Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Tidak ada kegiatan


__ADS_3

"Sudah, sudah. Sebaiknya kita kembali ke kelas, kalau tidak kita akan mendapat hukuman dari guru," kata Febby mengingatkan.


"Bagaimana denganmu, Julia? Mau kembali ke kelas atau kau masih ingin istirahat disini?" tanya Wendy pada Julia.


"Tentu saja kembali ke kelas. Ayok pergi."


Julia bangkit dari tempat duduknya. Mereka berempat keluar dari ruang kesehatan tersebut. Di lorong menenuju kelas mereka, Nisa baru ingat tentang suling milik Julia yang sendari tadi terus dipegangnya.


"Oh, iya Julia, sulingmu," Nisa memberikan suling itu kembali pada pemiliknya.


"Terima kasih Nisa," ucap Julia setelah menerima sulingnya kembali.


"Kau sepertinya sangat menyayangi suling itu. Kau bahkan sampai marah besar disaat Rica merebutnya tadi," kata Febby.


"Tentu saja. Ini barang kesayanganku. Aku menghabiskan seluruh tabunganku untuk membelinya dan juga harus bersaing dengan peserta lelang yang juga mengincar suling ini. Butuh usaha yang keras sampai suling ini berada di tanganku."


"Kau membelinya di pelelangan. Kalau boleh tahu, berapa harganya?" tanya Wendy.


"Iya, berapa harganya Julia? Kau tadi sempat bilang kalau seluruh kekayaan keluarga Pinkston saja tidak cukup menggantinya bila suling itu rusak. Apa itu benar?"


"Tidak. Aku berkata demikian karna suling ini cuman ada satu-satunya. Kalau rusak kan, itu berarti aku tidak bisa mendapatkan yang persis sama dengan yang ini biarpun dia memberiku seluruh harta kekayaannya."


"Suling itu pasti sangat mahal sebab menjadi barang terlangkah," ujar Nisa dengan senyum manis.


"Aha, tidak penting soal harganya. Yang terpenting suling ku baik-baik saja," Julia mengelus suling tersebut dengan lembut.

__ADS_1


"Tapi aku akui Julia, kau tadi sangat hebat melawan Rica. Terutama ketika kau membatingnya ke lantai tadi. Itu luar biasa," puji Febby sambil mengacungkan kedua jempolnya.


"Aku juga tidak menyangka, si Julia yang memiliki watak anak-anak yang terkadang tidak terkontrol ternyata menguasai ilmu bela diri yang sangat hebat. Kau penuh kejutan tak terduga."


"Biasa saja. Aku belajar dari ahlinya."


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Di hari saptu pagi. Julia meregangkan tubuhnya sambil mengucek mata. Dengan mata masih setengah terpejam, ia turun dari tempat tidurnya. Beberapa kali ia menguap begitu hendak ke kamar mandi. Sebelum membilas keseluruhan tubuhnya, Julia terlebih dulu mencuci wajahnya dan menggosok gigi. Setelah itu barulah menyiram tubuhnya dengan air dingin. Rasa dingin yang menusuk ke tulang namun sangat menyegarkan bagi Julia.


Julia keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk saja. Satu melilit di tubuhnya dan satu lagi di atas kepalanya. Ia baru sadar kalau saat ini ia tengah sendirian di kamar tersebut. Kemana yang lainnya? Julia tidak terlalu memusingkan itu. Ia membuka lemari pakainya dan memilih pakaian mana yang hendak ia kenakan hari ini. Di dapatlah setelan baju kaos putih dengan gambar mahkota kecil di sudut atas dada kirinya dan celana abu-abu gelap panjang melengkapi penampilan polosnya. Dengan handuk masih menyelimuti rambutnya, Julia membuka leptopnya. Ia sekedar melihat-lihat sosial media disela-sela ia mengerikan rambutnya.


"Selamat pagi Julia. Apa kau sudah bangun?" sapa Nisa sambil membuka pintu.


"Nisa, selamat pagi," jawab Julia balik menyapa. "Darimana kau?"


"Aku memesan sarapan tapi kurirnya tidak diizinkan masuk oleh petugas keamanan yang berjaga di pintu gerbang. Tidak tahu apa alasannya. Sebab itu aku turun untuk mengambilnya," jelas Nisa sambil mengeluarkan satu persatu makan serta minuman dari kantung belanjaan dan menyusunnya di meja.


"Waw... Kau beli apa saja? Kelihatannya enak."


"Aku beli cukup untuk kita berdua. Tidak apa kan sesekali beli makanan dari luar."


"Benar sekali. Tapi bagaimana dengan Wendy dan Julia? Ngomong-ngomong, dimana mereka? Kenapa pagi ini aku tidak melihat mereka berdua?"


"Apa kau lupa, Julia? Semalam kan mereka sudah ngomong kalau mau pulang hari ini."

__ADS_1


"Pulang?"


"Iya. Mereka sudah berangkat dari pagi-pagi sekali agar tidak ketinggalan pesawat yang menuju kota sebrang. Wendy pulang karna ada urusan keluarga, tidak tahu apa. Sedangkan Febby, hari ini bertepatan dengan kematian ayahnya. Jadi seperti biasa setiap tahun ia bersama ibu dan dua kakaknya pergi melayat ke makam ayahnya. Kemungkinan minggu malam mereka akan kembali."


"Bisa kebetulan begitu, ya. Jadi hari ini kita cuman berdua saja. Cukup membosankan."


"Mari makan," ajak Nisa.


Mereka berdua menikmati menu sarapan pagi yang di pesan Nisa dari restoran Tiongkok terdekat. Ada tiga menu yang tersusun di atas meja tersebut. Yang pertama, Conggee. Bahan utama dari hidangan ini adalah beras yang dimasak dalam air kaldu hingga teksturnya berubah menjadi lunak dengan toping kacang-kacangan. Kedua adalah Pangsit. Sebagian besar orang pasti tidak asing lagi dengan hidangan yang satu ini. Pangsit adalah makanan yang dibuat dari adonan tepung terigu dan daging cincang kemudian digoreng atau direbus. Dan yang terakhir dan juga sebagai hidangan pencuci mulut, yaitu Doushabao. Makanan ini memiliki teksturnya yang sangat lembut serta rasa manis. Hal ini dikarenakan Doushabao memiliki isian kacang merah yang telah dihaluskan. Sebagai minuman yang tidak boleh ketinggalan dari menu sarapan Tiongkok tentu saja teh.


Keseharian Julia dan Nisa hari ini lebih banyak dihabiskan di dalam kamar. Tidak ada kegiatan yang bisa mereka lakukan selain bermain internet atau sekedar mengobrol santai. Tanpa kehadiran Wendy dan Febby sungguh terasa sepi, karna mereka berdua lah yang memiliki banyak cerita untuk dibagi. Dalam kesunyian tersebut tiba-tiba ia mendapat panggilan video dari mamanya. Suasana yang tadinya membosankan dalam sekejap berubah. Julia segera menyambut panggilan video tersebut. Tidak butuh waktu lama bagi layar laptop Julia untuk menampilkan gambar kedua orang tua berserta kedua adiknya. Tidak sampai disitu, satu panggilan video lagi ikut bergabung dan tentunya itu berasal dari laptop Julius.


Sapaan dan bertanya kabar menjadi awal percakapan yang sering ditanyakan. Melalui kecanggihan teknologi ini Daniel dan Lina bisa mengobati kerinduan mereka pada putra-putrinya yang berada jauh dari rumah. Begitu juga dengan Julius dan Julia. Selain merindukan kedua orang tuanya, mereka juga merasa kangen pada kedua adiknya, Adelia dan Adelio. Mendengar kelincahan Adelia bercerita menjadi kesenangan tersendiri bagi mereka semua.


Disela-sela percakapan bersama keluarganya, Julia memperkenalkan Nisa pada mereka. Nisa seketika menjadi gugup begitu berhadapan langsung dengan Tn dan Ny. Flors yang disegani dalam masyarakat. Dengan terbata-bata ia menyebutkan namanya sendiri. Butuh beberapa saat bagi Daniel mengingat nama keluarga Pinkston sampai Julia membantunya dengan memberi sebuah petunjuk.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


ξκύαε


__ADS_2