Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Bintang di langit


__ADS_3

"Wow... Tempat ini sangat luar biasa," ujar Julia begitu melihat pemandangan kota di depannya.


"Bukan yang itu tapi yang ini," Julius mengangkat dagu Julia untuk menunjukan apa yang ada di atas mereka.


"Wah... Lebih bagus lagi."


Julia dibuat takjub dengan jutaan bintang yang menghiasi langit malam. Senyum bahagia kembali pada wajah manis Julia. Julius ikut senang melihatnya.


"Kau menyukainya?"


"Sangat suka. Terima kasih kak," Julia menyandarkan kepalanya di bahu Julius terus memandangi bintang di langit.


"Jika di ibu kota kita jarang-jarang bisa melihat bintang, bukan?"


"Tidak juga. Di ibu kota kita juga bisa melihat bintang. Bintang yang terang dan berkilauan. Walau terlihat acak namun jika diperhatikan mereka semua membentuk suatu pola yang unik. Tapi semuanya hancur disaat segumpal awan hitam datang. Sama seperti malam itu, langit yang awalnya cerah perlahan ditutupi awan hitam."


"Malam itu? Sebenarnya apa yang sedang kau bicarakan ini Julia?"


"Aku tidak tahu. Aku cuman merasa... Kalau aku sedikit mengingat kejadian sebelum kecelakaan itu terjadi."


Julius tersentak mendengarnya. "Sungguh? Apa kau sungguh mengingat semuanya?"


"Eh... Tidak semuanya. Saat balapan tadi itu mengingatkanku pada..." Julia terlihat memejamkan matanya memaksakan dirinya mengingat malam kelam tersebut. "Hujan. Malam itu hujannya deras sekali. Petir sesekali menyambar. Aku dalam kondisi ngebut. Jalanannya benar-benar licin. Sangat menyilaukan."


"Menyilaukan?" Julius mengangkat sebelah alisnya.


"Stt... Tidak. Cuman itu. Aku tidak mengingat hal lainnya lagi."


"Sudah. Jangan paksakan dirimu. Perlahan-lahan kau pasti mengingatnya," Julius merangkul bahu Julia sambil mengelunya perlahan. "Kenapa aku merasa kecelakaan itu ada kaitannya dengan masalah ini?" pikirnya.


Julius mengeluarkan hp dari saku celananya. Ia menyalakan benda persegi berteknologi tinggi itu, kemudian mencari no telpon papanya. Ia lebih memilih menghubungi papanya ketimbang mamanya. Tak sampai semenit telpon diangkat.


"Halo. Julius, ada apa telpon? Kalau ingin bicara pada adik-adikmu, mereka sudah tidur," kata Daniel sambil membereskan meja kerjanya.


"Begitu juga disini," lirik Julius pada Julia yang tertidur disebelahnya. "Apa ada mama didekat papa?"


"Tidak. Papa masih ada di ruang kerja, baru hendak kembali ke kamar. Kenapa?"


Daniel beranjak dari kursinya lalu menghampiri jendela. Ditariknya tirai yang menutupi dinding kaca transparan tersebut. Kemerlap lampu di setiap bangunan yang ada menghiasi langit malam tanpa bintang itu. Kondisi cuaca di ibu kota cukup berawan. Sebab itu tidak memungkinkan untuk melihat bintang. Karna terlalu fokus melihat keluar, Daniel tidak menyadari kalau Lina mengendap-endap masuk ke ruang kerjanya dan telah berdiri disampingnya.

__ADS_1


"Baguslah. Akan sangat gawat jika mama tahu soal ini. Em.. Sebenarnya Julia hari ini tertangkap basa sedang balapan."


"Apa!!!" teriak Lina tepat diteliga Daniel.


"Ah! Astaga," refleks Daniel menutup telinganya dengan hp yang sudah hilang dari genggamannya.


"Bagaimana bisa itu terjadi? Bukankah aku memintamu untuk menjaganya?!! Dan lagi dari mana ia mendapatkan mobil?" tanya Lina dengan nada tinggi.


"Dasar, papa menipuku. Ia bila mama tidak ada di dekatnya tapi nyatanya berbeda," gerutu Julius dengan ekspresi datar setelah menjauhkan hpnya dari telinganya. "Ma, dengarkan aku dulu. Bukan itu yang jadi masalahnya," kata Julius mencoba menjelaskan.


"Apa maksudmu bukan itu masalahnya?" potong mamanya. "Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada adikmu? Biarpun kelihatanya adikmu itu sangat ceria tapi mama tahu kalau ia tidak dalam kondisi baik, Julius," nada bicara Lina kini terdengar cemas.


"Steak Hamburger," Julia tiba-tiba mengigau membuat Julius meliriknya.


"Itu suara Julia. Apa dia ada disebelahmu?" tanya Daniel yang sendari tadi juga ikut mendekatkan telinganya pada hpnya.


"Iya. Sedang tertidur di sebelah ku."


"Tertidur? Memangnya kalian ada dimana sekarang?" tanya Lina.


"Dia tadi menangis karna rindu pada rumah, jadi aku mengajaknya ke bukit untuk melihat bintang. Tapi ia malah tertidur," jelas Julius.


"Iya. Tapi ada sesuatu yang mau aku katakan."


"Soal balapan itu," potong Lina lagi. "Mama akan pikirkan hukuman apa yang cocok untuk kalian."


"Apa? Kenapa aku juga?"


"Karna kau membiarkan adikmu balapan."


"Hah... Ya sudah. Tapi yang mau aku katakan bukan soal itu, ma."


"Lantas?"


"Ini soal ingatan Julia tentang malam sebelum ia kecelakaan. Disaat ia balapan tadi ada sekelibat ingatannya kembali."


"Em... Itu mungkin reaksi dari obat barunya."


"Obat baru? Oh, iya. Julia perna mengatakan kalau mama mengirimkannya obat yang berbeda."

__ADS_1


"Iya. Menurut hasil pengamatan mama selama ini dan sedikit bertanya pada psikiater, mama menyimpulkan bahwa rasa sakit yang dialami Julia itu disebabkan oleh kondisi dari apa yang ada didalam hatinya sendiri."


"Bagaimana bisa hal itu dapat menyebabkan sakit kepala?"


"Kemungkinan besar peristiwa pada malam itu terlalu melibatkan perasaan Julia. Jadi disaat hati Julia ingin mengingat momen yang menurut hatinya adalah hal yang sangat penting, tapi respon otaknya malah menganggap hal itu sebagai acaman dan memberi sinya rasa sakit agar Julia segera melupakannya."


"Lalu kenapa mama memberikan obat yang memungkinkan membantu Julia untuk dapat mengingat momen tersebut?"


"Karna hanya itu satu-satunya cara agar ia bisa terbebas dari obat-obatan. Untuk dapat memulihkan kondisinya, Julia harus mengingat kembali seluruh kejadian pada malam itu. Tapi ini mungkin akan cukup menyiksanya. Awalnya mama sempat ragu karna tidak tega, namun Julia menyakinkan mama bahwa ia siap dan percaya sepenuhnya atas keputusan ini."


"Ternyata begitu. Julia yang malang," Julius membelai rambut adiknya itu dengan lembut. "Mama jangan khawatir, aku pasti akan menjaganya disini. Julia akan baik-baik saja."


"Papa dan mama percayakan dia padamu. Awas, jangan sampai lalai lagi," kata Lina memberi peringatan.


"Iya, Julius pasti menjaga adiknya sebaik mungkin. Sebaiknyak kalian segera kembali ke asrama. Besok masih harus sekolah," ujar Daniel mengingatkan putranya.


"Baik. Selamat malam."


"Malam."


Telpon dimatikan. Julius membopong tubuh Julia masuk ke mobil. Selesai memasang sabuk pengaman, Julius menancap gas mobil menuruni bukit tersebut. Mobilnya melaju di jalanan yang bercahayakan lampu itu. Sementara disisi lain, Lina masih mencemaskan putrinya. Walau ia percaya kalau Julius pasti menjaga adiknya sebaik mungkin, namun hati Lina masih dilanda kegelisahan.


"Daniel, apa sebaiknya kita tempatkan Jony atau Rey saja ke sana untuk menjaga mereka? Dengan begitu kita bisa sedikit lebih tenang. Mengingat Julius dan Julia ada di wilayah Lady Blue, entah mengapa itu membuatku cemas."


"Tidak bisa kucing kecil. Jony dan Rey sedang berada di luar kota untuk mengurusi persediaan senjata yang di pesan klien. Sedangkan Norman masih ada di kota sebrang dan kemarin aku baru saja mengirim Qazi kesana untuk membantunya."


.


.


.


.


.


.


ξκύαε

__ADS_1


__ADS_2