Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Keberangkatan


__ADS_3

"Oh, sebenarnya aku sudah mengemas sebagian dari barang-barang ku. Itu disana."


Julia menujuk pada koper yang ada di sudut kamar dekat pintu masuk. Lina mengikuti arah tunjuk putrinya itu. Betapa terkejutnya ia mendapati tiga koper penuh dan satu tas jinjit berukuran besar tepat diatasnya.


"Astaga, Julia... Kau mau bersekolah atau pindah rumah? Dan kau bilang itu baru sebagian?"


"Eh... Aku berpikir ingin membawa satu koper tambahan lagi untuk pakaianku," jawab Julia tanpa memfokuskan pandangannya.


"Pakaian? Jadi isi dari ketiga koper dan tas jinjit itu apa?"


"Em..."


Tanpa menunggu jawaban dari Julia lagi, Lina langsung menghampiri koper-koper itu lalu membuka semuanya. Isi koper pertama adalah pakaian, koper kedua adalah beberapa robot, koper ketiga adalah alat elektronik dan isi dari tas jinjit itu adalah berbagai jenis makanan ringan.


"Untuk apa kau membawa semua ini?" tanya Lina dengan ekspresi datar.


"Ya... Tentu saja mau dimakan."


"Kau mau menambah berat badan?"


"Aah... Mama kan tahu sendiri kalau aku suka ngemil saat belajar."


"Iya, mama tahu. Tapi tidak dibawa dari rumah juga. Disana kan banyak jualan cemilan seperti ini. Hm..." Lina hanya bisa menggeleng melihat kelakuan Julia.


"Hihi... Semua itu dari lemari penyimpanan ku."


"Dan lagi, untuk apa kau bawa robot kesana serta seluruh alat elektronik mu ini?"


"Itu semua benda kesayanganku. Aku tidak bisa jauh dari mereka semua. Lagi pula sekolah juga tidak melarang dan semuanya bukanlah benda berbahaya."


"Ooh... Benarkah?"


Lina mengambil salah satu robot berwarna silver dan paling kecil diantara yang lain. Lalu ia menekan tombol tersembunyi pada bagian belakang robot tersebut. Setelah tombol itu ditekan muncul satu pistol mini tepat di depan robot itu.


"Maksudmu ini yang tidak berbahaya?"


"Seharusnya mama tidak tahu itu," kata Julia pelan.


"Dasar kau ini Julia. Apa kau ingin pergi berperang? Sudahlah, kau cukup bawalah satu koper berisi pakaianmu ini dan satu leptop, dan untuk yang lainnya tidak perlu dibawa."


"Tapi, ma..."


"Tidak ada tapi tapi."


"Bagaimana kalau sebagian saja."

__ADS_1


"Tidak," jawab Lina sambil menggeleng.


"Sepermempat."


"Mama bilang tidak!"


"Kalau begitu tiga robot saja, kumohon. Aku sungguh tidak bisa jauh dari mereka," Julia terus meminta dengan raut wajah memohon.


"Hah... Baiklah."


"Benarkah? Terima..."


"Et, cuman satu," potong Lina.


"Apa?!"


"Pilih satu atau tidak sama sekali."


"Ya sudah, satu ya satu."


Dengan terpaksa Julia harus memilih satu robot dari banyaknya robot yang ia punya. Ia cukup kebingungan memilih robot-robot tersebut. Sampai tujuannya jatuh pada robot merah muda.


"Aku pilih yang ini," tunjuk Julia pada mamanya.


"Iya. Namanya Pippo, karna ia selalu mengeluarkan suara Pip-po-pip-po," Julia mengikuti bunyi dari robot kecil itu disaat ia menghidupkannya.


Lina tersenyum melihat tingkah Julia yang seperti anak-anak. Ia mengelus rambut putrinya itu. "Kau ini sungguh masih seperti gadis kecil. Mama pasti akan sangat merindukan kenakalan dan tingkah mu ini."


"Mama tidak akan terlalu merindukanku, kan masih ada Adelia yang menemani mama disini."


"Malahan kebalikannya. Setiap mama melihat Adelia nanti, mama pasti akan teringatkan dirimu. Maklumlah kalian berdua itu suka bertengkar. Rumah ini akan jadi sepi tanpamu," Lina menatap sedih putrinya yang ada dihadapannya ini. Satu bulir mutiara mengalir diujung mata Lina.


"Ma..." panggil Julia.


Dengan cepat Lina menghapus air matanya dan mengalihkan pandang. "Apa obatmu masih ada?"


"Masih untuk dua minggu ini."


"Ya sudah, nanti mama kirimkan saja ya obatnya. Ingat, minum obatmu tepat waktu. Jika ada apa-apa segera hubungi kami. Kami pasti akan datang secepat mungkin."


"Mama tidak perlu mengkhawatirkan aku. Putrimu ini bukanlah gadis yang lemah."


"Kurang lebih sudah 14 tahun ini mama menjadi dokter tapi mama masih belum bisa menyembuhkan penyakit putriku sendiri. Maafkan mama, sayang."


"Mama tidak perlu minta maaf. Ini bukanlah kesalahan mama. Peristiwa itu sudah terjadi setahun yang lalu."

__ADS_1


Julia mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi pada malam itu, namun tidak ada satupun ingatan yang melintas di kepalanya. Satu tahun yang lalu, tepatnya tengah malam. Disaat hujan tinggal rintik-rintik saja, Daniel berhasil menemukan mobil putrinya terjerumus jatuh ke jurang dengan sungai tepat dibawahnya. Daniel berhasil mengeluarkan Julia dari dalam mobil yang telah tenggelam itu. Tidak ada yang tahu pasti kejadian tersebut. Cuman Julia saja yang tahu. Tapi malangnya, karna cedera serius di kepalanya, Julia tidak ingat apa yang telah terjadi. Semakin ia memaksa untuk mengingatnya semakin sakit kepalanya. Hampir serupa dengan apa yang dialami Lina 10 tahun lalu. Hanya saja Julia cuman tidak mengingat bagaimana bisa mobilnya berakhir jatuh ke sungai.


Ia merasa kalau tiba-tiba ia sudah berada di rumah sakit dan mengalami semua luka tersebut. Satu bulan setelah keluar dari rumah sakit, Julia mengalami gejala sakit kepala yang hebat. Rasanya seperti ratusan jarum menusuk kepalanya. Lina tentu dengan sigap mencari tahu penyabab gejala yang dialami Julia. Setelah melakukan pemeriksaan secara menyeluruh, Lina menyimpulkan kalau timbulnya rasa sakit tersebut disebabkan oleh efek samping paska operasi otak. Ada pendarahan di otak Julia yang membuatnya harus menjalani operasi besar. Untuk meredakan rasa sakit yang dialaminya, Julia harus meminum beberapa obat selama seminggu sekali. Obat tersebut cuman berkerja meredakan sakit kepalanya saja. Sampai sekarang Lina masih mencari obat yang dapat berguna bagi kesembuhan Julia.


"Kau masih tidak ingat apa yang terjadi pada malam itu?" tanya Lina.


Julia menggeleng. "Aku malahan semakin melupakannya."


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Keesokan harinya, di bandara. Untuk sekian kalinya Daniel dan Lina berpamitan dengan Julius dan julia. Hal wajar bagi mereka yang sedikit enggan melepaskan kepergian putra dan putrinya itu, karna ini kali pertamanya mereka akan terpisah selang beberapa tahun kedepan.


"Kami berangkat dulu ya, ma... pa..." kata Julius.


"Jaga diri kalian baik-baik," Lina memeluk Julius lalu berbisik di telinganya. "Tolong jaga adikmu disana."


"Itu sudah pasti."


"Walau terkadang kau sangat menjengkelkan, Adelia. Tapi aku pasti merindukanmu," kata Julia sambil memeluk kedua adiknya itu.


"Kami juga pasti akan sangat merindukan kakak."


"Sebaiknya kalian segera naik ke pesawat sebelum ketinggalan," ujar Daniel mengingatkan.


Julia melepaskan pelukannya. Ia menarik kopernya dan bergegas menyusul Julius yang telah berjalan duluan.


"Segera telpon kami jika kalian sudah sampai nanti ya!" teriak Lina sambil melambaikan tangan.


"Iya!" balas Julia melambaikan tangannya juga pada keluarganya.



.


.


.


.


.


.


ξκύαε

__ADS_1


__ADS_2