
"Em... Huhu... Kau menuduhku melakukan hal yang tidak perna aku lakukan. Aku tidak pernah tidur dengan pria manapun."
"Diam! Berhentilah menangis! Aku pikir kau gadis yang berbeda dari semua gadis yang ada di luar sana. Tapi nyatanya kau itu sama saja dan bahkan lebih rendah dari mereka."
"Richard! Aku sudah berulang kali menolakmu dan menjelaskan kalau aku sungguh tidak ada perasaan terhadapmu tapi kau sendiri yang terus-terus saja tidak mau berhenti mengejar ku. Kau terus memaksaku untuk mencintaimu. Aku hargai kau memang baik dan lembut padaku tapi itu dulu. Setelah melihatmu yang sekarang ini, kau tidak lebih dari seorang pria yang kasar dan egois! Jika kau membenciku lalu kenapa kau masih menculikku? Di matamu aku ini hanya wanita rendahan."
"Lina, aku memang tidak mencintaimu lagi," Richard berjalan mendekati Lina lalu berjongkok di depannya. "Tapi aku masih tidak mau kehilanganmu."
Richard membelai wajah Lina lalu tiba-tiba ia mendorong Lina sampai terguling di lantai. Richard mulai merangkak diatas tubuh Lina. Melihat itu para pengawal bayangan tentu tidak ingin tinggal diam namun Lina memberi isyarat untuk tidak menyerang dulu.
"Bagus Richard. Lakukanlah itu, maka dia akan menjadi milikmu seutuhnya."
"Lina, kau yang memaksaku melakukan ini. Akan kubuat kau sebagai pemuas nafsuku. Tenang kau masih akan mendapatkan fasilitas yang mewah."
"Kau pria yang sungguh hina Richard. Kau tidak pantas untuk hidup."
Lina menendang sekuat tenaga di antara kedua paha Richard. Hal itu membuat Richard meringkuk kesakitan. Lina bangkit dengan ikatan di tangannya yang sudah terlepas. Melihat tahanan nya lepas Violet tentu tidak tinggal diam.
"Kalian berempat tangkap dia!" perintah Violet pada preman yang membawa Lina sebelumnya, tapi mereka tidak menggubris perintah Lina. "Kenapa kalian diam saja? Tangkap dia!! Aku tidak membayar kalian cuman untuk berdiri seperti patung!"
"Mereka tidak akan mendengarkan mu Violet. Karna... Mereka adalah anak buah Daniel."
Keempat preman itu membuka penyamaran mereka.
"Apa?! Ternyata selama ini kau sudah tahu," Violet nampak terkejut. "Lalu, dimana para preman itu?"
"Tentu saja mati. Hah... Kalian sungguh tidak kreatif. Selalu mengunakan cara yang sama. Menculikku dan hendak melecehkanku. Apa tidak ada cara lain? Mungkin... Bertarung?" kata Lina dengan serigai di wajahnya.
"E...! Kalau kau mau bertarung ya bertarung! Serang dia!" sambil mengeretakan giginya, Violet memerintahkan semua pria dibelakangnya untuk menyerang Lina.
"Kau menyuruh mereka. Kalau begitu kalian bersenang-senanglah," ujar Lina pada keempat orang di belakangnya sambil berbalik.
__ADS_1
"Mengalahkan mereka cukup aku seorang saja," kata salah satu dari keempat orang itu. Ia menceritakan semua jari-jarinya.
"Jangan suka bersenang-senang sendiri. Aku yakin yang lainnya juga ingin menghajar sampah."
"Baiklah. Masing-masing dari kita menghajar tiga orang dan ada yang empat orang."
"Boleh. Aku mau dua pria pelontos itu saja. Mereka terlihat kuat."
"Kalau begitu aku yang memiliki tindik di alisnya dan..."
"Hei, sisakan juga untukku."
"Kau pilihlah sendiri."
"Tenang-tenang semuanya kebagian."
Mendengar mereka berlima mala asik berdiskusi membuat Violet tambah kesal. "Apa yang kalian bicarakan?!! Kenapa kalian asik berdiskusi? Jumlah kami jauh lebih unggul dari kalian. Kalian pasti kalah. Dan untukmu Lina, aku akan merobek mulutmu itu!!" bentak Violet.
"Silakan. Kalau bisa," Lina berbalik pergi setelah menembakan jarum racun pada Violet.
"Mereka semua payah. Baru dipukul sekali saja sudah tumbang," kata salah satu dari mereka sambil menendang kaki orang yang telah tidak sadarkan diri di lantai.
"Gadis itu berhasil kabur. Apa lita mau mengejarnya?" hanya yang lain pada Lina.
"Biarkan saja. Ia putri keluarga Cershom. Kita tidak bisa menyentuhnya sembarangan. Tapi aku telah memberi hadiah kecil untuknya."
"Bagaimana dengan orang ini?" tunjuk pria itu pada Richard yang pingsan dilantai. Ia pingsan karna tampa sengaja mendapat pukulan dari salah satu pengawal bayangan.
Lina melirik Richard. Mendengar perlakuannya barusan membuat Lina membenci Richard. "Terserah kalian mau melakukan apa padanya. Aku tidak peduli lagi." Lina meregangkan tubuhnya sambil melangkah keluar. Ia juga bergumam. "Aku ingin segera pulang dan makan malam. Perutku lapar sekali."
Keempat orang itu tersenyum satu sama lain. Ide jahil mereka muncul bersamaan. Mereka sedikit bosan jika harus melakukan penyiksaan sampai pembunuhan. Jadi mereka menyelucuti semua pakaian Richard sampai hanya meninggalkan boxer Teddy bear nya saja. Lalu mereka menyoreti tubuh Richard dengan gambar yang super menggelikan sampai-sampai mereka sendiri tertawa melihat hasil dari kreatifitas seni mereka. Setelah itu kaki dan tangan Richard kini di ikat pada tiang kayu yang telah tersedia di atas kap mobil terbuka. Dan sebagai sentuhan akhir dari kejahilan mereka berempat, mereka mengajak Richard berkeliling kota. Tepat waktu disaat Richard sadar mobil yang membawanya baru memasuki kawasan perkotaan. Semua mata yang melihatnya tidak henti-hentinya tertawa. Ada dari mereka yang memfoto sampai merekam peristiwa yang sangat langkah tersebut. Richard hanya bisa berteriak sambil meronta-ronta melepaskan diri. Rasa malunya yang dirasakannya benar-benar sampai ke sumsum tulang.
__ADS_1
⚜⚜⚜⚜
Sampai di rumah, Lina berjalan mengendap-endap, melirik sana dan sini memperhatikan situasi. Ia sebenarnya melupakan suatu janji sore ini. Ia takut Daniel akan tahu hal itu, dan juga ia memang meminta Qazi untuk tidak memberitahu Daniel soal kejadian tadi. Dirasanya tidak ada siapa-siapa, Lina berjalan berjingkat menuju tangga. Sedikit lagi kaki Lina menyentuh anak tangga pertama...
"Darimana saja kau kucing?"
Lina tersentak dan perlahan menoleh ke sumber suara. Ia menampati Daniel yang duduk di sofa ruang tamu. Lina berusaha tersenyum setelah tertangkap basa. "Eh... Daniel."
"Kenapa gelagatmu seperti telah melakukan tindak kejahatan yang mencurigakan?" ujar Daniel sambil berjalan mendekat.
"Eh... Aku... Aku tidak..." Lina tidak melanjutkan kalimatnya disaat Daniel telah berdiri di depannya.
Daniel membungkukan badannya. Diciumnya leher Lina sekali. "Tubuhmu bau debu bangunan tua. Kau habis bermain?"
"Astaga! Penciumanmu seperti anjing saja," batin Lina. "Tidak," jawabnya sambil mengalihkan padang.
"Sikapmu ini benar-benar tidak bisa di percaya. Lalu, apa kau ingat janjimu pagi tadi?"
"Tidak," jawab Lina begitu saja. Ia langsung menutup mulutnya menggunakan telapak tangan disaat ia sadar keceplosan.
Daniel cuman menatap Lina dengan raut wajah datar.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
ξκύαε