
"Bagaimana jalan-jalannya? Menyenangkan?" tanya Daniel dengan senyuman, namun melihat senyum itu membuat Lina merinding.
"Menyenangkan," Lina seketika langsung menutup mulutnya dan mengalihkan pandang. "Kenapa setiap kali berhadapan dengannya aku selalu keceplosan?"
"Aku mendapat kabar dari Rey kalau kalian diserang di taman hiburan. Apa kalian baik-baik?"
"Apa yang kakak tanyakan ini? Tidak akan ada yang berani menyakiti kami. Bernarkan keponokanku?" Via sudah memeluk pinggang Lina sambil mengelus perut Lina.
"Via, kau sudah lebih dari 20 kali mengelus perutku hari ini."
"Aku tidak bisa menahannya. Mereka sangat menggemaskan," Via mala semakin gemas mengelus perut Lina.
"Dasar Via, melihatnya mala membuatku juga ingin mengelusnya," batin Daniel. Ia mengalihkan pandangnya Via. "Ehem... Kucing kecil..."
"Maaf nona Lina, kami kehilangan jejak mereka."
Potong Rey yang melangkah menghampiri bersama dengan tiga orang di belakangnya. Dua diantaranya masih merupakan anak buah Daniel dan yang satunya seperti salah satu dari komplotan orang-orang yang menyerang mereka tadi. Keadaannya sedikit penuh luka dengan mata yang ditutup kain.
"Tapi kami berhasil menangkap salah satu dari mereka untuk menjadi teman main mu."
"Kerja bagus Rey. Terima kasih."
"Lepaskan aku! Kalian tidak akan mendapatkan informasi apapun dariku!" teriak pria itu sambil berusaha melepaskan diri.
"Kau mau membuka mulut atau tidak itu urusanmu nanti. Yang jadi pertanyaan apa kau bisa bertahan lebih lama saat bermain dengan kami?" Lina berjalan mendekati pria tersebut. "Sebagai seseorang dari dunia bawah tanah tentunya kau harus lebih kuat dari pada orang-orang yang perna bermain denganku. Jangan kecewakan aku."
Lina memaksa pria itu untuk membuka mulutnya dan menelan sebuah pil.
"Uhuk! Uhuk! Apa yang kau berikan padaku?!!" bentak pria itu sambil terbatuk-batuk.
"Jangan takut. Itu bukalah racun. Pil itu cuman akan membuatmu kehilangan tenaga saja. Bawa dia ke ruang bawah tanah."
Rey dan kedua rekannya segera membawa pria itu ke ruang bawah tanah sesuai perintah Lina. Daniel menghampiri Lina.
"Permainan seperti apa yang ingin kau lakukan padanya?"
"Sebenarnya aku sedikit malas hari ini. Jadi temani aku ya mainnya."
"Sesuai permintaanmu."
"Via juga mau ikut?" tanya Lina pada Via.
__ADS_1
"Tidak. Aku tidak terlalu suka penyiksaan. Lebih baik langsung menembak mati saja mereka."
"Terima kasih adikku," kata Daniel dengan menggunakan isyarat mata.
"Bukan masalah kak. Selamat bersenang-senang," balas Via dengan isyarat yang sama.
"Kalau begitu ayok kita ke ruang bawah tanah sekarang."
Daniel merangkul bahu Lina menuju ruang bawah tanah. Sampai disana, terlihat pria tadi sudah dalam keadaan kedua tangan dan kakinya dirantai di dinding. Penutup mata pria itu di lepas disaat Daniel dan Lina menghampiri. Jarak mereka dengan pria tersebut kurang lebih 3 meter sekarang.
"Kau?! Bukankah kau adalah Daniel, seorang tuan muda dari kelompok mafia Black Mamba," kata pria tersebut begitu melihat Daniel.
"Ternyata kau mengenali ku."
"Siapa yang tidak kenal kau? Seluruh orang yang berkaitan dengan dunia bawah tanah pasti tahu dirimu," mata pria itu kini beralih melihat Lina. "Dan kau bukankah gadis yang ada di taman hiburan sore tadi. Apa yang kau lakukan disini?"
"Tentu saja bermain," Lina melemparkan panah dart yang telah disiapan. Panah itu tepat mengenai bahu kanan pria tersebut.
"Aw!" teriak pria itu begitu panah dart mengenai tubuhnya. "Siapa kau? Aku tidak ada urusannya dengan mu!"
"Memang tidak ada tapi aku memiliki urusan dengan bosmu," Lina melenapkan panah dart lagi dan kali ini menancap di legan pria itu. "Katakan dimana bosmu dan siapa dia?"
"Sudah aku katakan aku tidak akan bicara, mau bagaimanapun kau berusaha."
Rey melangkah pergi begitu mendengan perintah itu. Tidak berselang lama, Rey kembali dengan satu set pisau lengkap. Ia menyerahkan kotak berisi pisau tersebut pada Daniel.
"Ini pisau nya tuan muda."
Daniel menerima kotak itu lalu membuka nya. Berbagai jenis pisau tersedia dalam kotak tersebut. Daniel mengambil satu pisau ukuran sedang dan memberikannya pada Lina.
"Coba yang ini."
Lina menerima pisau itu lalu melemparkannya ke arah pria tersebut. Pisau itu tepat menancap di pinggang kiri pria tersebut.
"Argh!"
Teriak pria itu tertahan. Darah segar mulai mengalir dari lukanya.
"Apa sekarang kau mau bicara atau masih membungkam mulutmu?" tanya Lina lagi sambil memainkan pisau di tangannya.
"Biarpun kau menyiksaku sampai mati aku tetap tidak akan bicara!"
__ADS_1
"Sesuai permintaanmu," Lina melemparkan pisau ditangannya dan kali ini pisau itu menebus mata pria tersebut.
"ARRGH ! ! !"
"Kau mau mencobanya?" Lina memberikan satu pisau pada Daniel.
"Ini terlalu kecil. Bagaimana kalau yang ini," Daniel memilih pisau daging. Pisau yang paling besar diantara semua pisau.
"Silakan, tapi usahakan jangan membunuhnya."
"Mengenai kakinya mungkin bukan masalah."
Daniel melemparkan pisau daging itu sekuat tenaga. Pisau itu melayang dan berakhir memotong putus kaki kanan pria tersebut.
"AAAAAH.......! ! !" teriak pria itu menggema di ruang bawah tanah. Darah menetes ke lantai dan mulai menggenang.
Lina berjalan mendekati pria itu dengan membawa pisau paling kecil diantara semua pisau yang ada. "Aku masih memberimu kesempatan untuk bicara. Mau bicara atau tidak?"
"Tidak! Aku tetap tidak mau bicara. Kalau perlu kau langsung bunuh saja aku! Karna kau tidak akan perna dapat mengorek informasi apapun dariku!" kata pria itu dengan nada tinggi.
"Aku hargai kesetiaanmu pada tuanmu, tapi apa boleh aku bertanya? Kenapa kau begitu setia?" tanya Lina sambil memainkan pisau disela-sela jarinya.
"Pertanyaan yang begitu aneh?"
"Jawab saja. Kenapa kau begitu setia pada tuanmu? Apa yang telah ia berikan padamu? Tidak ada. Seberapa penting dirimu di mata nya? Kau hanya sebuah pion. Jika kau kembali dalam keadaan seperti ini, apa tuanmu masih mau menerima mu? Sebuah pion yang rusak tidak bisa digunakan lagi dan akan berakhir di tempat sampah. Aku tahu bosmu bukanlah orang sembarangan. Ia pasti memiliki banyak bawahan. Kehilangan satu atau mengorbankan beberapa bawahannya bukan masalah untuknya. Pikirkanlah baik-baik, dia tidak akan mengirim sekelompok orang untuk menyelamatkan satu orang yang tidak penting seperti dirimu. Dia tidak peduli dengan nyawa kalian. Mau seberapa banyak bawahan yang bisa ia korbankan, jika itu bisa membuat ia mencapai tujuannya maka ia pasti lebih memilih mengorbankan nyawa kalian."
"Ini... Em..." muncul keragu-raguan dalam benak pria itu. Keteguhan hatinya mulai goyang.
"Aku akan melepaskan mu jika kau memberi informasi yang berguna."
"Aku baru tahu kalau kucing kecil juga pandai menghasus orang. Dengan beberapa kalimat sudah membuat keteguhan hati seseorang buyar," batin Daniel.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
ξκύαε