Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Aku belum siap


__ADS_3

Lina menyerakan uang tunai sesuai nominal yang tertera. Daniel sebenarnya memberi Lina sebuah kartu ATM dengan nominal yang tidak diketahuinya. Semua uang itu untuk keperluan Lina sehari-hari selain yang telah tersedia di rumah Daniel. Lina sangat jarang menggunakan uang ini karna memang tidak ada yang ingin di belinya. Keperluan sehari-harinya tersedia lengkap di rumah tersebut. Selama ini Lina hanya menggunakan uang untuk membayar kontrakan, token listrik, dan keperluan makan dan minum. Untuk barang-barang seperti baju, tas, sepatu atau perhiasan sebisa mungkin Lina bertahan dengan semua yang dimilikinya.


Alasan Lina menggunakan uang tunai karna ia takut Daniel akan tahu apa yang dibelinya hari ini. Setelah melakukan pembayaran dan barang sudah di dapat, Lina kembali ke mobil. Mobil kembali melaju di jalan dengan keramaian kota biasa. 15 menit kemudian mobil memasuki halaman rumah dan tepat berhenti di depan pintu. Dengan cepat Lina bergegas kembali ke kamar nya untuk mengetes apa benar dia hamil atau tidak.


Di kamarnya dalam kamar mandi, Lina mulai menggunakan alat tes kehamilan tersebut. Ia sedikit gugup saat ingin melihat hasilnya. Ia berharap kalau semua gejala yang dialaminya bukanlah karna ia hamil. Ia belum sanggup menerima kenyataan menjadi seorang ibu, memiliki bayi. Tidak, tidak. Itu masih terlalu jauh. Ia tidak dapat membayangkan akan ada janin yang tubuh dan berkembang dalam dirinya. Perut yang semakin hari membesar dan ia akan merasakan pergerakan atau tendangan dari janin nya yang aktif. Memikirkannya saja membuat Lina semakin gugup. Apa lagi untuk menghadapi persalinan. Rasa sakit akibat kontraksi dan melahirkan.


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan di pintu kamar mandi membuyarkan lamunan Lina. Ia terlalu kaget dan takut ada yang mengetahui alat tes kehamilan ini reflek langsung membuangnya ke tempat sampah tanpa sempat melihat hasilnya.


"Nona Lina! Apa anda ada di dalam saja?" panggil Judy dari luar pintu kamar mandi.


"Iya," jawab Lina. Ia menghampiri pintu lalu membuka nya. "Ada apa Judy?"


"E... Apa yang anda lakukan di..."


"Tidak ada," potong Lina seketika.


"Saya cuman mau mengatakan tuan muda akan pulang telat malam ini. Ia memintaku menyampaikan pada koki dirumah membuatkan kudapan manis untuk nona Lina. Apa kau mau makan sekarang atau nanti?"


"Sekarang saja. Kita makan sama-sama. Koki membuat banyak, kan?"


"Iya."


Lina dan Judy turun ke bawah menuju ruang makan. Mereka semua makan bersama tanpa ada perbedaan apapun. Selesai makan mereka melanjutkan menonton tv bersama. Seperti biasa disaat Daniel tidak ada di rumah mereka akan bersenang-senang melakukan apa yang mereka suka. Perang batal, kejar-kejaran dengan suara tawa mengisi setiap ruangan. Semenjak kehadiran Lina di rumah ini, suasana yang dulunya tenang, damai, dan taat dengan peraturan berubah menjadi rumah yang ceria, penuh kenakalan dan tentunya mereka hanya berani bila tidak ada Daniel di rumah.


Keadaan rumah berantakan dengan semua barang-barang bertebaran dimana-mana. Lina, Judy, dan Emma tertidur pulas di sofa dengan keadaan tv masih menyalah. Mereka terlalu kelelahan sampai tidak sempat membereskan semuanya dan yang tidak terduga Daniel pulang lebih awal. Daniel yang melihat keadaan rumahnya seperti kapal pecah dan pelakunya tertidur pulas tampa dosa, ia hanya terdiam.


"I, ini..." Norman salah satu anak buah Daniel juga tidak bisa berkata-kata melihat hasil kelakuan mereka. "Habislah sudah. Mereka pasti mendapat hukuman dari tuan muda."


"Norman," panggil Daniel dengan aura dingin disekitarnya.

__ADS_1


"Ah... Iya, iya tuan muda. Ada apa?"


"Apa mereka selalu seperti ini disaat aku tidak ada?"


"Soal ini... Em... Iya tuan muda," jawab Norman ragu-ragu. "Maaf Judy, Emma dan nona Lina."


"Oh..." Daniel berjalan mendekati Lina yang tertidur. "Apa kucing ini yang mengajak mereka memporak-porandakan rumahku?"


"Em..."


"Tidak perlu jawab. Tentu saja dia. Tidak ada yang berani melakukan semua kekacauan ini kecuali dia. Kucing ini bahkan mengajak kedua pelayan di rumahku yang begitu disiplin," Daniel membopong tubuh Lina yang masih tertidur. "Biarkan mereka tidur tapi setelah bangun mereka harus membereskan semua ini."


"Baik tuan muda. Saya akan sampaikan perintah anda."


Daniel berlalu pergi membawa Lina ke kamarnya. Dibaringkannya tubuh Lina secara perlahan di atas tempat tidur. Ia lalu menutupi tubuh Lina menggunakan selimut. Melihat Lina tidur begitu nyenyak membuat Daniel tidak bisa marah padanya.


"Dia benar-benar seperti kucing kecil dengan berbagai kenakalannya namun sangat damai begitu ia tertidur," Daniel hendak pergi disaat tangan nya ditahan Lina.


"Aku takut," ngigau Lina dalam tidurnya.


"Aku belum siap punya bayi," Lina kembali mengigau.


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Paginya Lina sedikit kebingungan karna terbangun di tempat tidur. Ia ingat semalam kalau ia tertidur di sofa bersama Emma dan Judy dengan semua kekacauan yang belum di bereskan. Lina beranjak dari tempat tidur lalu bergegas turun ke bawah. Sampai disana ia mendapati semuanya sudah di bereskan.


"Siapa yang membereskan semua ini? Apa Judy dan Emma sempat membereskan semuanya sebelum Daniel kembali?" pikir Lina.


"Kau sudah bangun?"


Lina menoleh begitu mendengar suara Daniel yang berasal dari ruang makan. Lina menghampiri Daniel disaat Daniel menyuruhnya mendekat dengan isyarat jarinya. Tepat di atas meja makan Lina melihat berbagai jenis menu sehat. Ia sedikit bingung dengan itu. Apa ada yang dia lewatkan atau lupakan? Dan lagi kenapa reaksi Emma dan Judy menjengkelkan pagi ini.

__ADS_1


"Semua ini untukmu. Mulai sekarang kau harus makan makanan yang bergizi dan sehat, perhatikan jam tidurmu dan lakukanlah olahraga ringan tapi jangan sampai terlalu kelelahan," kata Daniel membuat Lina menaikan sebelah alisnya.


"Kenapa tiba-tiba kau menyuruhku untuk menjalankan hidup sehat? Aku tidak perlu diet."


"Semua ini demi kesehatanmu dan calon anak kita."


Perkataan Daniel ini membuat Lina tersentak kaget. "A, apa yang kau bicarakan? Calon anak? Aku tidak sedang hamil."


"Jangan mencoba menyembunyikannya lagi dariku. Tidak ada rahasia yang dapat kau sembunyikan. Qazi memberitahu ku kau meminta diantar ke apotek kemarin. Kau membeli alat tes kehamilan, kan?"


"Apa?! Dari mana ia tahu hal ini?" pikir Lina.


"Dan juga Emma menemukan alat tes kehamilan itu dalam tempat sampah di kamar mandi mu dengan hasil positif. Kau masih mau menyangkalnya lagi?"


Lina tidak bisa berkata apa-apa. Tapi ia masih ragu karna ia tidak melihat sendiri hasil dari alat tes kehamilan tersebut. "Tidak..."


"Kau masih tidak percaya? Kalau begitu ikut aku," Daniel menggandeng tangan Lina keluar menuju mobil.


"Kita mau kemana?" tanya Lina begitu mobil bergerak keluar dari halaman rumah.


"Kau akan tahu."


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


ξκύαε


__ADS_2