Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Tamparan


__ADS_3

"Kau bisa bertanya pada orang tua Daniel atau bahkan pada Daniel sendiri jika kau masih tidak percaya."


"Tidak!!! Daniel hanya milikku! Tidak peduli kau sedang mengandung anaknya atau bukan, Daniel akan tetap menikah denganku. Aku akan beritahu tuan besar Flors soal ini. Aku pastikan kalian bercerai dan mungkin yang lebih buruk lagi dia akan memintamu untuk menggugurkan kandunganmu!"


Plak!


Satu tamparan mendarat di wajah Violet. Hal itu membuatnya diam sambil memegangi wajahnya yang merah. Ia menatap Lina, tak percaya atas apa yang baru saja ia alami. Ini pertama kalinya ada seseorang yang berani menamparnya begitu keras. Melihat kejadian itu juga telah membuat Riva, Anisa dan Ira ikut tercengang. Seorang Lina yang mereka kenal lugu nan polos kini telah menampar Violet.


"Sebaiknya jaga mulutmu itu. Aku masih bisa menahan hinaan dan perkataan burukmu padaku, tapi jangan sesekali berbicara seperti itu terhadap anakku! Camkan itu Violet kalau tidak... Kau tidak akan bisa membayangkan apa yang bisa aku lakukan padamu!" tegas Lina kali ini dengan serius.


"Kau berani menamparku? Kau sungguh berani menamparku?!!"


Plak!


Satu tamparan lagi mendarat di pipi Violet yang lainnya.


"Memangnya kenapa aku tidak berani? Aku bahkan bisa membunuh mu disini jika aku mau."


"Kau...! Kau itu cuman gadis desa yang mencoba mencari peruntungan di ibu kota. Mentang-mentang kau sekarang menjadi istri Daniel, kau mala sombong dengan mengandalkan kekuasaan yang dimilikinya! Tapi apa kau pikir dengan begitu aku tidak bisa menyentuh mu?!! Aku adalah orang paling dihormati di dunia bawah tanah, pemilik dari rumah lelang ilegal terbesar di ibu kota ini. Dengan mengandalkan kekayaan tak terhingga yang aku miliki, aku bisa membuatmu menderita di dunia ini. Kemanapun kau pergi, biarpun sampai ke ujung dunia sekalipun kau akan dihantui bayang-bayang ketakutan. Kau pasti lebih memilih mati dari pada bertahan hidup. Tunggulah saat itu tiba Lina!!!"


Tatapan penuh amara Violet tujukan pada Lina. Ia mengayunkan tangannya hendak menampar Lina, namun Lina berhasil menahan tangan Violet sebelum menyentuh pipinya. Dicengkeramnya pergelangan tangan Violet dengan sangat erat sampai Violet sendiri kesulitan menarik tangannya lagi.


"Lepaskan aku gadis kampung!!"


"Apa yang mau kau lakukan? Menamparku? Kau tadi berusaha mengancamku, sebelumnya menuduhku dan sekarang mau bermain kekerasan denganku. Haha... Lucu sekali. Apa kau lupa dengan racun yang aku berikan tepo hari? Atau... Tn. Cershom yang mala lupa memberitahu mu?"


"Apa yang coba kau katakan?"


"Yang mau katakan adalah, sayang. Penawar racun yang berikan padamu waktu itu cuman mengatasi rasa sakit mu bulan ini. Aku tidak dapat menjamin bulan berikutnya kau tidak merasakan rasa sakit yang sama atau mala lebih buruk lagi."


"Kau menipuku waktu itu!! Sebaiknya berikan aku penawar racunnya! Mungkin aku masih bisa membiarkan tubuhmu tetap utuh dan memberi pemakaman yang layak untukmu!!"

__ADS_1


"Bodoh!"


Sebelum Violet berhasil memberontak melepaskan diri, Lina mendorong tubuh Violet ke tembok universitas yang itu. Tidak sampai disana ia juga menekuk tangan Violet kebelakang dan membetukar kepala Violet ke dinding.


"Argh!"


"Lina lepaskan Violet!" bentak Reva sambil hendak membantu Violet.


"Jangan mendekat! Atau lengannya patah!" ancam Lina sambil semakin menekankan tubuh Violet ke dinding tersebut.


"AAAAH ! !" Violet hanya bisa teriak kesakitan. Ia tidak bisa melepaskan diri dari cengkraman Lina.


Sorot mata tajam dan tekanan yang begitu kuat diberikan Lina, membuat Riva dan Anisa tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka terlalu ketakutan melihat perubahan sikap Lina yang drastis. Apa ini masih Lina yang mereka kenal?


"Kau berpikir bisa mengancam ku? Apa kau lupa kalau aku adalah seorang Master alih racun? Tidak perlu mengandalkan kekuasaan Daniel kau tetap tidak bisa berbuat apa-apa padaku. Kalau aku mati kau juga akan menderita di sisa hidupmu itu. Hanya aku yang tahu obat penawar dari racun di tubuhmu. Sebaiknya kau lah yang bersikap baik padaku nona Cershom. Aku akan dengan senang hati menantikan kau memohon padaku untuk mendapatkan obat itu bulan depan."


Lina melepaskan Violet dengan cara membantingnya ke lantai. Anisa dan Riva bergegas membantu Violet yang terlihat begitu kesakitan. Tulang bahunya mungkin telah bergeser.


Lina berbalik sambil menarik tangan Ira pergi meninggalkan mereka bertiga. Ira yang masih kebingungan dengan kejadian barusan tidak bisa berkata apa-apa. Ia terdiam saja mengikuti Lina yang entah membawanya kemana, bukan ke kelasnya atau ke kelas Lina sendiri. Aksi temannya hari ini membuat ia harus berpikir sejenak untuk mencernanya.


"Aku sedikit lapar saat ini. Temani aku makan sebentar ya. Masih ada waktu 10 menit juga sebelum kelas dimulai."


"Iya," jawab Ira pelan.


Sikap Lina kembali seperti orang yang dikenalnya selama ini. Senyum manis dan sorot mata yang lembut itu membuat Ira tidak percaya kalau tadi sempat berubah tajam dan begitu mendominasi lawan. Sampai di kantin universitas, Lina membeli dua roti isi danging dengan saus pedas yang banyak dan mill tea. Mereka mengambil tempat duduk di dekat jendela.


"Kau tidak makan Ira?" tanya Lina memecah keheningan diantara mereka.


Ira tidak menjawab. Diperhatikannya wajah Lina dengan teliti. "Ini benaran Lina, kan? Temanku yang manis. Temanku yang memiliki sifat begitu lembut itu. Temanku..."


"Hei, sadarlah," Lina menjentikkan jarinya tepat di depan wajah Ira. "Tentu saja ini aku. Memangnya siapa lagi?"

__ADS_1


"Tidak. Tadi itu bukanlah dirimu yang aku kenal. Aku belum perna melihat tatapan tajam itu dari matamu. Hawa yang membuat semua orang ketakutan..."


"Apa tadi kau ketakutan?" potong Lina. "Apa sekarang kau tidak mau berteman denganku lagi setelah melihat sisi lain dari diriku?"


"Kau bercanda? Tadi itu luar biasa."


"...?!" Lina sedikit terkejut dengan reaksi Ira.


"Kenapa tidak dulu kau memperlihatkan sikap begitu mendominasi itu? Aku bisa pastikan mereka tidak akan berani menggagumu lagi."


"Aku cuman mau menjalani kehidupan kampusku dengan tenang Ira. Kau tahukan aku ini cuman mahasiswa sederhana yang mendapat beasiswa. Biarpun aku melawan mereka, itu tidak menjamin kehidupanku bisa tenang. Dengan mengandalkan kekuasaan orang tua mereka, mereka tentunya akan menggunakan segala cara untuk membalas ku. Sebab itu aku memilih berpura-pura menjadi gadis lugu."


"Tapi kau terlalu mendalami peran mu. Kau bahkan bisa tahan disaat mereka mencaci, menghina dan sampai mengerjaimu, walau akhirnya mereka mendapat karma nya."


"Menurutmu semua itu terjadi secara kebetulan? Kau tidak benar-benar percaya aku gadis pembawa sial, bukan? Yang dimana setiap orang yang berbuat jahat padaku pasti mengalami kesialan bertubi-tubi."


"Oh... Aku mengerti sekarang. Jadi selama ini, semua itu adalah perbuatanmu nona. Kau ini sungguh seekor kucing yang selalu menyembunyikan cakarnya."


.


.


.


.


.


.


ξκύαε

__ADS_1


__ADS_2