
Senyap sebentar. Tidak ada percakapan diantara Julius dan Samuel untuk beberapa saat. Samuel memperhatikan Julia, Wendy, Febby dan Marjorie yang sedang asik bermain saling mencipratkan air laut sampai tubuh mereka basa. Jarak diantara mereka lumayan cukup jauh dari tempat Julius dan Samuel bersantai saat ini. Samuel mengherup kembali kopinya, kemudian melihati Julius yang sendari tadi terus memperhatikan lonceng di tangannya. Tiba-tiba terbesit sesuatu dipikiran Samuel yang membuat pandangannya dialihkan kembali pada Marjorie, cuman sesaat, kemudian melihat lagi lonceng yang ada di tangan Julius.
"Tunggu, jangan bilang kalau gadis itu adalah Death knell dan lonceng yang kau pegang itu..."
"Itu memang orangnya," Julius menyimpan kembali loncengnya.
"Serius kau Julius?" kata Samuel tidak percaya.
"Aku tidak bohong."
"Dia masih sangat muda dari bayanganku tentang Death knell. Walau aku belum pernah bertemu langsung dengannya. Tapi menurut kabar burung, Death knell telah dikabarkan meninggal dunia akibat kecelakaan. Apa ia memalsukan kematiannya?"
"Aku tidak tahu apa alasan ia melakukan itu. Tapi aku lega karna itu cuman kebohongan belakang dan akhirnya aku bisa bertemu kembali dengannya. Iya, walau ia tidak mengaku sebagai Death knell begitu aku menanyakan hal tersebut."
Krrriiiing......!
Suara hp Marjorie yang tertinggal di pasir berbunyi. Ia berbegas keluar dari air dan mengambil hpnya. Dilihatnya siapa yang baru saja menelponnya. Begitu tahu, ia tersentak kaget. Yang menelponnya adalah Tn. Arlo. Dengan Marjorie cepat mengangkatnya.
"Halo, Tn. Arlo."
"..."
"Baik. Saya kembali sekarang juga."
"Ada apa Marjorie?" tanya Julia yang ikut keluar dari air dan menghampiri Marjorie.
"Maaf Julia, aku harus pergi. Terima kasih untuk hari ini. Kapan-kapan kita saling bertukar ilmu lagi ya. Dah..." Marjorie bergegas pergi sambil melambaikan tangannya pada yang lain.
"Dia mau kemana sampai terburu-buru begitu?" tanya Febby pada Julia.
"Tidak tahu. Setelah menerima telpon, ia terlihat seperti menerima kabar yang mengejutkan dan bergegas pergi."
"Aku harap itu bukan kabar buruk," ujar Wendy dari belakang kedua temannya.
__ADS_1
"Semoga."
Sebelum pergi, tak lupa Marjorie pamit kepada Samuel dan Julius. Ia berterima kasih karna telah diperbolehkan menginap semalam. Julius sempat meminta Majorie untuk tinggal lebih lama lagi, namun ia beralasan kalau ada urusan yang harus ia selesaikan sekarang juga. Tidak sampai disitu, Julius tidak menyerah agar bisa mengambil kesempatan dapat berdua saja dengan Marjorie walau cuman sesaat. Ia menawarkan diri untuk mengantar Marjorie ke tempat tujuan, tapi lagi-lagi Marjorie menolaknya secara halus. Marjorie tentunya tidak mau sampai Julius tahu kalau urusan mendesak tersebut ada dikediaman keluarga Arlo. Dengan sangat kecewa Julius melihat Marjorie berlari masuk ke vila. Sebelum berangkat tentunya Marjorie harus menganti pakaian basa nya dulu dengan pakaian yang kering.
Dibutuhkan waktu setidaknya 25 menit untuk sampai di kediaman Arlo. Sebuah rumah megah berlantai tiga dengan taman depan yang luas sungguh memanjahkan mata bagi siapa saja yang melihatnya. Taksi yang mengantar Marjorie berhenti tepat di depan pintu masuk. Setelah membayar, Marjorie bergegas keluar dari taksi dan masuk ke dalam rumah tersebut. Seorang pelayan wanita dengan cepat menghampiri begitu melihat Marjorie. Ia menuntun Marjorie menuju ruang kerja Tn. Arlo, dimana ia telah lama menunggu.
"Selamat sore Tn. Arlo," sapa Marjorie begitu melangkah masuk. Ia sedikit menunduk memberi hormat pada pria yang sedang duduk kursi kerjanya itu.
"Rambutmu basa," kata Tn. Arlo saat melirik rambut Marjorie.
Karna terburu-buru datang kesini, Marjorie memang tidak sempat mengeringkan rambutnya. Ia mengumpulkan semua helaian rambutnya yang basa ke sisi depan kanan tubuhnya sambil mengalihkan pandangannya dari tatapan marah Tn. Arlo.
"Kemana saja kau sepanjang hari ini? Ditelpon berkali-kali tidak perna diangkat! Apa kau lupa dengan tugas-tugasmu?!! Aku membayarmu dan bahkan sampai mengeluarkan uang agar kau bisa bersekolah di sekolah yang sama dengan putraku, semua itu hanya untuk kau bisa menjadi pengawal pribadi putraku!! Tungasmu itu adalah melindungi keselamatan dia!!" bentak Tn. Arlo dengan marahnya
"Maafkan saya Tn. Arlo. Saya janji ini tidak akan terulang kembali," Marjorie kembali menmbungkukkan badannya.
"Tidak! Berjanji saja tidak cukup. Aku akan memberimu hukuman agar kau mengerti kalau kau sedang berkerja dengan siapa!"
"Jangan terlalu keras padanya ayah," Yursa tiba-tiba melangkah masuk ke ruang kerja ayahnya.
"Apa maksudmu ini Yusra? Kau mau menentang ku untuk mengajari setiap bawahanku?"
"Bukan begitu maksudku, ayah. Marjorie kan masih baru dan ini juga kesalahan pertamanya. Setidaknya ia mendapat teguran saja kali ini. Lagipula ini hari minggu, kenapa tidak memberinya libur satu hari?"
"Hah... Baiklah. Kali ini aku memberimu peringatan, tapi kalau sampai terulang kembali, aku akan memberimu hukuman cambuk 50 kali, mengerti?" tegas Tn. Arlo diakhir kalimat.
"Baik, saya mengerti Tn. Arlo. Terima kasih atas pengampunannya."
"Pergilah."
"Saya undur diri."
Sebelum pergi, Merjorie menyempatkan diri mengucapkan terima kasih pada Yusra karna telah membantunya, setelah itu barulah ia melangkah keluar dari ruang kerja Tn. Arlo.
__ADS_1
"Kau terlalu baik padanya, Yusra. Jangan bilang kalau kau menyukainya, karna aku tidak sudi mendapat menantu dari kalangan seperti dia."
"Tidak. Aku sama sekali tidak menyukainya. Ayah tahu sendiri 'kan Marjoret itu seumuran denganku dan juga ia seorang gadis. Hal wajar baginya sesekali dapat istirahat sebentar dari pekerjaan, kumpul bersama teman-temannya, mengobrol atau sekedar jalan-jalan."
"Walau pun begitu, ia juga harus ingat pada tugas-tugasnya. Jangan karna kau memberinya kebebasan berkelunyuran tidak jelas, ia sampai lupa diri."
"Aku jamin itu tidak akan terjadi. Aku sendiri yang akan menghukupnya."
"Kalau bukan kemampuannya yang memang hebat, sudah lama aku menggantikannya. Tapi aku tekankan kau jangan sesekali suka padanya!" tegas Tn. Arlo.
"Sudah aku katakan aku tidak menyukainya! Lagi pula aku telah memiliki pilihanku sendiri."
"Oh... Apakah itu putri dari keluarga Pinkston? Ku perhatikan kau cukup dekat dengannya beberapa hari ini," kata Tn. Arlo mencoba menebak.
"Bukan dia? Gadis yang kusukai itu merupakan gadis yang hebat dan tak kenal takut, sangat manis tapi mudah merasa kesal. Walaupun begitu, itulah daya tarik dari dirinya."
"Kau boleh menyukai beberapa gadis di sekolahmu, tapi ayah sarankan jangan membuat keputusan terlalu cepat. Kau baru masuk SMA, belum lagi suatu hari nanti kuliah, perjalananmu masih panjang. Pilihlah wanita yang terbaik diantara yang baik menurutmu dan ingatlah, kita ini merupakan keluarga kalangan atas. Pilihlah pasangan yang setidaknya sederajat dengan kita. Kau paham?"
"Aku mengerti itu. Aku pergi dulu. Sampai jumpa lagi, ayah."
.
.
.
.
.
.
ξκύαε
__ADS_1