
"Jalan!" perintah pria itu. Dengan senjata tepat dibelakang lehernya, Julius digiring masuk menghampiri Marjorie. "Nona, saya menangkap penyusup yang mencoba menguping pembicaraan anda."
"Penyusup?" betapa tekejutnya Marjorie begitu tahu penyusup tersebut adalah... "Julius?! Apa yang kau lakukan disini? Bagaimana bisa kau tersadar dari obat bius itu? Seharusnya obat itu cukup membuatmu pingsan sampai esok hari."
"Orang lain mungkin iya, tapi itu tidak berlaku untukku. Membuatku pingsan selama itu juga merupakan hal yang langkah. Berapa dosis obat bius yang kau gunakan kira-kira?"
"Nona mengenal bocah ini?" tanya pria yang berdiri di sebelah Marjorie sambil berbisik?
"Dia... Teman sekolahku."
"Mau kita apakan bocah ini, nona? Dia sudah menguping percakapan anda," tanya pria yang membawa Julius sebelumnya.
"Ikat saja dia," perintah Marjorie.
"Baik."
Pria yang ada di belakang Julius segera melaksanakan perintah tersebut. Ia melipat kedua tangan Julius kebelakang dan datang lagi seorang pria membawakan seutas tali. Tidak terima, Julius mencoba melawan. Ia berhasil melepaskan dari cengkraman pria itu lalu menghajarnya berserta rekannya yang baru datang. Melihat itu membuat ketiga bawahan pribadi Marjorie mau ikut turun tangan menghentikan Julius namun mereka segera dicegat Marjorie.
"Jangan sesekali menyerangnya mau apapun yang terjadi," bisik Marjorie pada mereka. "Sudah cukup Julius. Apa kau datang kesini cuman ingin mengajar orang-orang ku?"
"Aku sungguh bingung denganmu. Kau sudah tahu kalau tuanmu cuman memanfaatkan dirimu tapi kenapa kau masih setia padanya? Apa yang membuatmu rela melakukan itu?"
"Kau sama sekali tidak mengerti Julius. Dia yang telah menyelamatkan ku dari lubang kesengsaraan yang dalam dan penuh duri. Aku tidak bisa begitu saja mengkhianatinya."
"Sudah hal biasa jika mereka ingin merekrut bawahan dari orang-orang yang tertindas. Dengan memanfaatkan rasa balas budi mereka bisa mendapatkan bawahan yang setia dan mau melakukan apa saja tanpa mempedulikan nyawanya sendiri. Itulah dirimu sekarang! Kau masih bersedia menuruti perintahnya walau kau sudah tahu kalau dia telah meracuni dirimu."
"Aku tidak peduli Julius! Aku rela mengorbankan nyawaku..."
"Tidak!" potong Julius dengan tegas. "Aku tidak akan membiarkan itu terjadi!"
"Kenapa? Kenapa kau ngotot sekali seperti ini? Aku cuman gadis yatim piatu yang menyedihkan. Tidak memiliki satupun keluarga di dunia ini."
"Karna kau adalah orang terpenting dalam hidupku. Aku tidak akan sanggup kehilanganmu! Tidak lagi."
Marjorie tersentak mendengarnya. "Julius."
"Oh... Apa mungkin bocah ini yang menghasut nona sampai hendak berkhianat pada Lady Blue? Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus menghabisi dia!" pikir salah satu pria yang sempat Julius lawan sebelumnya.
__ADS_1
Marjorie segera menyadari niat dari pria tersebut. "Gawat."
Marjorie seketika maju berpura-pura menyerang Julius. Menyadari kalau tidak ada niat dalam serangan yang Marjorie lakukan membuat Julius mengikuti saja permainan tersebut setelah Marjorie berkata.
"Berpura-pura lah melawanku. Mereka mengawasi kita," bisik Marjorie.
"Siapa?"
"Dua orang yang kau serang tadi. Mereka merupakan bawahan yang diperintahkan Lady Blue untuk mengawasiku."
"Bagaimana dengan tiga orang yang ada di belakang mu?"
"Mereka bawahan pribadiku. Mereka tidak terikat pada siapapun."
"Bagus. Kenapa tidak kalian lumpuhkan saja dua orang itu? Padahal jumlah kalian lebih banyak."
"Aku tidak bisa."
"Karna kakakmu di tahan oleh mereka? Jangan khawatir, Prof. Via telah berhasil menyelamatkannya."
"Itu mudah, Prof Via berhasil melacak lokasi percakapan terakhirmu dengan Lady Blue dari hp yang kau tinggalkan di atap sekolah. Siapa menduga kalau Lady Blue menyekap kakakmu di hotel tempat ia menginap. Sekarang dia sudah diantar kembali pulang. Dia aman sekarang dan tinggal aku menyelamatkan dirimu dari mereka."
"Caranya?"
"Serang mereka!"
"Apa?!"
Julius mengangkat tubuh Marjorie lalu memintanya menerjak kedua pria itu. Marjorie segera mengerti dan menendang kedua pria yang telah maju hendak melawan. Akibat tendangan tersebut membuat kedua pria itu terjungkal kebelakang.
"Bagus. Kau mengerti maksudku."
"Aku akan membuat perhitungan denganmu setelah ini!" Marjorie mengepalkan tangannya ke Julius dengan geramnya.
"Ternyata Lady Blue benar. Kau mencoba memberontak dari kami," kata seorang pria tiba-tiba melangkah masuk bersama segerombolan orang.
"Oh tidak. Mereka semua bawahan Lady Blue. Kita tidak akan berhasil," Marjorie merasa tidak yakin bisa mengalahkan semua orang itu.
__ADS_1
"Kau adalah Death knell yang dikenal di dunia bawah tanah sebagai pembunuh bayaran terkejam dan mampu membunuh sekelompok orang dengan cuman mengandalkan sebila pisau saja. Masa iya kau takut melawan mereka?" Julius sedikit mengejek Marjorie untuk memancing amarah gadis disampingnya ini.
"Aku bukannya takut tapi jumlah mereka terlalu banyak. Keahlian bertarungmu memang sangat hebat tapi..."
"Kau meremehkan ku. Akan aku tunjukan rahasia latihan yang diajarkan keluarga tersembunyi," aura membunuh seketika terpancar dari tubuh Julius.
"Keluarga tersembunyi? Julius, siapa kau sebenarnya?" tanya Marjorie sambil menatap wajah Julius yang tersenyum padanya.
"Hei, pasangan kekasih! Kalau kalian tidak mau melawan mereka setidaknya lepaskan aku. Jangan cuman berdiri diam saja," pekik Yusra yang sendari tadi tidak dipedulikan kehadirannya.
Mendengar itu membuat Marjorie sadar dari lamunan. Karna merasa jengkel dengan cara bicara Yusra, Marjorie memungut bekas potongan kayu di lantai dan melemparkannya ke arah Yusra. Potongan kayu tersebut tepat mengenai kepala Yusra.
"Diam kau dasar anak manja!" bentak Marjorie garang.
"Tidak ada gunanya mengurusi dia sekarang. Lebih baik kita menghajar mereka," lirik Julius pada semua orang yang ada dihadapannya.
"Apa kau pikir kau sangat hebat bocah? Kami berjumlah lebih dari 20 orang, sedangkan kalian cuman berlima. Kalian tidak akan menang dari kami. Semuanya serang mereka!" perintah pemimpin dari kelompok itu.
Sekelompok orang itu seketika menyerang secara bersama. Ada beberapa yang menggunakan senjata api tapi kebanyakan lebih suka pertarungan menggunakan senjata tajam atau dengan tangan kosong. Semuanya tidak masalah bagi Julius dan Marjorie maupun ketiga bawahannya. Mereka mengeluarkan segenap kekuatan untuk menghabisi musuh di hadapan mereka. Iya... Yang paling dibuat histeris cuman Yusra. Biarpun dia tuan muda dari kelompok mafia Dragon, cuman dia belum perna menyaksikan secara langsung sebuah pertarungan yang melibatkan banyak darah dan nyawa, apa lagi berada di tengah-tengahnya.
Sangat tampak jelas ketakutan di wajah Yusra begitu dekat dengan maut. Dalam keadaan tangan serta kakinya diikat membuat ia cuman bisa berteriak tanpa mampu berlari menyelamatkan diri. Paling Julius lah yang melindunginya sebab Yusra merupakan kunci utama untuk menghentikan ayahnya menyerang kediaman tersembunyi. Namun Julius tidak selalu mampu sering-sering melindungi Yusra selama melawan segerombolan orang yang terus menyerang. Beberapa kali Yusra harus menerima pukulan yang tidak sengaja diarahkan padanya. Dia paling akan mengoceh sambil marah-marah karna hal ini.
Melawan sekelompok orang yang jumlah jauh lebih banyak dari mereka bukanlah perkara mudah bagi mereka. Tak jarang juga mereka harus mendapat pukulan yang keras atau menerima sabetan senjata tajam yang membuatnya terluka. Apa lagi dikala peluru dalam senjata mereka hampir habis. Mereka terpaksa lebih sering melakukan penyerangan jarak dekat dan membunuh menggunakan senjata tajam.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε
__ADS_1