
Sore harinya, Lexi sudah bersiap-siap untuk pergi ke undangan makan malam dari Daniel. Ia tampil begitu menyilaukan dengan semua benda yang ia kenakan. Mulai dari gaun merah terang, perhiasan dengan berbagai batu mulia yang mewah, tas dan sepatu dari salah satu brand internasional. Rambut pirang keriting itu telah tertata rapi. Wajahnya juga sudah dipenuhi make up tebal untuk mempercantik diri. Parfum yang ia semprotkan ke tubuh sudah menyebar sejauh jangkauan penciuman manusia. Dengan senyum mengembang Lexi memperhatikan pantulan bayangan dirinya di cermin. Ia siap memikat sang pujaan hati.
"Adikku cantik sekali hari ini," puji kakaknya.
"Tentu saja, untuk malam istimewa ini aku harus tampil cantik. Daniel pasti terpana melihat kecantikan ku," kata Lexi sungguh sangat percaya diri.
"Cepatlah berangkat. Jangan membuat sang pangeran lama menunggu."
"Ia mengirim seseorang secara khusus untuk menjemput ku malam ini."
"Benarkah? Ia pasti jatuh cinta pada pandangan pertama sampai berbuat seperti itu untukmu."
"Aku sedikit gugup kak."
Tin!
Suara klakson mobil terdengar dari luar. Refleks mereka menoleh ke jendela.
"Itu pasti jemputanmu untuk menghadiri kencan romantis kalian. Ayok cepat pergi," Rylie mendorong adiknya itu turun ke bawah sampai di depan pintu.
"Aku berangkat dulu kak," kata Lexi setelah mencium pipi kakaknya.
Lexi berjalan mendekati sebuah mobil hitam elegan yang telah terpakir di depan rumahnya. Seorang pengawal membukakan pintu untuknya mempersilakan masuk ke mobil.
"Semoga berhasil!" teriak Rylie sambil melambai ke arah mobil yang kini mulai melaju di jalan.
__ADS_1
Tepat jam 18.30 mobil memasuki kawasan perumahan elit. Mobil berhenti disebuah rumah tiga lantai bernuansa futuristis. Lexi sedikit tercengang melihat kemegahan rumah tersebut. Ingin sekali ia masuk dan menjelajahi setiap bagian rumah itu namun para pengawal telah memintanya untuk langsung ke taman belakang karna Daniel telah menunggunya disana. Tidak apa lah, jika ia sudah menjadi pacar Daniel bahkan rumah ini bisa dimilikinya.
Di halaman belakang Lexi disambut oleh ratusan lampu kecil yang menerangi jalannya. Tepat di ujung jalan, telah tersedia sebuah meja makan dengan peralatan makan lengkap di atas nya dan dihias sedemikian rupa. Lexi sangat bahagia. Ia tidak menyangka Daniel bisa seromantis ini menyiapkan semuanya.
"Selamat malam nona Lexi."
Kata seseorang dibelakangnya yang membuat Lexi menoleh. Daniel berjalan mendekat dengan setelan jas biru gelap. Lexi lah yang terpana melihat ketampanan pria di depannya.
"Malam juga untukmu."
Seketika Lexi merangkul leher Daniel dan memberi satu kecupan di pipinya sebagai ucapan selamat datang. Daniel berusaha menahan untuk tetap tersenyum. Benar-benar, selain Lina ia tidak bisa tahan jika seorang wanita sedekat ini dengannya. Ingin rasanya ia mendorong gadis ini menjauh darinya sejauh mungkin namun Daniel harus bertahan demi rencana selanjutnya.
"Mari duduk. Kita nikmati hidangan dari koki yang secara khusus aku undang dari restoran sebelah rumah. Eh, maksudku restoran bintang lima," ujar Daniel sambil mempersilakan duduk.
Sementara itu. Lina dan Qazi baru pulang ke rumah setelah matahari terbenam. Mereka pulang terlambat dikarnakan Richard mentraktir Lina dan Ira makan di sebuah restoran milik keluarganya. Mereka tidak bisa menolak ajak tersebut. Qazi ikut di traktir bersama juga dengan menyamar sebagai kakak jauh Lina. Richard memang sedikit bertanya-tanya kenapa penampilan Lina berubah dan sekarang ada seorang pria yang selalu mengantar jemput Lina. Apa ini alasan Lina menolak cintanya? Apa Lina telah memiliki kekasih? Cuman satu yang pasti dalam benak Richard, yaitu Qazi bukanlah orang tersebut.
Lina sudah memberitahu Daniel soal ini, dan anehnya Daniel langsung menyetujui itu begitu saja. Tidak seperti biasanya. Setiap pagi Daniel selalu menekankan Lina untuk tidak pergi kemanapun dan memerintahkan Qazi senantiasa mengawasinya. Gerak gerik Lina diluar rumah selalu di awasi ketat oleh Qazi. Lina memang sedikit risih akan hal ini, walau ia tidak perlu lagi berpura-pura lugu di depan Qazi namun tetap saja terus di awasi seperti ini membuat Lina merasa tidak nyaman.
Lina melangkah masuk ke dalam rumah dan mendapati keadaan rumah yang sepi. Tidak ada satupun orang disini. Kemana mereka? Dengan sedikit kebingungan Lina berjalan pelan menuju kamarnya yang ada di lantai dua. Ia masih tidak menemukan satupun orang di sepanjang jalan menuju kamarnya. Apa ada sesuatu yang terjadi?"
Saat hendak menutup tirai jendela kamarnya ia mendapati sesuatu yang asing di halaman belakang. Tidak seperti biasanya ada ratusan lampu kecil menghiasi taman belakang. Apa itu ada hubungannya dengan hilangnya semua orang di rumah? Karna penasaran yang besar, Lina turun ke bawah untuk mengecek apa yang terjadi disana. Begitu sampai, ia sedikit dibuat kagum dengan dekorasi taman yang sangat cantik. Namun, kemudian ia mala dikejutkan dengan Daniel yang sedang makan malam bersama seorang gadis. Melihat itu entah mengapa membuat hatinya terasa sakit.
"Bukankah rumor mengatakan seorang Daniel Alcander Flors tidak perna terlihat dekat dengan seorang wanita. Tapi mengapa, sekarang dia... Tidak! Apa yang aku pikirkan?!! Jika ia mau dekat dengan seorang gadis, silakan saja! Itu, itu bukan urusanku. Lagi pula akukan cuman kekasih palsu nya," dengan kepala tertunduk Lina melangkah mundur.
"Maaf. Aku, aku tidak bermaksud mengganggu kalian," Lina berbalik hendak pergi meninggalkan mereka berdua.
__ADS_1
"Tunggu!" ujar Lexi membuat langkah Lina terhenti. Lexi berdiri berjalan mendekati Lina. "Siapa kau? Berani sekali kau mengganggu makan malam ku dengan Daniel. Apa kau pelayan baru disini?"
"Iya. Saya cuman sekedar pelayan. Sa, saya benar-benar minta maaf karna telah mengganggu. Saya akan segera pergi," kata Lina masih tertunduk.
"Ada apa dengan kucing satu ini? Kenapa tiba-tiba menganggap dirinya sebagai pelayan? Apa perlakuanku kurang baik di mata nya? Atau... Jangan-jangan kucing ini cemburu? Tapi biarpun begitu seharusnya ia membalas, bukanya minta maaf," pikir Daniel.
"Menurutmu minta maaf saja sudah cukup?!!" bentak Lexi lalu tiba-tiba menyiramkan anggur yang ia bawa di tangannya tepat ke atas kepala Lina. "Sekarang kau boleh pergi."
"Wau... Aku harap kucing ini memberi pelajaran pada gadis satu ini, mungkin dengan menggunakan salah satu racunnya," batin Daniel berharap.
"Te, terima kasih atas pengampunan nya," Lina kembali membungkuk. "Kurang ajar!! Beraninya kau menyiramkan anggur ke kepalaku. Lihat bagaimana aku membalasmu!"
.
.
.
.
.
.
ξκύαε
__ADS_1