
Riuh tepuk tangan dari para penonton bersamaan dengan dua siswa dan dua siswi naik ke atas panggung. Mereka membawa sebuah akuarium yang berisi setengah air dari tinggi akuarium itu. Akuarium tersebut diletakan di atas meja yang sudah tersedia. Via menyerahkan micnya pada Hendry.
"Selamat pagi semuanya. Untuk project sains pada kesempatan hari ini, kami berempat merancang sebuah miniatur kapal yang mampu membersikan tumpahan minyak di air laut," jelas Handry. Ia meminta rekan-rekannya untuk segera memulai.
Anggukan diberikan oleh salah satu siswi dari rekannya. Siswi itu menumpahkan secangkir minyak mentah yang entah di dapat dari mana ke dalam akuarium yang berisi air tadi, dan siswi lainnya meletakan sebuah miniatur kapal dengan hati-hati ke dalam akuarium. Minyak perlahan mulai menyebar di permukaan air tersebut. Kapal dihidupkan menggunakan remot kontrol yang dikendalikan rekannya yang terakhir. Kapal tersebut bergerak maju dan mulai beroperasi menyaring tumpahan minyak yang menggenang dia tar permukaan air. Senyum mengembang diantara mereka melihat project sains mereka berjalan sukses. Handry menjelaskan keunggulan-keunggulan dari miniatur kapal buatan mereka ini dan harapan kedepannya. Sambutan tepuk tangan kembali diberikan untuk mereka.
Selanjutnya Via mempersilakan kelompok kedua untuk tampil. Sama seperti kelompok pertama, mereka juga menggunakan akuarium sebagai media. Yang membedakannya adalah project sains yang akan ditampilkan kali ini adalah simulasi bencana tsunami. Di dalam kotak kaca tersebut sudah tersedia lengkap miniatur rumah-rumah dipinggir pantai berserta pohon kelapa mainan. Sambil menjelaskan proses terjadinya tsunami, mekanisme yang dirancang sedemikian rupa tepat di bawah akuarium dinyalakan untuk menciptakan gempa buatan. Dengan perhitungan yang matang dan akurat, tsunami kecilpun tercipta di dalam akuarium tersebut namun cukup kuat juga untuk menghanyutkan rumah-rumah dan menumbangkan pohon mainan yang ada di dalamnya. Presentasi mereka juga diberi sambutan tepuk tangan yang meriah.
Kini kelompok ketiga dipersilakan naik ke atas panggung, kemudian kelompok seterusnya. Silih berganti setiap kelompok dipanggil sesuai urutan masing-masing. Rasa degdegan semakin dirasakan Julia dan Nisa. Tinggal beberapa kelompok lagi sebelum urutan kelompok mereka dipanggil.
Tapi ada satu hal yang membuat Nisa sedikit cemas, yaitu menghilangnya Sean yang tiba-tiba di ruang belakang panggung tempat dimana Meraka berada saat ini. Tanpa izin atau memberitahu mereka dulu, Sean sudah pergi entah kemana. Ditelpon juga hpnya tidak aktif. Nisa takut disaat giliran mereka dipanggil nanti Sean tidak kunjung datang.
"Aduh, dimana si Sean nih. Sebentar lagi giliran kita," ujar Nisa sambil terus melirik ke pintu keluar.
"Dia bilang padaku tadi ada urusan sebentar, tapi tidak tahu urusan apa yang membuatnya selama ini."
"Biarkan saja dia. Tanpa dia pun kita masih bisa melakukan presentasi," Julius terlihat masih marah pada Sean karna kejadian semalam.
"Aku akan mencarinya," ujar Julia sambil bangkit dari kursinya.
"Untuk apa mencarinya? Buang-buang waktu. Lebih baik kita bersiap-siap."
"Tidak bisa begitu. Ia juga ikut ambil dalam pembuatan robot ini. Aku pergi dulu ya, aku janji tidak akan lama."
"Sekarang Julia juga ikut pergi."
"Dasar, dia itu keras kepala."
__ADS_1
Julia pergi mencari Sean yang entah menghilang kemana. Setiap ruangan yang ada disekitar tempat berlangsungnya perlombaan Julia masuki untuk mencari makhluk tersebut, tapi tetap saja ia tidak kunjung berjumpa dengan Sean. Di tengah perjalanan hendak kembali, ia malah dicegat oleh Rica dan Delfa.
"Selamat pagi nona. Apa kau sedang mencari pacarmu?" sapa Rica.
"Pacar?" Julia menaikkan sebelah alisnya.
"Tidak perlu disembunyikan lagi. Kami sudah tahu kalau kau berpacaran dengan Sean," kata Delfa.
"Dilihat dari gerak-gerik mereka, sepertinya mereka mau memberitahu ku sesuatu yang kuinginkan," batin Julia. "Baguslah kalau kalian sudah tahu, jadi aku tidak perlu susah-susah lagi memberitahukannya pada kalian. Sudah dulu ya. Aku harus mencari Sean karna sebentar kami akan tampil," Julia berbalik dan hendak pergi.
"Kau pikir dia sungguh menyukaimu?" kata Rica membuat langkah Julia terhenti.
Julia tersenyum, lalu ia menoleh pada Rica dan Delfa dengan ekspresi bingung. "Apa maksudmu?"
"Kau benar-benar mudah ditipu Julia. Kau pikir mereka bertiga sungguh memperebutkan dirimu? Sadarlah Julia! Kau itu sama sekali tidak berarti apa-apa bagi mereka. Seorang gadis rendahan yang terlampau berani namun tak sadar tempatmu seharusnya berada."
"Dengan kehebatan dari ketiga tuan muda tersebut kau pikir mereka sangat menyukaimu yang sederhana ini? Kau sama sekali tidak pantas!"
"Kau itu cuman bahan taruhan mereka."
"Hahaha...."
Tawa mereka dengan lucunya. Mereka berpikir sudah menang dan berhasil membuat hati Julia hancur karna dikhianati oleh orang yang ia cintai. Tapi nyatanya, informasi itulah yang Julia inginkan dari mereka.
"Bahan taruhan?" Julia tanpa cukup terkejut mendengarnya.
"Itu benar. Sekarang kau sudah tahu, kan?"
__ADS_1
"Kau cuman mainan mereka. Setelah bosan dimainkan kau akan buang."
"Oh... Jadi itu alasannya. Berani sekali mereka menjadikan ku sebagai taruhan!! Sudah selalu menggangguku dan ternyata mereka menganggap ku apa?!!" bukan seperti kebanyakan gadis lainnya yang akan menangis, Julia malah ingin menghajar ketiga pria itu. Tapi ia masih harus berakting dulu di depan gadis-gadis ini. "Tidak. Ini tidak mungkin!"
"Kalau tidak percaya kau lihat saja sendiri. Mereka ada diluar sekarang," dengan raut wajah penuh kemenangan, Rica malah memberi tahu lokasi ketiga pria itu.
"Bagus," batin Julia.
Dengan ekspresi hendak menangis, Julia berlari keluar meninggalkan Rica dan Delfa yang tersenyum puas. Walau Julia dengan sengaja menyenggol bahu mereka berdua, mereka tidak marah sama sekali. Di luar bangunan sekolah Julia mendapati Sean, Alwen dan Yusra berada di halaman berlangkang. Mereka bertiga berdiri tepat di depan mobil masing-masing. Julia tidak langsung menggerebek mereka bertiga. Ia menunggu momen yang pas dulu baru keluar dari tempat persembunyian.
"Aku yang telah berhasil memenangkan hati Julia. Jadi sesuai kesepakatan serahkan kunci mobil kalian," pinta Sean.
"Tidak! Aku belum kalah. Kemarin aku belum sempat menyatakan perasaanku padanya karna adikku merusak rencanaku."
"Lagi pula apa buktinya kalau Julia sudah menerimamu menjadi pacarnya? Kenapa aku tidak bisa percaya sama sekali?" tanya Alwen meragukan.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
ξκύαε