Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Pulang kampung


__ADS_3

Satu bulan kemudian. Lina memutuskan untuk pulang kampung. Ia sangat merindukan Ramona di desa. Ia sengaja tidak memberitahu Ramona tentang kepulangannya karna ia ingin memberi kejutan padanya. Lina saat ini membereskan beberapa barang yang akan dibawakannya besok. Rencananya ia akan menginap dua sampai tiga hari disana. Daniel yang mengetahui ke keputusan Lina mau pulang kampung selama tiga hari memutuskan untuk ikut bersama. Ia tidak bisa tahan ditinggal pergi oleh Lina walau hanya sebentar saja. Menunggu kepulangan Lina dari kampus atau ia sendiri harus lembur serasa menunggu selama satu tahun. Jam seakan-akan tidak bergerak sama sekali disaat ia berkerja.


"Apa kau tetap dengan keputusanmu Daniel tidak mau menikahi putri keluarga Carshom?" tanya Reyner pada putranya melalui telpon.


"Aku tetap pada keputusanku. Tidak ada yang bisa mengubahnya," tegas Daniel sekali lagi.


"Bagaimana?" tanya Briety pada suaminya.


"Tetap tidak mau," jawab suaminya. Ia kembali bertanya pada Daniel. "Kakekmu masih marah padamu?"


"Dia tidak pernah berbicara padaku lagi setelah pesta ulang tahun itu."


"Ayah dan ibu tidak melarangmu untuk menikahi siapapun jika wanita itu baik di matamu dan kalian saling mencintai. Namun kakekmu... Ayah dan ibu sudah berulang kali membujuknya tapi ia tetap bersikeras pada keputusannya untuk menikahkanmu dengan putri keluarga Carshom dan menginginkan pernikahannya dilaksanakan tepat pada tanggal ulang tahunnya tahun depan. Ia berkata ingin segera memiliki cicit."


"Jujur saja ibu juga sebenarnya ingin sekali mengedong cucu," sambung ibu Daniel terdengar dari balik telpon.


"Cucu? Cicit? Eh... Sebenarnya kalian akan segera punya," mata Daniel melirik perut Lina yang sudah tampak jelas jika dilihat dari samping. Daniel saat ini sedang menemani Lina yang membereskan semua barang yang akan dibawa besok. "Jika kakek menginginkan seorang cicit aku bisa memberikannya tapi tidak harus dari putri keluarga Carshom juga."


"E... Apa maksud perkataanmu ini Daniel?" seketika Briety merebut hp suaminya agar bisa leluasa bicara dengan putranya. "Apa kau sudah mengambil langkah yang lebih jauh dengan kekasihmu itu? Aku dengar ia tinggal bersama mu, kan?"


"Ekhem... Apa, apa yang ibu bicarakan? Kami..." untuk pertama kalinya Daniel merasa gugup di ajukan pertanyaan tersebut.


"Ah... Kenapa kau malu-malu begitu Daniel? Sepertinya apa yang aku katakan benar. Ibu mau datang berkunjung ah untuk melihat calon menantu ibu dan mungkin..."


"Ibu, ibu tidak bisa datang hari ini, baik besok ataupun lusa," potong Daniel.


"Hah... Kenapa tidak boleh?" suara Briety terdengar kecewa.


"Kami mau keluar kota. Lina rindu kampung halaman nya dan ingin pulang. Aku harus menemaninya."

__ADS_1


"Sangat disayangkan. Berapa hari kau disana?"


"Entahlah, dua atau tiga hari mungkin."


"AAH ! Ibu lupa. Besok adikmu akan pulang dari luar negeri. Ia meminta kau menjemputnya di bandara jam 8 pagi besok. Ia pulang karna ingin bertemu langsung dengan pacarmu. Ia sangat ingin tahu siapa gadis yang telah berhasil mencuri hati kakaknya yang dingin."


"Ia akan sangat kecewa."


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Keesokan paginya mereka berangkat dari jam 06.48 pagi. Hanya Lina dan Daniel berdua saja yang pergi. Daniel tidak mengajak satupun anak buahnya bersamanya. Ia hanya mau menghabiskan waktu tiga hari ini bersama Lina. Setelah satu jam melalui ibu kota mereka mulai memasuki kawasan perkotaan kecil. Berangsur-angsur kepadatan gedung-gedung tinggi dan perumahan menipis. Kini mobil mereka melaju pelan melalui jalan yang sisi kiri dan kanannya adalah pepohonan rimbun. Udara yang segar dari pedesaan memang jauh lebih baik dari udara penuh polusi di ibu kota. Suasana yang begitu damai disini menambah kerinduan Lina pada desa tempat dimana ia dibesarkan. Tiga jam perjalanan akhirnya mereka sampai. Mobil berhenti tepat di depan rumah satu tingkat dengan halaman depan luas dan di penuhi berbagai jenis bunga bermekaran. Romona memang sangat menyukai berkebun. Selain menanam sayuran di ladang ia juga suka menanam bunga di halaman depan rumah.


Daniel keluar dari mobil. Ia meneliti tempat tinggal kucingnya semasa kecilnya. Bagi Daniel yang hidup mewah dan tidak perna kekurangan apapun yang diinginkannya ketika melihat kondisi dan keadaan rumah di depannya ini, ia merasa apa rumah ini layak huni? Rumah ini kecil sekali, bahkan lebih luas lah kamarnya dari pada seluruh bagian rumah ini. Rumah berdinding kayu bercat putih susu dengan teras depan yang sangat cocok untuk bersantai.


"Sanggupkah rumah ini menghadapi badai?" pikir Daniel. "Apa benar ini rumahnya?"


"Iya. Ini masih lebih baik dari dulu yang hanya pondok kayu tua," Lina melangkah kan kakinya berjalan menuju rumah tersebut.


"Aku dan Romona perna terpaksa menginap di rumah tetangga saat badai dahsyat menyerang tempat ini dulu," Lina mengetuk pintu rumah tersebut. "Ramona, aku pulang!"


Tidak ada jawaban.


"Ramona!"


Lina mencoba mengutip dari kaca jendela sambil terus memanggil, namun tetap tidak ada jawaban. Bagian dalam rumah tampak sepi dan sedikit gelap.


"Apa mungkin tidak ada di rumah, sedang keluar?"


"Bisa jadi. Ramona biasanya suka mencari kayu bakar di hutan."

__ADS_1


"Kayu bakar? Untuk apa? Membuat api unggun?"


"Bukan. Untuk masak. Di rumah memang sudah ada kompor tapi Ramona lebih suka masak menggunakan kayu bakar. Katanya rasa dan aroma yang dihasilkan sangat berbeda dengan memasak di atas kompor," jelas Lina.


Daniel mencoba memutar knop pintu yang ternyata tidak terkunci. "Pintunya tidak di kunci."


"Apa? Ramona pasti lupa lagi untuk mengunci pintu. Akhir-akhir ini ia memang sering pelupa. Ya sudah. Kita masuk dulu," membuka lebar pintu lalu melangkah masuk bersama Daniel.


"Bagian dalam rumah ini sedikit berdebu."


"Ramona biasanya setelah pulang mencari kayu bakar baru beres-beres rumah. Wajar sedikit berdebu. Aku akan membersihkannya agar ia terkejut," Lina baru hendak mengambil sapu sebelum Daniel mencegatnya.


"Tunggu dulu. Jangan sentuh apapun," cegat Daniel yang sendari tadi terus memperhatikan sekeliling bagian rumah ini.


"Ada apa? Kenapa?" tanya Lina bingung.


"Ada yang tidak beres di sini. Kalau ku perhatikan tadi, pintu rumah ini seperti telah dibuka paksa, rumah yang berdebu dan beberapa barang tidak pada tempatnya. Lihat ini," Daniel menujuk sesuatu yang samar di lantai rumah. "Jika diperhatikan lebih teliti ini tampak seperti bekas jejak sepatu yang mengering."


"Apa, apa maksudmu ada orang yang telah menerobos rumah ini? Lalu dimana Ramona?" nada suara Lina seketika berubah dengan air mata yang jatuh di pipinya. Terlitas di pikiran nya suatu hal yang tidak diinginkan. "Tidak. Ramona..."


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


ξκύαε


__ADS_2