Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Penculikan


__ADS_3

Keesokan paginya. Lina tidak mendapati Daniel berada di rumah hari ini. Ia tidak memperdulikan itu. Ia lekas pergi saja menuju kampusnya. Rencananya Lina mau berangkat menggunakan angkutan umum, tapi baru saja keluar dari pintu rumah itu, Qazi sudah memberhentikan mobilnya tepat di depan Lina. Mau tidak mau Lina harus berangkat diantar Qazi seperti biasa.


"Kalau begini, bagaimana caranya aku bisa kabur?" pikir Lina.


Sebenarnya ia telah bersiap untuk kabur karna mengingat semalam Daniel sedang melakukan kencan makan malam bersama seorang gadis. Ia berpikir untuk apa dirinya sekarang? Jika Daniel telah memiliki kekasih, Lina tidak perlu berpura-pura menjadi pacar palsu Daniel, bukan? Ia bisa bebas kembali menjalani kehidupannya seperti semula. Walau ada rasa keengganan dalam hati kecil Lina. Tidak. Lina telah bertekat untuk pergi hari ini.


Tidak ada percakapan diantara Lina dan Qazi di sepanjang jalan mereka menuju universitas. Qazi pun juga tidak mempertanyakan tentang masalah semalam. Qazi telah tahu kalau semua itu adalah perbuatan Lina, dan tuan mudanya terpaksa harus menginap di hotel semalam karna tidak tahan dengan bau yang mengganggu. Sampai di universitas, seperti biasa Lina keluar dari mobil lalu melangkah masuk ke gedung enam tingkat itu. Beberapa orang masih menggosipkan Lina begitu mereka melihat perubahan drastisnya. Banyak yang mengatakan kalau Lina adalah wanita penggoda. Ia menggoda bos-bos kaya raya hanya untuk mendapat apa yang ia inginkan. Entah sejak kapan berita itu tersebar, tapi Lina tidak mau memusingkan hal itu terlebih dahulu. Lebih baik ia mencari cara agar dapat bebas dari pengawasan Qazi.


Selama pelajaran berlangsung Lina tidak terlalu konsentrasi terhadap pelajarannya. Pikirannya masih sibuk mencari cara agar bisa lolos dari pengawasan Qazi. Apa ia beri racun saja pada Qazi? Tapi racun mana yang cocok? Semua racun yang Lina miliki berdampak cukup kejam pada korbannya. Walau Lina bisa sangat sadis membalas orang yang selalu mengganggunya tapi Lina tidak pernah menggunakan racun tersebut untuk kesenangan semata atau menjahili seseorang, ia melakukan semua itu kepada yang pantas menerimanya. Termasuk kepada orang yang tidak ia kenal. Seperti begini, jika ada orang ditindas atau sedang mengalami tindak kejahatan di depan matanya, Lina akan dengan senang hati membantu. Hitung-hitung mencari kelinci percobaan untuk racunnya.


Jam pelajaran berakhir. Lina membereskan semua barangnya dan bersiap-siap pulang dengan mengendap-ndapa tentunya. Ia mengintip dari jendela melihat Qazi yang sedang menunggunya sambil bersandar di mobil. Lina mengambil jalan belakang untuk keluar dari universitas itu. Ia ingat ada tumpukan batu bata untuk keperluan renovasi pembesaran gudang kampus. Tumpukan batu bata itu cocok untuk digunakan sebagai pijakan melompati pagar universitas. Sampai disana, seperti yang diharapkan. Tembok pagar universitas setinggi tiga meter itu bisa dijangkau Lina dengan bantuan tumpukan batu bata.


"Mau mencoba kabur?"


Lina di kejutkan dengan kehadiran Qazi yang telah duduk manis di atas tembok pagar tersebut.


"Ba, bagaimana bisa kau ada disana?! Bukan kah tadi kau masih ada diparkiran."


"Firasat ku mengatakan kalau peliharaan tuan muda mencoba untuk kabur."


"Si, siapa yang mau kabur?" Lina memalingkan muka karna malu telah tertangkap basa. "Dan juga, sembarangan kau mengataiku peliharaan tuan muda kalian! Aku ini seorang manusia bukannya hewan!!"


"Tapi bukankah tuan mudah selalu memanggil mu dengan sebutan kucing. Kucing adalah hewan peliharaan, bukan?"


Qazi melompat turun ke tempat Lina berpijak lalu tiba-tiba menarik Lina terjun ke bawah. Lina cuman bisa berteriak dan begitu mereka mendarat, Lina menarik tangannya kemudian ia memukul Qazi dengan kuat.

__ADS_1


"Kenapa tiba-tiba menarik ku terjun?!!"


"Au! Tingginya cuman satu setengah meter. Tidak akan mati juga terjun dari ketinggian segitu!"


"Tapi kau membuatku jantungan tahu!!"


"Aku masih mending membuatmu jantungan. Coba pikirkan apa yang akan dilakukan tuan muda saat kau pulang nanti."


"Me, memang apa yang akan dia lakukan? A, aku tidak berbuat salah apapun," terlihat jelas Lina mulai gugup namun ia mencoba untuk tenang.


"Jangan berpura-pura tidak tahu. Tuan muda sudah menebak kalau kejadian semalam itu semuanya karna ulahmu. Siap-siaplah kau akan mendapat hukuman berat dari tuan muda," Qazi mulai menakut-nakuti Lina.


"Kejadian apa? A, aku bahkan tidak tahu itu. Bagaimana bisa tuan muda kalian menuduh ku pelakunya?" Lina semakin gugup dan tanpa sadar mundur dua langkah.


"Oh, benarkah? Seisi kediaman berbau busuk karna mu. Masih mau mengelak kalau kau bukan pelakunya," Qazi berjalan mendekati Lina.


"Aku bahkan tidak menyebutkan racun. Bagaimana bisa kau menebak kalau nona Lexi diracuni sampai ia buang gas sembarangan?"


"Sial!" gerutu Lina dalam hati. Ia tampa sengaja keceplosan.


Disisi lain, tepat di atas gedung universitas. Rylie sudah siap membidik Lina dengan laras panjang miliknya. Rylie bermaksud membalas dendam ini ke Lina karna ia mendapat informasi kalau Daniel sudah memiliki kekasih. Ia bertekat untuk membuat Daniel merasakan kehilangan orang yang sangat dicintainya itu.


"Maaf gadis kecil, kau harus menderita karna untuk menebus kesalahan pacarmu. Selamat malam."


Rylie melepaskan satu tembakan setelah yakin mengunci target. Qazi yang dengan cepat menyadari ada penembak jitu, seketika menarik Lina ke sisinya.

__ADS_1


"Hati-hati, ada penembak jitu!"


"Apa?!!"


"Sial!! Tidak disangka pengawal yang ditempatkan Daniel untuk melindungi kekasihnya sangat hebat," gerutu Rylie kesal. "Serang mereka!"


"Siap nona."


Tiba-tiba muncul enam orang berpakaian serba hitam dengan memakai tutup kepala, mengepung mereka dari berbagai sisi. Qazi telah siaga dan siap untuk menyerang. Lina juga tidak mau ketinggalan, ia siap menyerang dengan mengeluarkan bubuk racun. Para penjahat itu menyerang mereka secara bersamaan namun belum sempat Qazi melawan Lina sudah duluan menebar bubuk racun itu ke arah mata mereka. Sebagai dari mereka terkena efek dari bubuk racun tersebut. Mereka merasa terbakar di area mata dan kesulitan untuk melihat.


"Rencana yang hebat Lina," kata Qazi sambil berusaha melawan penjahat yang tersisa.


Kehebatan Qazi dalam ilmu bela diri jangan ditanya lagi. Ia adalah anggota elit yang telah dilatih secara khusus dengan rahasia pelatihan Black Mamba. Melawan sekelompok penjahat kecil ini bukan apa-apa baginya ditambah lagi sebagian dari mereka telah terkena racun dari Lina. Tapi tidak disangka ternyata mereka masih memiliki rekan tersembunyi dan memiliki senjata. Qazi berusaha melindungi Lina namun sayang ia mengalami tembakan tepat di perut dan bahunya.


Qazi sebenarnya juga memiliki senjata tapi senjata itu mala tertinggal di dalam mobil. Karna mengalami luka yang cukup serius, Qazi tidak bisa bertahan. Ia pingsan karna kehilangan banyak darah dan juga serangan dari penjahat secara bersamaan. Lina berhasil diculik dengan cara menyekapnya menggunakan obat bius. Lina sempat melawan dengan racun yang ada tapi obat bius yang mereka gunakan jauh lebih cepat berkerja.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


ξκύαε


__ADS_2