar bersama Julius dan Julia sampai mereka tertidur di pertengahan cerita dongeng. Lina mengecup kening dari masing-masing mereka lalu melangkah pelan menghampiri Daniel yang berdiri di depan pintu. Daniel menutup perlahan pintu kamar putra-putrinya itu, kemudian merangkul bahu istrinya kembali ke kamar.
Di kamar, Daniel tiba-tiba memeluk Lina dari belakang. Ia menyandarkan dagunya di bahu Lina. "Mereka tubuh menjadi anak-anak yang manis."
"Dan nakal. Setiap hari selalu saja bertengkar cuman karna masalah sepele, dan hari ini mereka mala ingin seorang adik. Hah..." Lina hanya bisa menghela nafas panjang.
"Ngomong-ngomong soal itu. Bagaimana kalau kita berikan untuk mereka? Aku juga merindukan mengelus perut besarmu dan merasakan tendangan kecil di telapak tanganku," kata Daniel dengan kedua tangan mengelus perut Lina yang datar.
__ADS_1
Lina berbalik lalu merangkul leher Daniel. "Mereka yang ingin atau kau yang ingin?"
"Kau, kau tahu mereka, bukan? Jika mereka menginginkan sesuatu pasti akan dibahas terus sampai mereka mendapatkannya," Daniel sedikit memalingkan pandangannya dari dua mata itu.
"Tapi mereka menginginkan adik laki-laki dan perempuan, bagaimana caranya?. Serta memberi mereka seorang adik juga tidak membuat kenakalan mereka menghilang. Aku takut mereka mala akan bertengkar dengan adik mereka nanti."
"Apa artinya kau tidak bersedia hamil lagi?"
Dengan senyum di wajahnya, Lina berjingkat agar bisa berbisik di telinga Daniel. "Jika kau menginginkan aku hamil lagi maka tangkaplah aku," setelah mengatakan itu, ia berlari menjauh.
"Baiklah," Daniel melepaskan dasinya siap menerima tantangan.
Dari sisi lain kamar, Lina memberi isyarat menggunakan jarinya menggoda Daniel untuk mendekat. "Kemari lah, sayang."
"Kau yang memintanya."
Di kamar itu, mereka berdua terlibat aksi kejar-kejaran. Berkat tubuh Lina yang kecil memungkinkan dia dapat bergerak lebih lincah menghindari kejaran Daniel. Dan keuntungan lainnya juga, Lina dapat membebaskan diri jika terpojok seperti melalui celah sempit antara sofa atau sesekali bersembunyi.
"Kucing kecil dimana kau? Kenapa kau bersembunyi?" teriak Daniel begitu mendapati Lina tidak terlihat. Ia celingak-celinguk mencari istri kecilnya itu.
"Daniel," panggil Lina dengan nada manja.
Mendengar suara itu membuat Daniel menoleh. Betapa terkejutnya ia melihat Lina yang bersandar di lemari. Bukan karna terkejut Lina tiba-tiba ada disana tapi melainkan karna pakaian Lina yang telah berganti. Sebuah Lingerie brokat transparan berwarna putih dengan tambahan bando bertelinga tikus membuat Daniel tidak berkedip.
"Darimana kau mendapatkan pakaian itu?"
"Tidak perlu tahu. Ayok tangkap aku kalau kau bisa, kucing," Lina menggoda suaminya dengan memamerkan lekuk tubuhnya yang indah.
"Oh... Kau mau memerankan sekor tikus dan aku kucingnya. Jangan menyesal nantinya ya. Akan kubuat kau lelah malam ini."
"Benarkah? Kau menangkap ku saja tidak bisa. Bagaimana kau membuatku lelah?"
"Kemari kesini kau kudapan manis."
.
.
.
.
.
.
ξκύαε
__ADS_1