
Julia mengandeng tangan Nisa turun menuju ruangan yang cukup luas. Sebagai seorang pemula dan sama sekali tidak ada pengalaman memegang senjata, untuk latihan pertama ini Nisa akan menggunakan senjata dengan peluru karet. Julia sudah meminta pada salah satu pelayan untuk menyediakan perlengkapannya. Tidak sampai seperempat jam, perlengkapan yang diminta akhirnya tiba juga. Sebagai guru yang baik, Julia mulai mengajari muridnya semua pengetahuan yang ia miliki dalam menembak orang. Eh, maksudnya menembak target dengan benar. Sebagai pemula, Nisa cukup bagus. Ia dengan cepat belajar dan memahami apa yang Julia terangkan. Hanya saja Nisa kurang cukup stamina yang membuatnya cepat lelah dan masih terlalu gugup. Hal itu menyebabkan tembakan Nisa terus meleset dari target.
Mereka berlatih sampai salah satu pelayan wanita memanggil mereka turun untuk makan malam. Mereka mengakhiri sesi latihan menembaknya dan segera turun menuju ruang makan. Sampai disana terlihat semuanya sudah berkumpul termasuk Via. Tepat dihadapan mereka telah tersaji berbagai hidangan yang begitu menggugah selera. Yang paling mencolok adalah kalkun yang terhidang di tengah-tengah meja makan.
"Bibi Via juga sudah datang. Kapan sampainya?" tanya Julia begitu menghampiri. Ia mengambil tempat duduk disebelah mamanya.
"Sudah cukup lama. Bolehlah membantu mama sedikit menyiapkan makan malam ini."
"Adelia bilang kalau Rica sempat membentak bibi, lalu bibi Via beri hukuman apa padanya?" tanya Julia sedikit penasaran.
"Membersihkan panggung pertunjukan," jawab Via.
"Dengan semua kertas warna-warni yang bertebaran tersebut, itu pasti pekerjaan yang lumayan berat bagi nona manja seperti dia," ujar Julius.
"Haha... Rasakan. Seharusnya ia masih bersyukur cuman diberi hukuman membersikan panggung pertunjukan setelah apa yang telah ia perbuat."
"Sudah, berhentilah mengoceh. Ayok makan," kata Lina pada Julia.
Julia mulai mencicipi hidangan pembuka yang disajikan pelayan dihadapannya. "Wah... Makan malam hari ini terasa luar biasa."
"Tentu saja karna mama yang masak," kata Adelia yang duduk disebelahnya.
"Apa?!" Julia cukup kaget mendengar itu. "Kenapa kalian tidak memberitahu? Jika aku tahu tadi aku pasti membantu mama memasak."
"Mama sengaja tidak memberitahu mu karna hari ini merupakan hari perayaan atas keberhasilan kalian bertiga, maksudnya berempat."
"Oh, iya. Dimana Sean? Kenapa ia tidak bersama kalian saat presentasi siang tadi?" tanya Via di sela-sela ia mencicipi hidangan pembuka.
"Dia tidak bisa datang karna terserang flu," kata Julia menggunakan alasan yang sama.
"Kok tiba-tiba? Sebelumnya ia baik-baik saja."
__ADS_1
"Mana aku tahu."
"Daya tahan tubuhnya lemah sekali. Baru kecebur sebentar di danau sudah terserang flu. Bagaimana jika diminta berendam seharian? Pasti mati," kata Julius seperti tidak merasa bersalah.
"Kecebur? Memang kapan dia ada kecebur di danau? Bukan kah ada larangan melewati pagar pembatas, apa lagi berenang disana?" tanya Nisa.
"Kita tahu kalau murid asrama khusus bebas melakukan apapun, termasuk berperahu di danau," Julius melirik Julia yang telah membuang muka dari kakaknya.
"Oh, iya kak. Dimana pacarmu itu? Sudah beberapa kali aku menghubunginya namun hpnya tidak aktif sama sekali," balas Julia.
"Kau sudah punya pacar Julius?" tanya Daniel.
"Iya," belum sempat Julius menjelaskan, Adelia segera mendahuluinya. "Pacar kakak seorang siswi kebangsaan Swedia. Benarkan, Adelio, bibi Via?"
"Iya," jawab Adelio pelan dengan anggukan sekali.
"Gadis yang cantik," sambung Via.
"Eh... Kenapa kau tidak perkenalkan pada mama? Mama teringin sekali berjumpa dengan gadis yang berhasil menaklukan putra pertamaku."
"Tidak berpacaran belum tentu tidak suka," timpal Samuel ikut-ikutan.
"Paman Samuel juga. Lihat, bagaimana aku membalasmu," gerutu Julius dalam hati. "Oh, bagaimana dengan paman sendiri?"
"Apa maksudmu?"
"Bukan kah paman juga sedang dekat dengan bu Feli, guru musik yang mengajar di klub musik."
"Fftt..." secara kebetulan Samuel sedang minum begitu ia mendengar itu. Hal hasil air muncrat dari mulutnya. "Julius! Ja, jangan bicara sembarangan!"
"Benar juga. Paman Samuel kan memang menjalin hubungan dekat dengan bu Feli. Sebab itu paman mau jadi guru musik agar bisa semakin lebih dekat dengannya," kata Julia membenarkan.
__ADS_1
"Oh... Pantas saja kau sudah tidak menghindari aku lagi, kak Samuel. Ternyata sudah menemukan penggantinya. Kalau sudah mantap menikah, kabari kami segera ya," ujar Lina dengan nada candaan.
"Nanti, setidaknya perkenalkan dulu calon pengantinnya," kata Daniel. Orang yang biasanya tidak suka bercanda kini malah bergurau walau senyum yang digunakan masih mengerikan.
"Kalian pasangan suami istri malah kompak mengejekku. Aku saja belum memberitahu ayahku soal ini, bagaimana bisa aku menikahinya. Hmph!" Samuel segera menutup mulutnya yang keceplosan.
Semua orang terdiam sesaat. Kemudian Lina mengeluarkan hpnya dan...
"Halo paman George, putra anda mau menikah," teriak Lina membuat Samuel tersentak.
"Velia!" teriak Samuel sambil bangkit dari kursinya lalu mengejar Lina yang telah berlari.
"Iya. Dia sudah mendapatkan calon menantu untuk mu dan mungkin tahun depan akan memberimu seorang cucu," kata Lina sampai akhirnya Samuel berhasil merengut hp tersebut.
"Tidak, ayah! Jangan percaya dengan kata-kata Velia. Dia..." Samuel baru sadar kalau Lina sama sekali tidak menelpon ayahnya. Ia menatap tajam pada yang lain yang terlihat menahan tawa. "Kalian mengerjaiku!"
"Hahaha..."
Tawa mereka dengan lucunya, apa lagi ketika melihat raut wajah Samuel yang cemberut masam. Ia kembali ke tempat duduknya sambil mendengus kesal. Makan malam kembali berlanjut dengan di iringi berbagai percakapan sederhana. Sementara itu, Samuel tidak bicara sama sekali dan sesekali menjawab dengan malas nya. Ia masih marah. Sedangkan Nisa yang merupakan satu-satunya tamu mereka telah dianggap seperti bagian dari keluarga tersebut. Ia bercengkrama dan tertawa bersama. Ia tidak menyangka kalau keluarga Flors yang sekarang ia tahu merupakan mafia terkejam di ibu kota ternyata memiliki selera humor yang tak terbayangkan bagi orang-orang yang tahu tentang mereka. Serta di dalam hati kecilnya, Nisa merasa terharu atas kehangatan kekeluargaan yang ia rasakan di meja makan ini. Suasana seperti inilah yang ia rindukan sejak kematian ibunya.
Selesai makan malam, mereka bersantai sejenak sambil menikmati pemandangan malam hari bertabur bintang. Mereka sekarang berada di ruangan beratap kaca sampai dinding yang ada dihadapan dan sisi kiri mereka. Dan saat inilah Daniel diperbolehkan untuk minum minuman beralkohol. Samuel dan Daniel yang dulunya perna menjadi musuh bebuyutan sekarang malah terlihat seperti sahabat. Dengan sebotol anggur dihadapan, mereka begitu asik bermain billiard sambil membahas tentang perusahaan ataupun perkembangan bisnis mereka di dunia bawah tanah. Lina cuman bisa menghela nafas melihat kelakuan suami dan kakak sepupunya itu.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
ξκύαε