Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Mendekati bulan kelahiran


__ADS_3

Hari berlalu tanpa ada gangguan. Dendam dari Ariana telah terbalaskan dengan seperti yang diharapkan. Setelah pulang dari liburan, Lina kini telah ditetapkan secara resmi sebagai perwaris dari rumah lelang Red Krisan. Dan tentunya identitas dirinya sebagai pemilik rumah lelang masih tetap dirahasiakan sepenuhnya dari masyarakat luas.


Disamping kesibukannya berkuliah, Lina juga harus mengurus dan menjalankan bisnis rumah lelang Red Krisan, Casino berserta hotel. Ini pekerjaan yang cukup berat baginya yang sedang dalam masa kehamilan semakin memasuki bulan kelahiran. Ia mudah merasakan kelelahan. Lina lebih banyak menghabiskn waktunya duduk bersandar sambil menikmati cemilan atau sekedar berjalan-jalan kecil. Gerak janin dalam kandungannya tidak terlalu begitu aktif lagi. Itu mungkin disebabkan ruang gerak mereka telah berkurang karna tumbuh kembang mereka yang semakin sempurna.


Semakin memasuki bulan kelahiran, Lina dan Daniel menyempatkan diri menghias kamar tidur bayi, bahkan sampai ruang bermain. Kamar penuh dengan warna cerah benar-benar membawah kehangatan yang begitu mereka nantikan. Lina semakin sering berlama-lama di kamar tersebut. Seluruh hal yang berhubungan dengan bayi kini tidak membuatnya gugup lagi. Ia mala sebenarnya sudah tidak sabar melihat kehadiran mereka.


Kabar menghilangnya Stevan kian memudar tertutupi berita-berita lainnya. Tapi keluarga tersembunyi telah menebak kalau Stevan kemungkinan besar telah dibunuh oleh seseorang atau sekelompok orang. Namun mereka sama sekali tidak mempedulikan hal itu. Mereka tidak berniat mencari siapa dan mengapa Stevan dibunuh. Semua itu dikarenakan hasil penyelidikan saat mencari keberadaan Stevan yang mengungkapkan rencana pemberontakannya. Dengan bantuan petunjuk-petunjuk yang diberikan Ducan secara diam-diam, keluarga tersembunyi berhasil menemukan markas rahasia milik Stevan yang telah hancur berkeping-keping. Diantara puwing-puwing bangunan itu lah mereka menemukan rencana pemberontakan tersebut.


Sedangkan untuk Violet. Ia dinyatakan hilang dan masuk ke jajaran orang hilang yang sedang dicari. Mengingat sering terjadi orang hilang yang menimpa gadis-gadis di kalangan keluarga atas (sebagian karna ulah Lina), berita menghilangnya Violet tidak terlalu lama menggema di publik. Namun untuk gosip yang menyebar di dunia bawah tanah, hilangnya Violet kemungkinan besar dikarenakan orang-orang yang mengincar kekayaan rumah lelang. Ducan membiarkan gosip-gisip itu menyebar diantara masyarakat. Biarlah seluruh masyarakat berpikir demikian.


Rasa sedikit rindu pada Violet terkadang muncul dalam benak Ducan. Tapi semua itu hilang seketika begitu mengingat keserakahan dan tidak tahu malu Violet. Seandainya Violet bersedia menyerahkan Token rumah lelang itu, ia pasti tidak akan mengalami peristiwa yang cukup tragis. Ia masih bisa menikmati hidupnya sebagai putri keluarga Cershon. Namun keserakahannya membawanya menemui ajalnya sendiri.


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


"Eehh.... Uhuuu...."


Lina tiba-tiba merasakan ngilu di punggungnya disaat hendak berjalan kembali ke kamar. Ia sedikit membungkukan badannya ke depan dengan tangan kanan berpegangan pada dinding dan tangan kiri menopang perutnya. Judy dan Emma yang melihat itu bergegas menghampiri.


"Anda baik-baik saja nona Lina?" tanya Emma.


"Aku baik, perutku cuman sedikit kram."


Lina kembali menegakkan punggungnya begitu rasa ngilu itu hilang. Emma dan Judy membantu membimbing Lina kembali ke kamar. Sampai di kamar, Lina menyandarkan tubuhnya di sofa.


"Apa anda ingin makan sesuatu nona Lina? Saya bisa ambilkan," kata Judy menawarkan.


"Tidak, terima kasih."


"Em... Nona Lina. Apa benar tadi itu cuman kram biasa?" tanya Emma yang membuat Lina bingung.


"Maksudnya?"

__ADS_1


"Iya, mungkin saja itu semacam kontraksi palsu."


"Tidak mungkin. Menurut perkiraan dokter Anna, setidaknya seminggu lagi aku akan merasakan kontraksi pertamaku."


"Tapi perut anda terlihat sudah sangat turun dan kencang. Apa mungkin perkiraan dokter Anna salah?" ujar Judy.


Mendengar itu membuat Lina menatap perutnya. "Apa benar itu? Sebenarnya aku merasa kalau salah satu bayiku sudah turun ke pinggul. Aku mungkin bisa melahirkan kapan saja."


"Mengingat anda telah memasuki bulan kelahiran. Tinggal menghitung beberapa hari lagi bagi bayimu untuk lahir. Bolehkah?" Emma meminta persetujuan Lina untuk memperbolehkan mengelus perutnya.


"Silakan."


Dengan senyum riang diwajahnya, Emma membelai lembut perut Lina yang tersembunyi dibalik gaun merah muda itu. "Uhuu... Perut anda benar-benar terasa kencang. Sebentar lagi anda akan menjadi seorang ibu. Bagaimana perasaanmu?"


"Em... Sebenarnya aku takut. Benar-benar merasa takut saat menjelang persalinan nanti. Beberapa hari ini aku tidak bisa tidur nyenyak karna memikirkan hal ini. Seberapa sakit kah melahirkan itu? Aku... Aku merasa tidak sanggup," Lina tertunduk murung menatapi kandungannya.


"Alah nona Lina. Anda jangan terlalu memikirkan hal itu. Anda pasti bisa. Tuan muda akan menemanimu sepanjang anda melewati masa kontraksi nanti. Anda tidak perlu takut. Jangan pikirkan rasa sakitnya tapi pikirkanlah bahwa anda sedang berjuang untuk mereka," Judy meletakan telapak tangannya diatas perut Lina. "Disini ada kehidupan baru yang sedang menantikan ingin melihat dunia."


Kata-kata Judy membuat Lina sedikit tenang. "Aduduuuh........... Perutku sakit sekali! Sepertinya, aku mau melahirkan," rintih Lina dengan raut wajah kesakitan.


"Tarik nafas nona Lina. Haa... Huu..." Emma membantu Lina untuk tetap tenang dan menyarankan mengatur nafasnya.


"Haa.... Huu.... Haa.... Huu.... Egghhhh...... Ahhh.....! Kepalanya sudah keluar!" pekik Lina membuat Judy dan Emma semakin panik.


"Aku, aku akan mengambil handuk bersih dan air hangat," Judy terlihat kalang kabut mengatasi situasi tersebut.


"Bercanda!" kata Lina sambil membetulkan posisi duduknya.


Judy dan Emma seketika mematung sesaat. Mereka sungguh tidak percaya apa yang dilakukan Lina. Judy terduduk lemas di lantai dengan handuk di tangannya. Lina telah membuat mereka berdua panik bukan main. Mereka pikir tadi itu sungguh benaran kalau Lina mau melahirkan.


"Nona Lina, anda membuat kami panik!" teriak mereka bersamaan.

__ADS_1


"Hihihi... Maaf," Lina cuman terkekeh begitu sukses mengerjai mereka.


"Kucing kecil!" teriak Daniel yang menerobos pintu kamar dengan raut wajah panik. "Apa kau sungguh mau melahirkan? Aku dengar dari bawah... Kalau bayinya sudah keluar."


Pandangan Lina dan Daniel bertemu. Kemudian...


"Hahaha....."


Tawa Lina, Judy dan Emma mengisi ruangan begitu melihat raut wajah super panik dari Daniel. Daniel mala kebingungan dengan reaksi mereka.


"Raut wajah sang ayahnya jauh lebih panik lagi," ejek Judy.


"Sepertinya yang paling tegang nantinya adalah sang ayah," sambung Emma mengejek.


"Aku tidak sabar melihat ekspresi itu lagi."


"Emma, Judy. Apa gaji kalian mau aku potong!!" bentak Daniel kesal.


"Kabur....!"


Teriak Emma dan Judy sambil berlari ke luar kamar. Mereka masih tertawa apa lagi melihat wajah Daniel yang marah.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


ξκύαε


__ADS_2