Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Perlengkapan bayi


__ADS_3

Mendengar itu membuat Lina meneteskan air mata. "Hiks... Aku tidak tahu harus bilang apa. Aku hanya gadis miskin dari desa yang menuntut ilmu ke ibu kota dan berkerja paru waktu untuk mencukupi kebutuhan hidupku. Tidak perna terbayang olehku akan dipertemukan dengan orang yang begitu perhatian, menjagaku, menyayangiku layaknya sebuah keluarga dan bahkan begitu memanjakan ku. Kata terima kasih saja belum cukup. Bagaimana caraku membalas semua kebaikan kalian ini?"


"Dengan menjalani kehidupan mu yang bahagia," Briety menyekat air mata yang mengalir di pipi Lina. "Berjanjilah wajah ini tidak akan perna meneteskan air mata lagi kecuali tangis kebahagian, mengerti?"


"Hiks... Huaa..........aah...." tangis Lina pecah sambil memeluk Briety. "Aku sangat bahagia. Sangat, sangat bahagia."


"Sudah, sudah. Luapkan saja. Itu akan membuatmu merasa lebih baik," Briety membalas pelukan Lina dengan erat.


Sehabis perjalanan ke spa. Mereka mengakhiri jalan-jalan di mall ini dengan pergi ke toko Baby shop, dimana menyediakan seluruh perlengkapan bayi sampai anak-anak. Lina tersentak begitu tahu mereka akan mengunjungi tempat ini. Baru pagi ini dia membicarakan soal ini bersama Daniel tapi sekarang ibunya mala memaksa ia untuk membeli semua perlengkapan untuk menyambut kelahiran bayi mereka. Alasan yang sama mungkin tidak bisa dilakukan.


"Nah... Lina, aku tahu Daniel tidak akan sempat menemanimu membeli semua perlengkapan bayi. Jadi izinkan aku sebagai ibunya membantuhmu membelinya hari ini."


"Eh... Ibu untuk hal ini..."


"Tidak ada penolakan. Ini merupakan keinginan ku sejak lama. Aku sudah menantikan hari ini selama bertahun-tahun, dan sekarang aku mendapatkannya. Berbelanja keperluan untuk menyambut cucuku. KYAAH.... Aku sudah tidak sabar. Kau sungguh membuatku menjadi orang yang paling bahagia hari ini," dengan kesenangan yang meluap-luap Briety menarik Lina masuk ke toko tersebut.


Di dalam Briety tampak lebih bahagia melihat-lihat semua perlengkapan bayi yang lucu-lucu dari pada berbelanja pakaian atau perhiasan. Ia kesana kemari dengan riang nya, apa lagi di bagian memilih pakaian bayi. Lina hanya bisa menghela nafas panjang.


"Astaga semuanya lucu-lucu. Aku harus membeli yang mana? Yang ini bagus. Yang ini juga bagus. Aah... Rasanya ingin kubeli semuanya."


Lina membiarkan ibu Daniel yang hanyut dalam keasikannya memutari toko. Ia sesekali melihat beberapa barang yang menarik perhatiannya. Melihat gambar-gambar bayi yang memang tersebar di setiap sudut toko tersebut membuat Lina tersenyum. Ia kini membayangkan bagaimana rasanya memiliki seorang bayi, merawat mereka, suara tawa dan tangis mereka nanti, kelembutan tangan-tangan mungil mereka disaat menggegam erat jarinya. Lina menelus perutnya dengan kehangatan seorang ibu. Tapi membayangkan hal itu membuat Lina ikut terbayang bagaimana rasa sakit saat persalinan nanti. Lina masih takut untuk menghadapi persalinannya yang tinggal beberapa bulan lagi. Setiap hari berlalu membuat ia semakin gugup.


"Tapi tunggu, aku belum tahu jenis kelamin dari cucuku. Hei menantu, bayi mu laki-laki atau perempuan?" tanya Briety yang membuat Lina tersadar dari lamunannya.


"Laki-laki dan perempuan."


"Iya. Bayi mu laki-laki atau perempuan? Jangan sampai kita salah beli, kan?" kata Briety yang belum mengerti maksud Lina.

__ADS_1


"Aku rasa ibu tidak akan mungkin salah beli. Bayiku laki-laki dan perempuan."


"Bagaimana kau yakin aku tidak akan salah beli jika kau saja tidak memberitahu jenis kelamin bayi mu?" Briety terlalu sibuk memilih pakaian bayi dan masih belum memahami kata-kata Lina


"Beli saja keduanya."


"Hah?" Breity baru tersadar maksud perkataan Lina. Ia tertunduk melirik perut Lina. "Oh, maksudmu mereka laki-laki dan perempuan?" tunjuk nya.


"Iya."


"Maaf, aku lupa kalau kau hamil bayi kembar. Kalau begitu kita tidak perlu memilih lagi. Borong semuanya!"


"Apa?!" Lina sangat kaget ketika mendengarnya. "Hah... Dasar orang kaya. Mereka memang selalu suka menghambur-hamburkan uang."


Jam 16.03 mobil memasuki halaman rumah. Briety meminta semua orang yang ada membantu membawahkan semua barang-barang yang telah mereka beli masuk ke dalam rumah. Tidak disangka ternyata semua barang itu bisa sebegitu banyaknya. Susunan belanjaan itu sudah hampir setinggi Lina.


"Nah, sayang. Sebenarnya aku tidak mau pulang tapi ayah mertuamu berjanji mau mengajakku makan malam diluar hari ini. Jadi aku pamit pulang dulu. Tidak apa kan aku tinggal?"


"Tidak apa. Lagi pula aku tidak sendirian."


"Kau menantu ku yang manis. Jaga dirimu baik-baik. Aku akan sering-sering datang," Briety berlalu pergi setelah mengecup kening Lina.


Lina mengantar kepergian ibu Daniel sampai di depan pintu. Breity menyempatkan diri melambai pada menantunya itu sebelum mobilnya melaju perlahan meninggalkan rumah tersebut. Lina membalas lambaian itu. Di perhatikan nya mobil selver sampai menghilang di antara keramaian kendaraan lainnya di jalanan. Lina melangkah masuk kembali ke dalam rumah. Diratapinya semua barang belanjaan yang masih menumpuk di ruang tengah ini.


"Kucing kecil... Maaf aku terlambat hari ini. Tadi itu..."


Lina sontak langsung menoleh ketika mendengar suara Daniel yang baru pulang. Namun Daniel lebih keget dan bingung lagi ketika melihat semua tumpukan barang belanjaan yang ada di belakang Lina.

__ADS_1


"Dari mana semua barang ini?" tanya Daniel sambil menghampiri.


"Hah... Semua ini karna ibumu mampir hari ini. Ia mengajakku berbelanja di mall dan inilah hasilnya. Aku tidak bisa menolak apa yang mau ia belikan untukku," jelas Lina.


"Sepertinya ia sangat memanjakanmu," Daniel mengambil salah satu barang yang merupakan selimut bayi. "Oh, ini... Bukankah kau belum ingin membeli perlengkapan bayi?"


"Sudah kubilang aku tidak bisa menolak. Setelah mengetahui kalau aku mengandung, ibumu lah yang paling bersemangat membelikan semua perlengkapan bayi ini. Melihat semua barang ini membuatku semakin gugup saat menjelang persalinan nanti."


"Simpan saja semuanya dulu di kamar. Kau tidak akan selalu melihatnya. Masih beberapa bulan lagi juga menjelang persalinan mu. Kau bisa mempersiapkan diri dulu agar tidak terlalu gugup," Daniel meletakan tangannya di atas perut Lina. "Ngomong-ngomong, kehamilanmu ini lebih besar dari kebanyakan orang pada bulan yang sama. Apa kata dokter?"


"Itu dikarenakan tubuhku yang kecil, jadi kandunganku tampak lebih besar," bohong Lina. Ia masih ingin merahasiakannya sampai menjelang persalinan.


"Kau belum memberitahu ku jenis kelamin dari anak kita. Dilihat dari barang yang kalian beli, kalian membeli semua perlengkapan untuk bayi laki-laki dan perempuan. Ini membuatku semakin penasaran."


"Rasa penasaran mu itu harus kau tahan sampai menjelang kelahiran mereka tiba, karna aku tidak akan memberitahukannya padamu. Dan tidak perlu berusaha untuk bertanya pada ibumu. Dia juga tidak akan memberitahu mu. Tapi kau boleh menebak-nebaknya jika kau mau."


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


ξκύαε


__ADS_2