Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Mulai menawar


__ADS_3

"Nama panggilan?" tanya wanita yang bertugas mengkonfirmasi data mereka.


"Blue eyes," kata Julius sebelum Qazi terpikirkan untuk mencari ide nama panggilan untuk mereka.


"Baik. Selamat menikmati acara pelelangannya."


Setelah mencantungkan nama tersebut, wanita itu menyerahkan kembali kartu sebelumnya berserta nomor kursi mereka. Qazi menerima itu lalu mengajak Julius naik ke lantai dua. Kursi mereka ada di ruang VIP nomor 3. Sudah tersedia dua kursi disana yang mengarah langsung ke acara pelelangan tepat dibawah mereka. Dari atas sini Julius dapat memperhatikan seluruh peserta yang hadir. Ada sekitar 23 keluarga berbeda di bawah sana dan tiga keluarga lagi di ruang VIP termasuk mereka, jadi total keseluruhan peserta lelang kali ini sejumlah 26 keluarga.


Dari semua yang hadir di ruangan tersebut, mata Julius tiba-tiba tertuju pada seorang gadis yang duduk di ruang VIP diseberangnya. Gadis yang mengenakan topeng putih berukir emas itu duduk bersama seorang pria gemuk disebelahnya. Gadis itu tampak juga memperhatikan Julius, namun ia segera mengalihkan pandangannya begitu mata mereka bertemu. Julius tidak terlalu memperdulikan itu. Ia kembali fokus ke acara lelang yang segera dimulai. Seperti acara lelang pada umumnya, seorang wanita yang bertugas sebagai pembawa acara memulai acara lelang. Awal pembukaan yang cukup menarik namun lama-kelamaan semakin membosankan bagi Julius. Tidak ada satupun barang yang menarik perhatiannya sebelum urutan permata yang mereka incar dilelang.


"Tidak ada barang yang menarik sejauh ini," kata Julius yang sudah sangat merasa bosan.


"Batu permatanya akan di lelang pada urutan terakhir."


"Seharusnya kita turun dari kapal saat permata itu di lelang saja, dengan begitu kita tidak perlu menunggu lama begini," sangking bosannya Julius malah memain-mainkan brosur daftar barang yang dilelang. Ia melipat brosur tersebut menjadi origami burung bangau yang baru saja minta diajari oleh Qazi.


"Tidak bisa begitu. Semua peserta harus hadir sebelum acara dimulai. Kita tidak akan diizinkan masuk jika terlambat," jelas Qazi sambil mengajari Julius membuat origami burung bangau.


"Eh? Bagaimana paman melakukannya tadi?" tanya Julius begitu ia menyadari origami buatannya berbeda dengan buatan Qazi.


Qazi membetulkan origami buatan Julius dan memintanya mencoba sendiri. Pada usia ini Julius memang masih memiliki watak anak-anak. Sifatnya ini akan muncul apabila ia dilanda kebosanan atau berinteraksi dengan orang-orang terdekatnya tanpa ada orang lain disekitar mereka. Namun Julius tidak perna menunjukan sifat ini pada adik-adiknya. Ia berpikir akan aneh sebagai kakak tertua yang biasa bersikap dingin ternyata memiliki sisi anak-anak juga. Sebab ini Julius jarang memperlihatkan emosinya pada orang lain. Qazi yang telah lama tahu dengan sifat Julius ini memakluminya.


Dari keempat bawahan Daniel yang terpercaya hanya pada Qazi lah Julius mau menunjukan dirinya yang sebenarnya. Gadis yang sempat dilirik Julius tadi masih memperhatikan Julius dari kejauhan. Ia sesekali tersenyum melihat keakraban Julius dan Qazi. Kesabaran Qazi yang mengajari Julius membuat origami burung bangau jauh lebih menarik dari pada memperhatikan acara lelang dibawah sana. Dan tentunya Julius sama sekali tidak menyadari kalau sendari tadi ada seorang gadis yang terus memperhatikan dirinya sampai tersenyum-senyum pula.


Untung Marjorie tidak perna benyinggung soal ini. Bahwa pacarnya yang dikenal memiliki sifat dingin ternyata merupakan anak laki-laki yang dulu ia perhatikan sangat menggemaskan dengan tingkah polosnya.


"Sampailah kita pada barang terakhir yang akan dilelang," ujar pembawa acara tersebut.

__ADS_1


Mendengar itu barulah Julius bersemangat memperhatikan acara pelelangan. Saat ini ia telah membuat lebih dari 5 origami burung bangau yang disusun sesuai ukurannya.


"Barang terakhir ini merupakan hiasan emas 24 karat berbentuk kura-kura dengan tempurung dari sebuah permata langkah dan dikelilingi berlian murni. Permata ini telah berusia lebih dari 10.000 tahun yang lalu. Keunikan dari permata ini iyalah mampu memancarkan 3 warna dasar yang benar-benar terpisah antara warna yang satu dengan warna yang lainnya jika terpapar cahaya," jelas pembawa acara tersebut.


Seorang wanita naik ke atas panggung sambil membawa barang yang dimaksud. Perlahan lampu panggung meredup. Dengan senter kecil ditangannya, wanita itu menyinari hiasan berbentuk kura-kura sebesar kepalan tangan tersebut tepat di atas permatanya. Sama seperti yang dijelaskan pembawa acara barusan. Permatanya sungguh memantukan cahaya senter menjadi tiga warna berbeda yang terpisah. Para peserta lelang dibuat berdecak kagum melihat pertunjukan memukau tersebut. Wanita itu mematikan senternya bersamaan dengan lampu panggung kembali menyala.


"Itu benar permata yang papa terangkan. Kita harus mendapatkannya. Sebesar apa dana yang papa berikan untuk mendapatkan permata itu," tanya Julius pada Qazi.


"10.000.000,00 dolar," jawab Qazi.


"Oh, lumayan banyak," Julius sedikit terkejut mengetahui nominal dana yang besar itu.


"Itulah dia permata cantik kita pada hari ini. Harga dimulai dari 500.000,00 dolar saja," kata pembawa acara tersebut dengan nada menggoda.


"Apa?! Murah sekali," seru para peserta lelang tak percaya dengan harga awal dari permata yang indah.


"1.300.000,00 dolar!" teriak yang pria lain tidak mau kalah.


"1.500.000,00 dolar!"


"1.600.000,00 dolar!"


"1.650.000,00 dolar!"


"1.750.000,00 dolar!"


"1.780.000,00 dolar!"

__ADS_1


Semua orang mulai berlomba-lomba menawar hiasan berbentuk kura-kura emas tersebut. Walau permata yang dicari telah muncul tapi Julius belum bergerak menawar permata itu.


"Apa kita juga harus mulai ikut menawar tuan Julius?" tanya Qazi.


"Nanti. Kita tunggu orang-orang dibawah sana selesai menawar."


"Okey."


Beberapa menit berlalu. Orang-orang yang menawar mulai sedikit jumlahnya. Kini harga dari hiasan berbentuk kura-kura itu telah mencapai 2.500.000,00 dolar. Suatu nilai yang sudah naik berkali-kali lipat dari harga awalnya.


"Naikan harga dua kali lipat dari harga dasar," perintah Julius meminta Qazi untuk mulai menawar.


"Baik," jawab Qazi. Ia mengankat papan penawarannya sambil berkata. "3.500.000,00 dolar!"


.


.


.


.


.


.


ξκύαε

__ADS_1


__ADS_2