Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Usaha persalinan


__ADS_3

"Apa?!" Violet begitu terkejut melihat Lina yang telah turun dari tempat tidur dengan ikatan sudah. "Ba, bagaimana caranya kau bebas?"


Tidak menggubris perkataan Violet, Lina seketika menyerang sebelum Violet memanggil anak buahnya. Mengingat kaki Violet masih dalam kondisi pemulihan, itu merupakan sasaran yang empuk. Sambil menahan perutnya Lina menerjang kaki Violet. Hal hasil Violet tersengkur ke lantai.


"ARGHHH ! !"


"Kau mungkin tidak perna merasakan kasih saya orang tua tapi ketahuilah hidupku jauh lebih menderita jika dibandikan dirimu. Jangan salahkan aku mengambil hak ku yang kau gunakan selama ini."


"Keterlaluan kau Lina!!!"


Tap... Tap... Tap...


Akibat teriakan Violet memancing para anak buahnya mendekat. Menyadari itu Lina mengambil kesempatan itu pergi sebelum semuanya datang. Tidak ada waktu untuk membalas Violet sekarang. Lebih baik ia menyelamatkan diri dulu. Anak-anaknya jauh lebih penting.


"Tangkap dia! Jangan biarkan dia lolos. Aku menginginkan dia hidup-hidup!" perintah Violet begitu anak buahnya berbondong-bondong datang.


Berbekal belati ditangan, Lina berusaha menyerang para anak buah Violet yang ia temui dengan tangan yang lainnya menahan perutnya. Lina cukup kesulitan tapi ia berhasil keluar dari tempat itu. Ia menyadari kalau hari sudah gelap dan tidak ada satupun bangunan disekitarnya. Tanpa pikir panjang Lina berlari masuk hutan sembarang arah. Ia berharap dapat sampai di permukiman terdekat atau jalan raya sebelum anak buah Violet berhasil menangkapnya. Tapi rasa kontrasi yang terus menyerang cukup menghambat nya. Sering kali Lina berhenti bersembunyi di balik pohon untuk mengatur nafas.


"Ngggghhhh....."


Tanpa sadar Lina mengejan disaat kontraksi yang lebih kuat dari sebelumnya melanda perutnya. Lina tersentak begitu merasakan kalau bayinya bergerak turun menuju liang lahirnya yang telah meregang.


"Apa pembukaan ku sudah lengkap?"


Tapi dari semua itu suara dibelangkan juga merepotkan.


"Cari dia dari segala arah! Dia cuman wanita hamil yang akan segera melahirkan. Dia tidak akan mungkin bisa lari begitu jauh."


"Sial!" gerutu Lina yang mengutip mereka dari balik pohon. "Hah? Mereka semua menggunakan senter untuk mencari ku? Sepertinya mereka semua cuman unggul di siang hari tapi tidak di malam hari."


Mengetahui hal ini Lina cukup menghindari sorot lampu senter dari mereka. Lina berpindah dari pohon satu ke pohon lain disaat kontraksinya memberi jeda untuknya bergerak. Di setiap kontraksi Lina tidak tahan untuk tidak mengejan, sampai tiba-tiba Lina merasakan ada aliran air mengalir ke pahanya.


"Astaga! Ketubanku pecah. Aku harus mencari tempat melahirkan sekarang."


Lina mencengkram kuat perutnya disaat sensasi untuk mengejan semakin besar. Matanya melirik kesana kemari sampai pandangannya tertuju pada bangunan tua yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Lina berjalan perlahan menuju tempat itu. Sampai disana Lina segera masuk. Tempatnya cukup bersih, tidak ada ranting dan daun-daun kering atau rumput liar. Hal ini dikarenakan atap bangunan ini tidak bocor sama sekali. Lina meraih kain lusuh yang tergantung disisi ruangan lain untuk membersikan debu di lantai. Di tengah kegelapan itu, ia segera memposisikan dirinya untuk siap melahirkan.


"Hah.... Huh.... Hah.... Huh...." Lina mengatur nafasnya sebelum kontraksi melada. "Ngggghhhhh....... Haa... Haa.... Engghhhhhh......"


Lina mengejan sekuat tenaga dan berusaha untuk tidak mengeluarkan suara. Nafasnya diatur berulang kali sebelum kembali mengejan lagi. Keringat telah membasahi tubuhnya yang kecil itu.

__ADS_1


"Ngghhhhh...... Aahh....! Sakittt... Hiks.... Daniel aku mohon datang lah. Hhhngghhhhp...... Aku tidak kuat."


Untuk pertama kalinya air mata mengalir di pipi Lina begitu dihadapakan dengan rasa sakit. Ia tidak menyangka akan melahirkan sendirian di tempat seperti ini. Setelah usaha yang panjang dan berulang kali mengejan Lina merasakan tonjolan besar keluar disana. Sepertinya kepala bayinya sudah terlihat.


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


"Hei, lihat ini," panggil salah satu anak buah Violet pada rekannya yang segera mendekat. Ia menyorotkan senter pada apa yang dilihatnya. "Ada bekas air dilantai. Ia pasti ada di sini."


"Bagus. Ayok tangkap dia!"


Mereka berdua melangkah pelan masuk ke bangunan tersebut mengikuti bercak air di lantai. Lina yang terlalu fokus berkonsentrasi melahirkan tidak menyadari kedatangan dua orang itu. Tiba-tiba sorot senter menyinari Lina yang membuat ia kaget.


"Oh... Ternyata dia sedang melahirkan disini," kata salah satu dari mereka.


"Ayok ikut kami!"


Kedua pria itu menarik paksa Lina menyuruhnya berdiri. Lina tidak bisa melawan. Tenaganya sudah terkuras untuk persalinannya.


"Lapaskan aku! Arghh.... Aku sedang melahirkan."


Tidak mempedulikan Lina yang kesakitan mereka menarik paksa ia keluar dari bangunan itu. Baru dua langkah....


Dor! Dor!


"Kucing kecil!" Daniel bergegas berlari menghampir Lina dan langsung memeluknya.


"Hiks... Hiks.... Daniel. Aku tahu... Aku tahu kau pasti datang," tangis Lina pecah saat melihat Daniel.


"Maaf, maafkan aku. Aku tidak menjagamu dengan baik. Aku selalu terlambat disaat kau dalam bahaya. Aku sungguh suami yang buruk. Maafkan aku."


"Egmmmmh....."


Daniel melepaskan pelukannya ketika mengetahui Lina mengejan. "Kau kenapa sayang?"


"Sakitt... Daniel. Perutku sakit sekali. Enggkhhhhh....!"


"Kau akan melahirkan. Aku akan membawamu ke rumah sakit," Daniel membopong Lina hendak membawanya keluar dari bangunan itu.


"Tidak Daniel! Turunkan aku!" pekik Lina membuat Daniel seketika menurunkannya.

__ADS_1


"Ada apa?!"


"Ehhh... Ba, bantu aku melahirkan! Kepala.... Arghhhh......!! Bayinya sudah keluar!"


"Apa?!" Daniel menarik dress Lina yang menutupi kedua pahanya. Dan benar saja. Sudah seperempat kepala bayi keluar disana.


"Enggkhhh...... Haa... Haa... Ini benar-benar sakit."


Daniel melepaskan jasnya lalu menggelar jas itu di lantai. Ia memindahkan tubuh Lina dan membaringkannya disana. Tak berlangsung lama Briety datang. Dengan wajah penuh kekhawatiran dan pistol ditangannya, ia berlari menghampiri Daniel dan Lina.


"Daniel! Lina, kau baik-baik saja?"


"Tidak dalam keadaan baik, ia mau melahirkan. Tolong bantu dia, ibu," pinta Daniel dengan nada memohon.


"Baiklah, aku ada disini. Jangan khawatir."


Briety pindah kehadapan Lina. Ia memeriksa sudah sampai mana jalan persalinan Lina. Berbekal cahaya senter sebagai penerangan, Briety membantu Lina melahirkan.


"Daniel biarkan dia bersandar di tubuhmu dan bantu dia mengatur nafasnya. Lina, mengejanlah ketika kau merasakan kontraksi lagi."


Anggukan Lina berikan. "Nnngggghhhhk!! Haa..... Haa...... Mmmgghhhh!! AAAAH!!"


Lina berteriak mengiringi setiap usahanya mengejan. Ia mencengkram kuat dressnya dengan tangan lainnya mencengkram tangan Daniel.


"Terus sayang. Bagus, sedikit lagi kepalanya akan keluar sempurna," Briety sudah menahan kepala bayi Lina agar tidak menyentuh lantai.


"Haa.... Hu.... Enngggghhhh!! Astaga! Sakit sekali!"


"Semangat sayang. Kau pasti bisa," Daniel mengusap dahi Lina yang penuh keringat dan membetulkan helaian rambut yang menutupi wajah istrinya itu.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


ξκύαε


__ADS_2