Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Tertangkap basa


__ADS_3

"Semua yang aku katakan merupakan kebenaran. Aku sudah menyatakan perasaanku di malam pesta kembang api dan ia menerima ku. Senyumnya manis sekali semalam. Sungguh tidak akan bisa aku lupakan," Sean mengingat-ingat kebersamaan ia dan Julia di atas perahu dengan langit penuh kembang api.


"Aku juga tidak bisa melupakannya, sebab kau aku harus berenang di air yang dingin pada malam hari," gerutu Julia yang terus memperhatikan dari balik pohon.


"Hadiah yang kubuat untuknya juga di terima oleh Julia," ujar Alwen.


"Memangnya hadiah apa yang kau berikan?" tanya Yusra sedikit penasaran.


"Sebuah kue coklat stroberi. Ia memakannya sampai habis dan juga sempat memujiku."


"Kau cuman memberi hadiah. Jika ia menerimanya belum tentu ia menerima mu. Disini tetap akulah yang menang."


"Belum bisa secepat itu. Buktikan dulu kalau kalian memang sudah pacaran," pinta Yusra. Ia masih tidak mau menerima kekalahannya.


"Baik. Setelah acara perlombaan ini selesai, akan aku buktikan pada kalian."


"Tidak perlu menunggu selama itu. Aku sudah ada disini," kata Julia yang keluar dari tempat persembunyiannya.


"Ju-Julia?! Se, sejak kapan kau ada disini?" Sean tersentak kaget melihat kehadiran Julia. Ia takut kalau Julia mendengar percakapan mereka tadi.


"Ooh... Sudah cukup lama. Aku mendengar semua percakapan kalian. Jadi kalian bertiga cuman mengangapku sebagai bahan taruhan ya. Kalian pikir aku barang yang bisa kalian mainkan seperti itu?!!" bentak Julia dengan tatapan marah.


"Tidak. Ju-Julia, aku bisa jelaskan ini. Aku tidak bermaksud mempermainkan perasaanmu. Aku sungguh mencintaimu," kata Sean membela diri.


"Tapi aku tidak. Aku sama sekali tidak serius menerima mu, Sean. Aku sengaja melakukan ini untuk mencari tahu kenapa kalian bersikeras mengganggu ku padahal salah satu dari kalian sudah jelas telah mencintai orang lain."


"Mencintai orang lain? Siapa?"


Yusra dan Sean dibuat bingung mendengar hal itu. Sedangkan Alwen telah memalingkan mukanya begitu Sean dan Yusra menoleh padanya.


"Alwen," kata mereka bersamaan dengan ekspresi datar.


"Jangan menyalahkan ku. Awalnya aku memang menyukai Julia tapi lama-kelamaan aku sadar kalau perasaan suka itu cuman sekedar rasa kagumku padanya bukan cinta," jelas Alwen.

__ADS_1


"Tapi kau tidak mau kehilangan mobilmu, bukan? Sebab itu kau memberi aku kue persahabatan, dengan harapan aku tidak menerima salah satu dari kalian, jadi mobilmu tetap aman."


"Kau sangat pandai menebak pikiranku, sayang."


"He! Ingin kutonjok wajahmu itu tapi kue buatanmu sangat enak. Aku begitu menyukainya."


"Terima kasih. Mungkin lain kali aku akan membuatkan kue lainnya untuk mu."


"Aku sangat menantikannya."


"Datanglah ke toko kue kami. Besok ada promo, bagi pelanggan yang telah membeli kue terbanyak di toko kami akan mendapat gratis satu kue coklat."


"Benarkah? Ada diskon sahabat, tidak?"


"Untukmu tidak ada?"


"Hah? Kenapa?"


"Teman mu bilang, toko itu bisa bangkrut jika harus memberimu diskon setiap kali kau membeli kue."


Arah percakapan Julia dan Alwen malah menyimpang dari permasalahan yang terjadi. Alwen malah mempromosikan toko kuenya. Melihat suasana disekitar Julia mulai hangat, Sean memanfaatkan hal itu untuk menjelaskan. Ia harap Julia mau mengerti dan memaafkan dirinya.


"Okey Julia, Alwen tidak memiliki perasaan padamu tapi bukan berarti aku tidak. Dari hatiku yang terdalam aku sungguh mencintaimu Julia! Semua kata-kata yang aku ucapkan pada mu malam itu adalah kebenaran. Aku sama sekali tidak membohongi mu!" jelas Sean.


"Tetap salah, Sean," lirik Julia pada Sean. "Biarpun kau bersungguh-sungguh memiliki perasaan padaku tapi gadis mana yang mau dijadikan bahan taruhan seperti ini? Kami sama sekali tidak bangga diperlakukan layaknya barang oleh kalian."


"Maafkan aku Julia. Aku benar-benar minta maaf padamu," kata Sean dengan sangat memohon. Ia merasa bersalah pada Julia.


"Aku sudah memaafkanmu."


"Benarkah?" Sean tidak percaya atas apa yang didengarnya. "Kau telah memaafkan ku?"


"Iya. Tapi bukan berarti aku menerima cintamu. Aku tidak mau berpacaran dengan orang yang tidak aku cintai. Perasaan seorang wanita bukanlah sesuatu yang bisa dimainkan," Julia berbalik hendak kembali masuk ke gedung sekolah. "Ayok pergi, Sean. Aku datang kesini cuman sekedar mencarimu..."

__ADS_1


"Kalian para wanita benar-benar merepotkan," potong Yusra yang sendari tadi diam.


"Hah?" Julia lantas berhenti dan melirik tajam pada Yusra.


"Seharusnya kalian bersyukur dapat disukai oleh kami. Kalian bisa mendapatkan apa yang kalian mau. Bukankah itulah yang kalian sukai?"


"Kau menganggapku sebagai wanita rendahan yang kerjaannya mengemis pada laki-laki seperti kalian! Jangan samakan aku dengan mereka!! Jika kau menginginkan wanita seperti itu, cari saja wanita penghibur! Ada banyak diluar sana yang bersedia melakukan apa saja untukmu jika kau membayar mereka!" Julia menarik nafas panjang untuk menenangkan dirinya. "Inilah yang aku benci dari tuan muda kaya seperti kalian! Bisanya kalian cuman mempermainkan perasaan wanita. Kalian hanya menganggap kami ini seperti boneka yang sudah bosan dimainkan lantas dibuang layaknya sampah! Hm! Kalian pikir dengan uang-uang itu bisa melakukan apa saja yang kalian mau sesuka hati? Tidak! Sama sekali tidak! Aku lebih suka mencari pria dari kalangan rakyat biasa dari pada tuan muda seperti kalian."


"Kau pikir dirimu itu siapa? Berani sekali berkata seperti itu padaku! Aku adalah...


"Tuan muda Arlo!" potong Julia dengan nada tinggi. Amara yang terpendap tidak bisa tertahan lagi. "Jangan kau berpikir karna menggenggam nama keluarga Arlo kau bisa bangga dihadapanku! Kau belum tahu siapa aku yang sebenarnya. Berdoa saja kalau kita tidak akan dipertemukan dalam keadaan bermusuhan. Lady Blue saja tidak akan bisa menyelamatkan mu!"


Yusra seketika diam. Aura yang terpancar dari Julia terlalu mengerikan ditambah dengan tatapan tajam membunuh itu. Bukan hanya Yusra saja yang dibuat tertekan dengan aura tersebut, bahkan Sean yang sudah perna menyaksikan kekejaman Julia dalam membunuh seseorang pun tidak bisa bergerak karnanya, apa lagi Alwen yang tidak tahu apa-apa.


"Aura yang sangat mengerikan dan lebih kental dari terakhir aku merasakannya di mall waktu itu. Siapa dirimu yang sebenarnya, Julia?" batin Sean.


"Hei, Sean. Kau jadi ikut tidak? Sekarang giliran tim kita melakukan presentasi," panggil Julia dengan ekspresi dingin.


"Tidak. Aku tidak sanggup bertemu kakak mu. Aku sudah menyakiti hati adik kesayangannya. Sampaikan kata maaf ku pada Julius dan Nisa."


"Baiklah."


Julia berbalik pergi meninggalkan ketiga pria tersebut. Ia berlari menuju ruangan dimana Julius dan Nisa berada. Karna semua hal yang terjadi membuat Julia benar-benar terlambat dari jadwal presentasi timnya. Jauh dari luapan amarahnya pada ucapan Yusra, Julia sekarang lebih takut pada kemarahan kakaknya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


ξκύαε


__ADS_2