Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Dari dingin diubah ke hangat


__ADS_3

"Sadarlah Rica, siapa yang baru saja kau lawan?!! Apa kau mau menghancurkan keluarga ini?" bentak Tn. Pinkston tidak tahan lagi melihat kelakuan Rica.


"Kau bukan ayahku. Kau tidak bisa mengaturku!" Rica berlari pergi turun dari panggung sambil menyekat air matanya.


"Bagus sekali. Ini yang kami dapat setelah semua yang kami lakukan untukmu," lirik tajam Ny. Pinkston pada suaminya.


"Sebaiknya urus saja putrimu yang tidak tahu malu itu! Dia benar-benar membuatku tidak memiliki harga diri lagi. Aku sungguh salah menilai kalian!"


"Hm! Kau akan menyesali ini," Ny. Pinkston berbalik pergi menyusul putrinya.


Tn. Pinkston berbalik menghadap Danielan Lina lalu membungkukkan badannya. "Saya benar-benar minta maaf pada anda berserta keluarga atas kejadian barusan. Rica telah bertindak diluar kendali. Saya akan bertanggung jawab atas semua masalah ini."


"Ini kedua kalinya dan belum lama ini kami memperingatkan kalian. Wow, sungguh luar biasa nyali keluarga kecilmu ini Tn. Pinkston. Jika kau menjadi aku, apa yang akan kau lakukan?"


Aura dingin yang kuat seketika menyelimuti seisi ruangan. Bagi yang menonton saja ikut merasakan tekanan yang sangat kuat itu. Tak terbayang apa yang dirasakan oleh Tn. Pinkston itu sendiri. Rumor tentang betapa beku dan menakutkanya Tn. Flors yang telah lama beredar selama ini kini bukan lagi rumor belakang bagi orang-orang yang baru kenal dengannya. Dengan tubuh gemetar, Tn. Pinkston tidak tahu harus menjawab apa.


"Aku..."


"Pa..." panggil Julia memecah kesunyian itu. Ia memberi isyarat dengan matanya untuk melirik ke Nisa.


Daniel segera mengerti dan melirik Nisa yang terlihat menatap sedih ayahnya. Ia bingung harus melakukan apa. Di satu sisi Rica memang telah melakukan kesalahan besar tapi disisi lain ayahnya sendiri harus menanggung akibat dari masalah ini. Yang mana yang harus ia pilih? Sanggup kah ia meminta permohonan maaf untuk ayahnya pada keluarga Flors? Nisa merasa tidak yakin, walau ia tahu kalau keluarga Flors tidak sedingin dan sekejam apa yang orang bilang. Tapi apa yang dilakukan Rica barusan benar-benar terlalu lancang dan tidak bisa dimaafkan. Melihat Tn. Flors melirik putri kandungnya membuat Tn. Pinkston mengikuti arah tatapan tersebut.


"Nisa," kata Tn. Pinkston pelan dalam hati. Gadis kecil yang ia selalu abaikan akankah menjadi penyelamatnya untuk hari ini?


Daniel menghela nafas panjang. "Hah... Setelah acara selesai, segera temui aku Tn. Pinkston," ucapnya dengan sangat enggan menatap pria dihadapannya ini.


"Baik. Terima kasih Tn. Flors," Tn. Pinkston menegakan tubuhnya lalu menghampiri Nisa, kemudian memeluknya. "Terima kasih," bisiknya.


"Ayah, kenapa kau berterima kasih padaku? Aku tidak melakukan apapun," tanya Nisa yang kebingungan.


"Tidak, seharusnya aku minta maaf yang sebesar-besarnya padamu. Maafkan ayah sayang. Selama ini ayah terlalu sibuk berkerja dan mengabaikan mu, tidak mematau tubuh kembangmu dari dekat, tidak ada disisimu, aku sungguh ayah yang buruk. Aku terlalu mempercayakan dirimu pada Gloria."


"Sudahlah ayah. Ayah tidak perlu minta maaf."


"Tidak. Aku bersalah padamu dan pada ibumu. Selama ini aku terlalu menuruti semua kemauan dan rengek Rica sampai aku melupakan putri kandung ku sendiri. Dan sekarang, putri tiriku yang selalu kuturiti semua kemauannya telah menghacurkan hidupku, tapi putri kandungku yang terabaikan malah masih bersedia datang serta mengulurkan tangannya untuk menyelamatkan ayah yang tidak bergunai ini."

__ADS_1


"Kau cukup keterlaluan Tn. Pinkston," kata Lina menyela kalimat Tn. Pinkston. "Mengurus perkerjaan memanglah penting tapi memberikan kasih sayang serta perhatian pada anak lebih penting. Itu tanggung jawab sebagai orang tua."


"Aku tahu itu dan aku sadar sekarang, kalau cuman membekali putriku dengan kekayaan berlimpah saja tidaklah cukup. Kasih sayang orang tualah yang terpenting untuknya. Maukah kau memaafkan ayahmu ini? Katakan saja apa yang kau mau, ayah pasti akan menurutinya. Atau bila perlu hukumlah ayahmu ini, luapkan emosimu karna kesalahan terbesarku padamu."


"Tidak, ayah. Aku tidak perna menyalahkan ayah. Apa yang ayah lakukan untukku aku yakin semuanya demi kebaikan ku."


"Benarkah apa yang kau katakan itu?" tanya Chris sambil berjalan menghampiri ayah dan anak itu.


"Chris? Apa yang mau ia lakukan?"


Baru saja dibuat bingung dengan kalimat Chris pada Nisa dan ayahnya, Via tiba-tiba menarik tangan Julia mundur kebelakang. Terlihat semua yang ada di atas panggung sudah berbaris rapi, kecuali keluarga Flors dan kepalah sekolah yang berbincang disudut panggung pertunjukan. Dengan masing-masing tablet ditangan mereka yang terhubung ke satu laptop. Julia malah semakin bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi?


"Ada apa ini bibi Via?" tanya Julia.


"Sustt... Tadi Chris meminta tolong padaku..."


Lima menit yang lalu.


"Prof. Via," panggil Chris.


"Boleh minta tolong sesuatu?"


"Tolong apa? Katakan saja."


Chris mendekat ke telinga Via lalu berbisik.


"Ee... Benarkah? Kyaaah... Romantis nya. Aku akan dengan senang hati menolong mu."


Via langsung menyetujui permintaan dari Chris. Ia segera menceritakan rencana ini pada semua peserta pemenang lomba dan tidak disangka mereka langsung menyetujuinya. Tanpa sepengetahuan Nisa dan Tn. Pinkston, mereka semua bersiap-siap.


"Kenapa acara perlombaan sains dan teknologi berubah menjadi seperti ini?" tanya Julia dengan ekspresi datar.


"Sesekali tidak apa-apa, kan? Itung-itung mencairkan suasana yang papamu bekukan. Semua penonton malah jadi ketakutan."


"Siapa yang mengoperasikan laptop nya?"

__ADS_1


"Tadinya aku mau meminta Julius tapi ia tidak mau.."


"Kalau begitu aku saja," potong Julia. Ia menghampiri laptop yang tergeletak di atas meja. Ia siap melakukan apa yang diarahkan.


Sementara itu pipi Nisa sedikit memerah melihat Chris. Ia memalingkan wajahnya dan memberanikan diri bertanya. "A, apa maksudmu barusan?"


"Soal setiap keputusan orang tua pasti untuk kebaikan anaknya."


"Tentu saja. Mana ada orang tua yang tidak menyayangi anaknya? Cuman terkadang cara yang digunakan lah yang salah."


"Menurutmu begitu?"


"Iya."


Chris semakin mendekatkan dirinya dihadapan Nisa sampai Nisa harus mengangkat kepalanya jika ingin menatap wajah Chris. Nisa semakin tidak mengerti apa yang terjadi. Jantungnya semakin berdetak kencang disaat Chris menggengam tangannya. Via segera memberi isyarat pada Julia untuk memulai. Lampu panggung seketika meredup dan cuman menyisakan satu lampu yang menerangi Nisa dan Chris. Layar pada tablet yang dipengang masing-masing orang satu persatu menyala, menampilkan gambar yang saling terhubung antara satu sama lain.


"Seharusnya aku memberitahu hal ini setelah kau berumur 18 tahun tapi aku tidak sanggup menunggu selama itu. Aku tidak mau kehilanganmu, jadi..."


Chris kemudian berjongkok dihadapan Nisa. Ia merogoh saku jas seragamnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil. Dibukanya kotak tersebut yang berisi cincin berlian yang teramat cantik memantulkan cahaya lampu.


"Mau kah kau bertunangan denganku?" ucapnya.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε

__ADS_1


__ADS_2