
"Mau kah kau bertunangan denganku?" ucapnya.
Bersamaan dengan itu, layar pada tablet pun menampilkan tulisan yang sama seperti dengan apa yang Chris ucapkan. Semua penonton dibuat berdecak kagum melihat adegan romantis itu. Suasana yang tegang sebelumnya mencair seketika. Semua orang bersorak meminta Nisa menerima lamaran tersebut. Namun Nisa terlalu kaget dan tidak mengerti dengan semua ini. Walau cuman lamaran pertunangan tetap saja terlalu cepat bagi gadis yang masih bersekolah. Sangking gugupnya, Nisa tanpa sadar melangkah mundur perlahan sambil menggelekan kepalanya.
"Ti, tidak," jawab Nisa dengan bibir gemetar. "I, ini terlalu cepat. Aku masih kelas satu SMA. A, aku be, belum siap. Ma, maafkan aku!" Nisa berlari pergi turun dari panggung dengan wajah memerah.
"Nisa!" panggil Chris namun tidak di dengar olehnya. "Astaga... Aku ditolak rupanya."
Chris bangkit dengan raut wajah kecewa. Ia menutup kembali kotak cincin itu lalu menyimpannya. Lampu kembali dinyalakan. Beberapa temannya merasa kasihan melihat Chris ditolak dihadapan semua orang.
"Tunggu dulu, siapa kau sebenarnya? Bagaimana bisa kau tiba-tiba mau melamar putriku?" tanya Tn. Pinkston yang juga cukup terkejut.
"Oh, maafkan aku Tn. Pinkston. Aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Chris Fliedle, putra dari keluarga Fliedle," kata Chris memperkenalkan diri.
"Kau tuan muda Fliedle? Astaga aku tidak menyangka kau sudah besar rupanya. Sudah lama sekali tidak bertemu."
"Iya. Aku datang kesini cuman untuk memenuhi perjanjian pertunangan yang ditetapkan oleh bibi Diana sebelum ia meninggal."
"Oh, soal pertunangan itu. Sebenarnya itu cuman keisengan Diana saja. Jangan menganggapnya serius..."
"Tidak," potong Chris. "Sejak melihat Nisa di pesta malam itu, aku sudah bertekat untuk mendapatkan hatinya. Lagi pula aku sudah berjanji pada bibi Diana untuk menjaga putrinya kelak. Tapi sepertinya aku terlalu buru-buru sehingga membuat Nisa jadi takut."
Julia menghampiri Chris dan menepuk bahunya. "Salah kau juga sih. Jika ingin melamar gadis pemalu seperti Nisa, sebaiknya di tempat yang hanya kalian berdua. Kalau di depan semua orang ini, wajar saja ia menjadi gugup dan mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan isi hatinya."
"Baiklah, aku akan mengikuti nasehatmu nona Flors. Aku tidak akan menyerah."
"Semangat."
"Kau putranya Tn. Fliedle?" tanya Daniel yang ikut menghampiri.
__ADS_1
"Iya. Tn. Flors kenal dengan ayah saya?"
"Bisa dibilang begitu. Kami sudah mengenal sejak kecil karna hubungan keluarga yang baik. Apa kabar ayahmu? Sudah lama aku tidak bertemu dengannya."
"Kabar ayah baik. Cuman dia sedikit sibuk akhir-akhir ini jadi tidak bisa datang."
"Sampaikan salamku padanya. Kapan-kapan kalau ada waktu kami akan berkunjung."
"Saya akan sampaikan. Ayah pasti sangat senang bisa bertemu teman lama."
"Pertama putra dan putri dari keluarga Flors yang menempati asrama biasa. Sekarang putra dari keluarga Fliedle juga ikut-ikutan. Kenapa mereka tidak tertarik sama sekali tinggal di asrama khusus? Kalau seperti ini aku harus berhati-hati dan memperingatkan seluruh stap sekolah untuk tidak sembarang memperlakukan para murid di asrama biasa. Bisa-bisa menimbulkan bencana karna telah menyinggung orang yang salah," batin Tn. Vincent yang berdiri di sudut panggung sambil menyekat keringat yang mengalir dipelipinya.
Acara penyerahan hadiah berlanjut sesuai yang dinginkan walau sendari tadi terus terhambat karna masalah ini dan itu. Penyerahan piala dilakukan langsung oleh Daniel. Selain putra dan putrinya, bagi peserta yang lain ini merupakan suatu kehormatan yang patut dibanggakan. Tepat waktu disaat penyerahan piala untuk juara pertama, Tn. Pinkston berhasil membujuk Nisa untuk kembali naik ke atas panggung. Tapi Chris terpaksa harus bersembunyi karna Nisa masih tidak berani menatap wajah Chris.
Sementara di ruang pertunjukan semua orang dibuat terhibur dengan acara perlombaan sains dan teknologi yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, namun tidak bagi Rica. Saat ini ia masih menangis diam-diam di salah satu ruang kelas sekolah yang sepi dari semua orang. Bahkan ibunya sendiri belum kunjung menemukan ia sampai sekarang.
"Siapa kau? Pergilah! Aku tidak mau bertemu siapapun," usir Rica sambil melemparkan sebuah buku yang ada didekatnya.
Gadis itu dengan mudah menangkap buku tersebut. "Aku mengerti betul apa yang kau rasakan saat ini, Rica."
"Darimana kau tahu namaku?"
"Itu tidak penting. Aku ingin membantumu."
"He, apa yang bisa kau bantu? Musuhku adalah Julia dan ia merupakan putri dari keluarga Flors. Aku bisa apa agar aku dapat membalaskan dendam ini?!!" dengan sangat kesal Rica memukul meja sampai meja kayu tersebut berlubang.
"Musuhku juga Julia, sayang. Jadi kenapa aku tidak memanfaatkan emosi berlebihan mu ini untuk menghancurkannya?"
"Kau mau memanfaatkan ku? Siapa kau itu sebenarnya?"
__ADS_1
"Kebanyakan orang mengenalku dengan sebutan Lady Blue. Kau bisa memanggilku dengan sebutan yang sama."
Rica tersentak begitu mendengar nama tersebut. "Lady Blue?! Paman perna bilang kalau Lady Blue merupakan seorang wanita yang paling menggemparkan dunia bawah tanah akhir-akhir ini di kota sebrang. A, apa kau sungguh Lady Blue?"
"Ini memang aku. Jadi, bagaimana? Apa kau bersedia menerima tawaranku? Ini kesempatan yang baik untuk membalaskan dendam mu."
"Aku terima. Apapun yang bisa aku lakukan untuk menghancurkan Julia, akan aku lakukan! Lihat saja nanti Julia!" Rica mengepalkan tangannya dengan sangat kuat sebagai bentuk kemarahannya.
"Gadis pintar."
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
Setelah acara selesai, semuanya bubar. Kebanyakan semua orang pergi makan siang karna memang sudah waktunya. Tn. Vincent sempat menawarkan diri menjamu keluarga Flors makan siang bersama namun segera ditolak. Mereka lebih memilih makan siang di kantin sekolah hanya saja meminta disiapkan ruang makan pribadi. Daniel dan Lina ingin mencicipi makan yang selama ini putra dan putri mereka makan sejak masuk ke sekolah. Selesai makan siang, dengan happy nya Julia menujukan setiap tempat yang ada disekolah tersebut. Ruang kelasnya, kamar asramanya, ruang musik dan banyak lagi. Tak lupa Julia juga memperkenalkan teman-teman, Wendy dan Febby.
Setelah mengetahui kalau Julia merupakan putri dari keluarga paling berpengaruh di ibu kota membuat mereka merasa canggung untuk berbincang seperti biasa. Mereka bedua kerap kali minta maaf atas perlakuan mereka yang mungkin menyinggung Julia atau perna sesekali membentak Julia yang memang terkadang membuat kesal orang. Tapi Julia berusaha menyakinkan kedua temannya itu untuk memperlakukan ia sama seperti sebelumnya. Ia mengingatkan soal janji sewaktu pertama kali mereka bertemu. Janji yang menyatakan tidak peduli mau dari kalangan atas amaupun menengah, perlakukan antara satu sama lain tetap sama. Lina mendukung hal itu. Apa yang mereka lakukan barulah bisa dianggap sebagai sahabat.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε
__ADS_1