
"Aku tahu siapa yang telah membuat Robert jadi seperti ini," kata Violet membuat Azkya, Castista dan Ducan menoleh padanya.
"Siapa?" tanya Castista.
"Dia adalah Lina," jawab Violet.
Ducan tersentak kaget mendengarnya. "Astaga, apa yang mau dilakukan gadis ini?"
"Kau jangan becanda Violet. Mana mungkin Lina bisa menyerang Robert sampai ia luka parah seperti ini," kata Azkya menentangnya.
"Aku yakin itu. Cuman dia yang bisa melakukannya."
"Itu masih tidak mungkin Violet. Lina adalah seorang wanita hamil. Apa mungkin ia bisa mengayunkan sebuah meja untuk memukul Robert?" potong Ducan sebelum Violet berbicara lebih jauh. "Namun ini cukup mengerikan juga. Dalam kondisinya yang hamil, Lina masih bisa memukul orang sampai masuk rumah sakit. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau kejadian itu terjadi sebelum dia hamil. Apa mungkin Robert akan langsung masuk liang kubur atau mala tubuhnya tidak berbentuk lagi?"
"Mungkinkah Daniel yang memukul Robert? Tidak, tidak. Jika Daniel terlibat dalam masalah ini, aku tidak boleh memberitahu mereka. Walau Tn. Michael dikenal sangat ramah dan bersahabat tapi dia bisa jadi kejam pada orang yang berani berurusan dengannya," pikir Violet.
"Michael saat ini sedang menyelidiki siapa yang telah menyerang Robert. Kemungkinan besar penyerangnya adalah seorang pria. Memang tidak mungkin kalau wanita hamil yang menyerang Robert," kata Castista ragu-ragu.
"Apa yang dikatakan Ny. Castista mungkin benar. Ini salahku yang berkata sembarangan."
"Tumben gadis ini tidak buat masalah. Tapi baguslah kalau begitu," batin Ducan.
"Ssttt... Aduuuh...... Perutku sakit sekali," rintih Violet disaat perutnya tiba-tiba sakit. Ia membungkukkan badannya ke depan sambil memengangi perutnya menahan sakit.
"Apa yang terjadi padamu Violet? Kenapa kau tiba-tiba sakit perut?" tanya Azkya.
"Apa kau sedang datang bulan hari ini?" tanya Ducan memastikan.
"Iya."
"Kenapa? Apa Violet sering sakit perut saat datang bulan?"
"Tidak juga. Dia tidak perna sakit perut setiap datang bulan selama ini tapi bulan lalu ia tiba-tiba mengeluh perutnya sangat sakit. Dan bulan ini sepertinya kambuh lagi," jelas Ducan. "Ayok kita temui dokter untuk meredakan rasa sakit mu. Kami permisi dulu Ny. Castista."
"Tidak aku sangka ternyata ayah selalu memperhatikan kondisiku. Dia juga peduli dan mengkhawatirkan diriku sekarang," pikir Violet.
"Semoga cepat sembuh Violet. Maaf, aku tidak menemanimu," kata Azkya.
"Tidak apa-apa. Aduuuh...... Sakit sekali."
Ducan membimbing Violet keluar untuk menemui dokter. "Hah... Sepertinya hari ini aku harus memohon pada Lina untuk meminta obat penawar itu. Aku tidak akan bisa tahan mendengar rintihan Violet yang memekakkan telinga."
__ADS_1
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
Lina saat ini sedang berendam di bak mandi. Ia memainkan busa sabun dan menumpuk nya di atas perutnya. Kandungan Lina saat ini telah memasuki minggu ke 25 tapi ukurannya sudah seperti hamil 30 mingguan. Ia tidak terlalu memperdulikan tentang ukuran perutnya, yang paling penting bayi-bayinya tetap sehat.
"Nona Lina, pakaian anda sudah datang. Saya letakan di atas tempat tidur ya," kata Judy dari luar.
"Iya. Terima kasih Judy."
"Sama-sama."
Karna terlalu asik memainkan busa sabun, tidak terasa Lina sudah lebih dari 15 menit berendam di bak mandi. Saat hendak bangun, ia cukup kesulitan karna perutnya yang besar. Ia berusaha mencari pegangan di tepi bak mandi namun hal itu tidak membantu sama sekali.
"Astaga, bagaimana aku keluar dari sini? Seharusnya tadi aku minta bantuan Judy dulu sebelum ia pegi."
"Kenapa? Tidak bisa berdiri?"
"Iya," Lina dikagetkan dengan suara Daniel. Tanpa disadari teryata Daniel sudah berdiri di samping bak mandi. "Ini memalukan," Lina merendamkan hampir setengah wajahnya di dalam air.
Daniel berjongkok di samping bak mandi. Ia mengelus perut Lina yang terendam air. "Kenapa tidak menggunakan bak mandi yang ada di kamar sebelah saja? Bak mandinya lebih luas dari pada disini. Kau tidak akan kesulitan berdiri."
"Terakhir kali aku berendam, aku masih bisa berdiri sendiri. Tapi kenapa hari ini tidak bisa."
"Karna kandunganmu sudah semakin besar," Daniel menatapi perut Lina sambil masih mengelus. "Aku sudah tidak sabar menggendongnya."
"Hihihi........" Lina terkekeh melihat raut wajah Daniel yang terkejut. "Kau masih harus menunggu untuk itu."
"Aku tidak mau menunggu. Aku bisa menggendongnya berserta ibunya sekalian," Daniel seketika langsung mengangkat tubuh Lina dari bak mandi.
"Aah.... Daniel turunkan aku."
"Bukankah tadi kau mau keluar. Aku cuman membantumu."
"Iya, cuman aku..." Lina memalingkan wajahnya yang merona.
"Kau masih malu. Memangnya bagian tubuh mana lagi yang belum aku lihat," bisik Daniel di telinga Lina. Wajah Lina semakin memerah.
"Aah.....! Turunkan aku," rengek Lina minta diturunkan.
"Baiklah, jangan banyak bergerak, nanti jatuh."
Daniel menurunkan Lina perlahan. Dengan cepat Lina mengambil handuk kimononya lalu segera mengenakannya. Lina juga mengambil handuk biasa dan melemparkan itu pada Daniel.
__ADS_1
"Keringkan juga dirimu."
Dengan menggunakan handuk itu Daniel mengelap wajah serta rambutnya yang basa. Setelah itu ia membantu mengeringkan rambut Lina. Keluar dari kamar mandi, Lina mengganti haduk kimononya dengan pakaian yang dibawa Judy sebelumnya. Ia kini duduk di depan meja rias. Baru selesai mengeringkan rambutnya dengan hairdryer..... Tiba-tiba Daniel menyematkan sebuah kalung di leher Lina. Kalung berwarna keperakan dengan loket berlian biru berbentuk love yang dikeliling berlian putih kini melingkar di leher Lina.
"Ini hadiah untuk mu."
"Kalung yang cantik," begitu Lina melihatnya dari pantulan kaca di meja rias.
"Kau menyukainya?"
"Sangat suka. Terima kasih."
"Aku senang kau menyukainya."
"Oh, iya. Bagaimana dengan data komputer itu? Apa Qazi sudah bisa membukanya?"
"Belum. Virus yang melindungi data komputer itu cukup sulit ditangani. Qazi harus hati-hati. Kalau tidak semua data akan hilang dan virusnya bisa merambat ke komputer juga."
"Hah... Siapa gerangan dari ketiga orang itu yang mengincar Token kepemilikan rumah lelang?"
"Cuman dua orang. Tn. Michael kemungkinan tidak terlibat dengan hal ini. Menurut data komputernya yang aku periksa, ia sama sekali tidak tertarik dengan dunia para Mafia. Ia lebih suka menjalan bisnisnya."
"Itu berarti tinggal diantara Tn. Stevan dan Tn. George."
"Menurutku kemungkinan besar yang mau merebut Token rumah lelang itu adalah Tn. Stevan. Kalau untuk Tn. George, sebagai putra tertua dia tentunya meneruskan jabatan ayahnya sebagai kepalah keluarga tersembunyi."
"Ayah bilang untuk jabatan kepalah keluarga tersembunyi tidak tergantung diturunkan pada putra tertua. Putra lainnya dan putra kerabat juga bisa berpartisipasi dalam pemilihan kepalah keluarga tersembunyi."
"Kalau begitu persaingan untuk merebutkan jabatan kepalah keluarga tersembunyi sangatlah besar," ada satu kilatan melintas di kepala Daniel. "Aku mengerti sekarang. Sebab itu mereka ingin merebut Token rumah lelang. Dengan mengandalkan kekayaan rumah lelang mereka bisa memperkuat diri mereka dalam persaingan merebut jabatan kepalah keluarga, serta dapat juga menyingkirkan pesaing yang lain. Kau tahu, seperti kata-pepatah 'dengan uang kita dapat melakukan segalanya'. Jadi tujuan utama mereka adalah kursi jabatan kepalah keluarga tersembunyi."
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
ξκύαε