
Sepanjang jalan kembali ke tempat makan malam tadi Lexi terus saja mengerutu. Parfum edisi terbatasnya telah habis ia semprotkan ke tubuhnya untuk menghilangkan bau tak sedap itu.
"Kenapa bisa aku tiba-tiba buang gas, dihadapan Daniel lagi. Ini benar-benar sangat memalukan. Ia pasti berpikir kalau aku gadis yang tidak memiliki tatakrama. Ia sudah pasti membenciku. Aaa....! Kencan makan malamku yang romantis berantakan sudah! Aku harus minta maaf pada Daniel dan menjelaskan semuanya. Pasti ia mau memaafkan ku. Aku sangat yakin itu. Aku harus segera menemuinya."
Lexi mempercepat langkahnya untuk segera bertemu Daniel. Sampai di tempat makan malam tersebut, ia tidak menemukan Daniel disana. Hanya ada para bawahan Daniel yang masih sibuk menyemprotkan pengharum ruangan. Lexi bertanya pada salah satu dari mereka yang memberitahu kalau Daniel sekarang ini ada di sisi lain taman belakang. Tanpa basa basi lagi Lexi bergegas pergi. Sampai disana ia mendapati Daniel berdiri sambil memandang jauh ke depan.
"Daniel!" panggil Lexi sambil berlari menghampiri lalu kemudian seketika memeluk Daniel dari belakang. "Aku, aku bisa menjelaskan semua ini, Daniel. Aku sungguh tidak bermaksud buang gas sembarangan. Aku harap kau mengerti aku. Entah mengapa tiba-tiba perutku sangat sakit dan tanpa sengaja buang gas. Ini, ini tidak seperti biasanya. Aku sungguh minta maaf padamu. Aku harap kau jangan marah padamu," jelas Lexi dengan nada memelas sambil terus menekankan buah dadanya yang montok.
Jika itu pria lain pasti tidak tahan lagi ingin memakannya. Namun bagi Daniel itu adalah hal itu sangat menjijikan.
"Jadi maksudmu secara tidak langsung kau mengatakan masakan dari rumahku yang membuatmu sakit perut," kata Daniel.
Lexi tersentak. Ia melepaskan pelukannya dan mundur selangkah. "Tidak. Mak, maksudku bukan begitu. Aku..."
"Jangan takut," Daniel berjalan mendekati Lexi lalu membelai lembut rambutnya. "Aku percaya padamu. Aku ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu."
"Sungguh," mata Lexi seketika berbinar.
"Tentu. Bawakan barangnya kesini!" perintah Daniel pada anak buahnya.
"Baik."
Tak berapa lama anak buah Daniel kembali membawa barang yang dipintak bosnya. Sebuah Katana dengan sarum hitam menawan, begitu cantik. Lexi tercengang melihatnya.
"Ini benaran mau memberiku. Sepertinya Daniel sudah cinta mati padaku. Setelah perbuatan memalukanku tadi, bukannya tidak marah sama sekali ia mala memberiku hadiah lagi. Senangnya," batin Lexi begitu bahagia mengetahui Daniel akan memberinya sebuah Katana yang begitu menawan.
"Ini adalah sebuah Katana yang kubeli langsung dari penempa tradisional di jepang. Ketajamannya jangan ditanya lagi. Ini bahkan bisa memotong peluru. Katana ini salah satu barang berharga dari koleksi senjataku."
"Wow... Daniel. Aku sungguh tidak menyangka kau akan memberikan hadiah dari koleksimu yang paling berharga. Aku merasa terhormat sekali dapat menerimanya. Terimah kasih."
"Mau lihat seberapa tajam Katana ini?" kata Daniel yang lirikannya lebih tajam dengan senyum kecil diwajahnya.
__ADS_1
"Iya. Aku mau."
"Baiklah."
Daniel menarik Katana tersebut dari sarumnya. Terlihat kilauan begitu mengkilat dari Katana tersebut, sampai-sampai kau bisa bercermin di atas nya. Dengan gerakan yang cepat, Daniel menganyunkan Katana tersebut memotong sesuatu untuk menunjukan ketajamannya. Hal hasil leher Lexi putus seketika.
"Tajam, bukan?"
Darah seketika mengalir dan menggenang di rerumputan. Dengan wajah masih tersenyum, kepala Lexi sudah terpisah dari tubuhnya. Sangking tajam nya Katana tersebut tidak ada setetes darah pun menempel di sana.
"Bersihkan ini dan kirimkan kepalanya ke kakaknya. Oh, iya. Jangan lupa tulis pesan maaf ku padanya. Terserah mau bagaimana."
"Baik tuan muda."
Beberapa orang di panggil untuk membereskan mayat Lexi dan menjalankan tugas lainnya. Daniel berjalan pelan masuk ke dalam rumah. Ia ingin segera berendam untuk menghilangkan bau yang masih melekat ditubuhnya.
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
Jam 20.50 suara bell rumah dibunyikan. Rylie turun dari kamarnya melihat siapa yang datang bertamu.
"Apa Lexi sudah pulang? Cepat sekali. Aku jadi penasaran bagaimana kencan makan malamnya berlangsung," gumang Rylie.
Sampai di depan pintu ia segera membukanya. Anehnya ia tidak menemukan siapa-siapa, hanya ada kotak besar berhias pita merah. Penasaran dengan apa yang ada di dalam kotak tersebut Rylie langsung membukanya. Betapa terkejutnya ia mendapati isi kotak tersebut adalah kepala adiknya sendiri.
"LEXI................. ! ! ! !"
Teriaknya begitu keras di teras rumahnya. Ia mengangkat kepala adiknya itu lalu didekapnya dalam pelukannya dengan air mata telah membasahi pipinya.
"Hiks... Hiks... Lexi... Apa yang terjadi? Kenapa kau berakhir seperti ini? Hiks..."
Tangis Rylie pecah malam itu. Ia benar-benar tidak menyangka kepergian adiknya itu adalah yang terakhir baginya. Ia bahkan masih mengingat senyum ketika Lexi melangkah masuk ke mobil yang menjemputnya untuk menghadiri makan malam tersebut. Dalam kesedihan itu Rylie menemukan selembar kertas berisi pesan.
__ADS_1
..."Ah, maafkan aku. Seharusnya aku membalas perbuatan adikmu dengan memberi ia obat perangsang dan mengirimnya ke tempat prostitusi. Tapi aku sungguh tidak tahu kalau nona Lexi memiliki kebiasaan buang gas sembarangan. Jadi tampa sengaja aku menebas kepalanya."...
..."Bagian tubuhnya yang lain akan dikirim besok pagi."...
...Selamat malam...
Untuk penyusunan kalimat dan hiasan nya Daniel sama sekali tidak. Itu merupakan keisengan dari anak buahnya.
"Apa? AAAAAAH ! ! ! ! Daniel kau sungguh kejam!" teriak Rylie meluapkan amaranya sambil meremas kertas tersebut. "Hiks... Hiks... Tidak mungkin hanya buang gas saja kau bisa berakhir seperti ini. Tunggu saja kau Daniel, aku akan membalasmu! Akan kubuat kau kehilangan seluruh orang yang kau cintai!"
Andai kau tahu Rylie apa yang telah diperbuat adikmu. Daniel jauh lebih kesal darimu saat ini.
"AAAA ! ! ! Kenapa bau busuk ini tidak mau hilang! Dan sekarang seisi rumah menjadi sangat bau. Aku perintahkan kalian semua untuk memborong pengharum ruangan, parfum dan apapun yang wangi di kota! Kalau perlu minta petugas kebakaran untuk mengguyur seluruh kediaman atau lakukan sterilisasi di seluruh penjuru dan setiap sudut rumah ini. Aku tidak mau sampai ada bau busuk itu tertinggal sedikitpun dalam rumah ini!" perintah Daniel dengan sangat marah.
Sementara itu si dalang yang sebenarnya dari kejadian malam ini sedah tertidur pulas di kamarnya. Ia tidak terusik sama sekali dengan suara teriakan Daniel yang kesal di bawah sana atau ribut dengan bau busuk yang begitu menggangu. Lina telah menutup semua pintu dan jendela untuk mencegah bau itu menyusup ke kamar nya. Mimpi indah Veliana.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε
__ADS_1