Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Apa mungkin...


__ADS_3

"Mungkin dia terlalu pelit. Ia hanya mau menyimpan dirimu untuk dirinya sendiri. Ia takut ada orang yang merebutmu jika kau berkeliaran di luar saja."


"Hm! Dasar kau ini Ira. Mulutmu itu selalu saja bicara yang bukan-bukan. Bagaimana bisa kau terpikiran seperti itu?" ujar Lina tapi setelah mendengar semua itu membuat Lina jadi kepikiran, apa semua itu mungkin benar?


"Okey, tidak sekarang tapi suatu hari nanti..." Ira memainkan alisnya memberi isyarat pada Lina dengan nada menggoda.


"Xavira....!" teriak Lina kesal yang mengerti maksud temannya itu.


"Hihi..." Ira terkekeh melihat raut wajah Lina. "Hei, hei, jika pria itu benar-benar menyukaimu, apa kau akan menyukainya juga?"


"Apa?!" seketika pipi Lina merona begitu pertanyaan itu dilontarkan temannya.


"Wajah mu telah menjawabnya. Ternyata kau yang menyukai pria tersebut. Aku jadi penasaran wajah elok seperti apa yang membuat gadis seperti Veliana sampai jatuh hati padanya?" Ira kini mulai membayangkan wajah laki-laki tersebut.


"Hentikan pikiranmu itu wahai nona Xavira. Aku... Aku tidak menyukainya! Tidak..." sebenarnya Lina juga bingung dengan perasaannya sendiri terhadap Daniel. Ia dilanda kebimbangan antara menyukai atau tidak menyukai Daniel.


Ira mendekatkan wajahnya menatap langsung mata Lina dalam-dalam. Lina terdiam sesaat lalu memalingkan wajahnya ke samping dan sedikit mendorong Ira menjauh. Ia merasa gugup ditatap seperti itu oleh temannya.


"Bisa, bisa kau jangan melihatku seperti itu?"


"Kau tidak bisa berbohong dari temanmu ini. Matamu menceritakan semuanya padaku. Kau menyukai pria itu tapi kau meragukan perasaanmu. Apa aku benar?" jelas Ira setelah menjauhkan diri dari Lina.


Lina tidak menjawab. "Apa benar yang dikatakan Ira kalau sebenarnya aku menyukai Daniel? Tidak, aku bahkan tidak tahu apa itu menyukai lawan jenis. Bagaimana aku bisa memastikan kalau aku menyukai Daniel atau tidak."


"Bolehlah sekali-sekali kau kenalkan padaku orang yang kau taksir itu," kata Ira sambil menyegol Lina menggunakan sikunya


"Sudahlah! Jangan bahas itu lagi," Lina menyumpal mulut Ira dengan potongan Apel.


"Hmp..."


"Dasar kau, Ira...!" teriak Lina dalam hatinya. Semua perkataan Ira tadi telah mengacaukan pikirannya. Sekarang Lina tidak bisa menghalau semua pikiran itu, telinganya terus berdengung mengulang semua kalimat tersebut. Semua itu membuat kepala Lina jadi pusing dan... Entah mengapa ia tiba-tiba merasa tidak enak di uluh hatinya serta seperti ada yang mau keluar dari mulutnya.


"Hmp!" seketika Lina menahan mulutnya sebelum mengeluarkan semua isi perutnya. Ia bergegas berlari menuju toilet terdekat.


"Lina! Kau mau kemana?" teriak Ira memanggil sambil menyusul Lina.


"Hoeekk....! Hoekk....!" Lina memuntahkan semua yang ditahan nya ke dalam toilet. Beberapa kali Lina memuntahkan semua yang dimakannya sebelumnya. Sia-sia makan siangnya hari ini.


"Lina, kau tidak apa-apa?" tanya Ira begitu mendekati Lina yang masih muntah. "Apa Kau sakit?"

__ADS_1


"Perut mual sekali. Aku tidak tahu mengapa. Hoeek ! !" Lina kembali muntah di dalam toilet.


"Sebaiknya kau istirahat di ruang kesehatan atau lebih baik pergi ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan. Jangan abaikan penyakitmu," kata Ira memberi saran.


"Kau lupa ya Ira. Kita ini adalah calon dokter masa depan. Tidak mungkin aku tidak mengetahui kondisi tubuhku sendiri, tunggu..." Lina tersentak dengan kata-katanya sendiri. "Gejala yang aku alami saat ini sama seperti..." Lina menyetuh perutnya dengan usapan hangat dan di tatap nya. "Apa mungkin aku... Hamil? Aku bahkan sampai lupa kalau sebenarnya aku telah telat datang bulan. Tidak. Ini tidak mungkin. Aku belum siap menjadi seorang ibu. Nanti dulu. Masih belum bisa dipastikan kalau aku hamil. Aku harus memeriksaanya dengan pasti."


"Jadi menurut hasil pemeriksanmu, bagaimana kondisi tubuhmu, dokter?"


"Aku cuman merasa tidak enak badan saja. Kau tahu cuaca beberapa hari ini tidak menentukan, kan," Lina bangkit lalu kemudian berjalan menuju wastafel.


"Apa kau yakin cuman merasa tidak enak badan saja?"


"Iya. Aku yakin sekali. Jangan khawatirkan aku. Minum obat dan istirahat saja sudah cukup."


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Jam terakhir pelajaran berakhir. Lina bergegas membereskan semua barangnya dan beranjak ke luar dari gedung universitas. Ia segera menuju mobil yang dimana Qazi telah menunggunya. Qazi melajukan mobil keluar dari halaman universitas kedokteran tersebut. Di perjalanan tidak ada percakapan diantara mereka. Lina sedikit ragu meminta Qazi mengantarnya ke apotek untuk membeli sesuatu yang diperlukannya. Ia harus mencari alasan untuk membeli yang lain.


"Em... Qazi," panggil Lina ragu-ragu.


"Iya. Ada apa? Dari tadi ku perhatikan sepertinya ada yang ingin kau sampaikan. Katakan saja."


"Apotek? Ada sesuatu yang ingin kau beli disana?"


"Iya, ada sesuatu barang yang ingin aku beli. Ini... Ini untuk keperluan praktek perkuliahan. Oh, iya aku juga mau membeli obat sakit kepala sekalian."


"Kau sakit kepala?"


"Hanya pusing sedikit."


"Apa perlu ku ke rumah sakit atau memanggil dokter pribadi ke rumah?" saran Qazi.


"Tidak, tidak perlu sampai segitunya. Aku cuman merasa pusing sedikit dan lagi pula aku ini calon dokter. Aku tahu kondisi tubuhku seperti apa," kata Lina menggunakan alasan yang sama.


"Kita sudah sampai," Qazi memberhentikan mobilnya di depan sebuah apotek terbesar di ibu kota.


"Seharusnya kau pilih apotek biasa saja tidak perlu ke sini."


"Kenapa? Disini apotek yang paling lengkap. Semua yang kau cari pasti ada disini. Apotek biasa nanti tidak menyediakan apa yang kau inginkan. Aku tidak mau mengatarmu berkeliling mencarinya dari tempat yang satu ke tempat yang lain."

__ADS_1


"Iya, iya. Terima kasih. Tunggu saja aku disini. Kau tidak perlu ikut masuk."


"Siapa juga yang mau."


Lina keluar dari dari mobil melangkahkan kakinya masuk ke dalam apotek itu. Apotek yang besar dengan berbagai macam keperluan kesehatan dan obat-obatan lengkap. Beruntung apotek ini tidak terlalu ramai dari pengunjung. Lina menghampiri salah satu karyawan yang ada di apotek tersebut.


"Ada yang bisa saya bantu nona?" tanya pegawai itu dengan ramah.


"Ah, iya. Saya mau beli obat pereda sakit kepala dan juga mual."


"Baiklah. Ada lagi?"


"Em... Apa ada alat tes kehamilan?" tanya Lina sambil berbisik.


"Ada. Mau Test pack strip atau Test pack digital?"


"Test pack strip saja."


"Tunggu sebentar ya."


Pegawai itu berlalu pergi mengambil semua apa di pesan Lina. Semenit kemudian pegawai itu kembali dengan semua barang yang dinginkan Lina.


"Ini alat tes kehamilannya dan juga racikan obat penghilang rasa mual dan pusing karna awal mula kehamilan," ujar pegawai tersebut sambil menyodorkan kantung plastik pada Lina.


"Terima kasih," ucap Lina sambil menerima semua barang itu. "E? Apa yang barusan anda katakan?" tanya nya begitu ia sadar ada kata-kata janggal yang diucapkan pegawai apotek itu.


"Mau melakukan pembayaran dengan uang tunai atau kartu?"


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


ξκύαε


__ADS_2