Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Persaingan


__ADS_3

"Kau tahu banyak, Jeffri?"


"Aku tahu dari desas-desus di Casino yang dikelola ayahku. Secara umun tamu yang datang sebagian besar adalah anak buah dari bos-bos besar. Disaat mereka mabuk anggur, mereka tentu tidak sadar atas apa yang mereka ucapkan."


"Tempat itu pasti cocok untuk mengumpulkan informasi," batin Julius. "Jeffri, kapan-kapan boleh kami berkunjung ke Casino milik keluargamu?"


"Tentu boleh. Bagaimana kalau akhir pekan ini kita pergi ke kota?"


"Sepakat."


"Apa yang ingin kau lakukan disana? Mencari informasi?" tanya Carl berbisik pada Julius.


"Jika iya, aku juga tidak berhak memberitahukannya padamu, bukan?"


"Aku sangat menghargai rahasia teman. Aku tidak akan bertanya jika kau memang tidak bersedia menjawab. Tapi aku sarankan sebaiknya jangan sampai ketahuan oleh Jeffri."


"Terima kasih nasehatnya. Aku akan mengingat itu."


"Oh, iya. Apa kalian tahu kalau sebenarnya siswi yang disampingnya itu adalah pengawal pribadi dari tuan muda Arlo?" kata Jeffri sambil melirik pada gadis yang ia maksud.


"Apa iya? Jika dilihat sekilas gadis itu terlihat tidak seperti memiliki kemampuan sama sekali," Carl sedikit meragukan ucapan temannya itu.


"Jangan nilai seseorang dari penampilannya. Jika keluarga Arlo yang kalian kenal memang sangat hebat tentunya mereka tidak akan sembarangan memilih gadis cantik sebagai pengawal pribadi. Mereka pasti sudah memastikan kemampuan dari gadis tersebut."


"Kau benar juga Julius."


Acara kembali berlanjut disaat tuan muda Arlo pergi. Ia dan pengawal pribadinya (bisa dibilang begitu) pergi menuju ruang khusus yang tersedia dilantai tiga bangunan sekolah. Disana sudah ada tuan muda dan nona dari asrama khusus yang ikut menyaksikan keberlangsungan acara penyambutan siswa/siswi baru.


"Selamat datang tuan muda Arlo," sapa Rica sambil sedikit membungkuk dengan senyum diwajahnya.


"Oh, bukankah ini adalah putri dari keluarga Pinkston?"


"Iya. Aku sangat senang tuan muda masih mengingat ku," raut wajah Rica terlihat tersipu malu.


"Tentu aku tidak akan lupa dengan wajah cantikmu ini."

__ADS_1


"Aah, tuan muda membuatku malu."


"Hei, bagaimana denganku? Apa tuan muda masih ingat denganku? Tidak mungkin kau seketika melupakan aku, kan?" tanya Delfa yang ada disamping Silvi.


"Kalau tidak salah kau adalah Delfa, putri tunggal keluarga Kluger, benar bukan?'


"Tepat," jawab Delfa sambil mengacungkan jempolnya.


"Apa yang sedang dilakukan dua orang itu?" tanya tuan muda Arlo sambil menujuk dua pria yang terlihat asik menatap keluar jendela.


"Apalagi kalau bukan melirik siswi-siswi baru dibawah sana," ujar Delfa.


"Cikh! Padahal siswa dan siswi tahun ini kebanyakan dari kalangan menengah kebawah. Hah... Pihak sekolah sekarang semakin sembarangan merekrut murid baru."


"Tapi tadi aku sempat dengar dari beberapa siswi, ada seorang siswa yang ketampanannya tiada tara, tubuh tegap profesional, berambut hitam dengan mata biru tajam nya. Hm... Aku bisa membayangkan pria itu. Ingin sekali aku bertemu dengannya secara langsung. Aku ingin membuktikan apa ia memang benaran tampan seperti yang dirumorkan saat ini."


"Aku tidak peduli seberapa tampan ia. Tujuanku adalah tuan muda kaya raya seperti tuan muda Arlo," lirik Rica pada tuan muda Arlo yang telah menghampiri dua temannya.


"Tapi aku sangat penasaran sekali melihat seberapa tampan ia. Jika rumor itu benar, aku tidak mengapa kalau ia berasal dari kalangan bawah."


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


"Alwen! Sean!" sapa tuan muda Arlo.


"Yusra?! Kapan kau sampai?" tanya pria berambut pirang yang bernama Sean.


"Kalian berdua sepertinya begitu asik melihat gadis-gadis dibawah sana sampai tidak menyadari kedatanganku," Yusra ikut melirik ke bawah tempat dimana acara berlangsung. "Memang gadis mana yang menjadi begitu menarik perhatian kalian."


"Siswi yang duduk dipojokan belakang dekat vas bunga itu," tunjuk Alwen.


Yusra mengikuti arah telunjuk Alwen. "Dia lumayan manis."


"Bukan manis saja tapi kemarin itu ia dengan beraninya mempermainkan Rica di taman belakang. Kejadiannya seruh sekali. Andai kau datang lebih awal untuk melihatnya secara langsung."


"Gadis itu tidak tahu dengan siapa ia berurusan. Rica pasti sudah memberi pelajaran yang tidak bisa dilupakan olehnya."

__ADS_1


"Hahaha... Inilah yang uniknya. Bahkan Rica saja tidak bisa berbuat apa-apa karna gadis itu mengancam akan menyebarkan video memalukan Rica ke media sosial," tawa Sean dengan lucunya.


"Bukan kah dia hebat? Sebab itu aku dan Sean bertaruh. Siapa yang berhasil memenangkan hatinya maka yang kalah harus menyerahkan mobil kesayangannya pada si pemenang."


"Sepertinya menarik. Aku juga ikut."


"Apa?! Kau juga mau ikut, Yusra?" Alwen tampak sedikit terkejut mendengarnya


"Iya. Aku bisa pastikan ia akan jatuh ke tanganku. Mendengar sedikit cerita dari kalian, aku berpendapat kalau gadis ini sulit ditaklukan tapi aku sangat suka tantangan."


Sementara itu. Rica tampak kesal begitu menguping pembicaraan ketiga pria yang terlihat bersaing ingin memenangkan hati Julia.


"Sial! Kenapa mereka bertiga malah memperebutkan gadis rendahan itu! Seharusnya aku yang mereka perebutkan disini," gerutu Rica dalam hati. "Ini tidak boleh dibiarkan. Aku harus memberi pelajaran pada gadis rendahan itu agar ia tahu tempatnya seharusnya berada. Dan para pangeran ini akan kembali memuja kecantikan ku. Lihat saja nanti gadis rendahan, kau akan mengalami masa sekolah yang penuh penderitaan."


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Selesai acara pembukaan, para siswa dan siswi tahun ajaran baru dipersilakan menuju kelas masing-masing yang telah dibagi sebelumnya secara acak. Julia masuk ke kelas 1 C sedangkan Julius masuk ke kelas 1 A. Dari awal pembagian kelas sebenarnya Julius dan Julia berada dalam satu kelas yang sama, tapi mereka sudah sepakat selama berada dilingkungan sekolah mereka akan bersikap tidak saling kenal antara satu sama lain. Jangan tanya mengapa, karna kita tahu hubungan kakak adik ini memang tidak akur. Sebab itu Julia meminta tukar kelas pada pihak sekolah.


Dikelas, Julia mendapat kursi pada bagian belakang sekali di dekat jendela, bersebelahan dengan Nisa. Iya, Nisa. Mereka satu kelas ternyata. Julia tampak sangat senang karna satu kelas bersama teman sekamarnya. Kepribadian yang ceria membuat Julia mudah bergaul dan akrap dengan seluruh teman sekelasnya. Sebelum wali kelas mereka datang, Julia sudah mengenal hampir sebagian besar murid di kelas tersebut.


Sementara itu, Julius tidak perlu bersikap ramah tama pada semua karna semua siswi dikelasnya memuja ketampanan dan sikap dinginnya itu. Sedangkan sebagian siswa iri hati padanya. Mereka beranggapan kalau semua siswi ini terlalu berlebihan dalam memuja Julius. Mereka merasa tidak jauh berbeda dengan Julius, apalagi soal kekayaan. Itu menurut mereka sih. Seperti biasa Julius tidak terlalu mempersoalkan mereka. Terserah mereka mau berkata seperti apapun, Julius tidak peduli. Lebih baik fokus pada pelajaran.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε

__ADS_1


__ADS_2