
Selagi terus berusaha menghindari serangan dari Julia, Rica melirik suling giok yang dipegang Nisa. Tanpa pikir panjang lagi Rica merebut suling itu dari tangan Nisa. Karna direbut secara tiba-tiba membuat Nisa tidak bisa mempertahankan suling tersebut. Rica menggunakan suling itu sebagai senjatahnya untuk menyerang balik Julia. Sadar barang kesayangannya dicuri orang, Julia mengambil langkah mundur. Ia tidak mau sampai merusak suling nya.
"Hei! Itu curang! Kembalikan suling ku!" bentak Julia dengan geram pada Rica.
"Kau menginginkannya kembali? Maka rebutlah dariku," Rica memutar suling itu ditangannya sambil memancing-mancing amarah Julia.
"Rica! Itu bukanlah suling sembarangan! Aku sudah menunggu setidaknya setahun bagi suling itu masuk ke pelelangan Krisan. Jika sulingku sampai rusak, seluruh kekayaan keluargamu tidak akan sanggup menggantinya!"
"Pelelangan Krisan?!" Delfa sedikit tersentak mendengar kalimat yang tidak sengaja Julia lontarkan.
"Dasar pembual besar. Ini cuman suling giok biasa. Harganya paling tidak kurang dari 50 dolar," bukannya berhati-hati, Rica malah semakin memain-mainkan suling tersebut.
"Kau akan menyesali ini."
Aura disekitar Julia semakin gelap. Ia mengangkat kepalanya menatap tajam pada Rica. Disebabkan tekanan yang sangat kuat, tanpa sadar Rica melangkah mundur selangkah dan berhenti memainkan suling itu. Tanpa peringatan Julia melesat cepat melancarkan serangannya. Kaget karna hal itu membuat Rica tak bisa menghindar. Dalam sekali serang, Julia berhasil merebut kembali sulingnya. Tidak sampai disitu, Julia tidak memberi jeda bagi Rica untuk beristirahat. Ia kembali menyerangnya. Sebisa mungkin Rica menghindar dan menangkis setiap serangan yang ada. Kali ini Rica cukup dibuat kewalahan. Walau dilihat dari perkelahian itu Julia lebih unggul, namun tetap saja Nisa sangat mencemaskan kondisi tubuh Julia.
"Berhenti! Kalian bedua berhentilah berkelahi atau aku laporkan pada guru!" teriak Febby mencoba melerai mereka namun hal itu sama sekali tidak dipedulikah oleh keduanya.
"Diamlah Febby! Apa lupa siapa kami? Baik guru sekalipun tidak akan dapat menghentikan perkelahian mereka. Pertarungan ini cuman akan berhenti sampai salah satu dari mereka menang."
"Omong kosong apa itu? Siapa bilang tidak ada yang bisa menghentikan mereka? Aku bisa," ujar seseorang di belakang mereka yang membuat semuanya menoleh.
"Alwen?!" kata mereka serempak begitu tahu siapa dia.
"Kalian berdua berhenti berkelahi!" bentak Alwen mencoba melerai keduanya sambil mendekat.
Julia menoleh ke sumber suara begitu mendengarnya. Melihat lawannya lega, Rica mengambil kesempatan ini menyerang Julia. Tapi respon Julia jauh lebih cepat. Ia menyadari serangan tersebut dan seketika berbalik menyerah Rica. Julia meraih tangan Rica yang hendak digunakannya untuk memukulnya lalu membanting Rica ke lantai.
"Argh!" Rica hanya meringis menahan sakit di punggungnya.
__ADS_1
"Rica, kau baik-baik saja?" tanya Alwen sambil mencoba membantu namun segera ditolak.
"Apa yang kau lakukan disini Alwen?!! Dasar pengacau!" bentak Rica kesal sambil berusaha berdiri dibantu oleh Delfa.
"Aku disini untuk memberi kalian berdua hukuman. Kalian mendapat sangsi karna telah berkelahi di lingkungan sekolah. Sebagai ketua osis yang baru saja dilantik, aku memberi hukuman pada kalian untuk membersikan toilet!" tegas Alwen. Ia mencatat nama Julia dan Rica berserta sangsi hukuman mereka di tablet miliknya.
"Ha! Aku berasal dari asrama khusus. Peraturan tidak berlaku padaku. Selamat menikmati membersihkan toilet."
"Ini sungguh tidak adil!" protes Wendy.
"Iya, padahal Rica sendiri yang duluan mengajak Julia berkelahi," tunjuk Febby pada Rica.
"Kalian bisa membantunya jika kalian mau. Ayok pergi dari sini, Delfa," dengan tatapan sinis, Rica melipat kedua tangannya di dada. Ia mengajak Delfa pergi meninggalkan yang lain.
"Tunggu dulu Rica, kau mau kemana? Siapa bilang kau tidak menerima hukuman?" cengat Alwen.
"Apa maksudmu?"
"Apa-apaan ini Alwen. Semua orang tahu kalau murid dari asrama khusus terbebas dari semua peraturan sekolah bahkan guru pun tidak ada yang berani menghukum kita tapi kenapa hari ini berkata demikian padaku?"
"Tidak ada peraturan yang menyatakan murid dari asrama khusus terbebas dari hukuman. Semua itu terjadi karna tidak ada yang berani berurusan dengan kita. Tapi sekarang aku adalah ketua osis yang baru. Aku akan menegakan kedudukan yang sama baik dari murid biasa maupun dari kalangan atas seperti kita. Jadi sebaiknya kalian menjaga etika dan sopan santun kalian mulai dari sekarang. Bila perlu baca lagi peraturan yang berlaku disekolah ini kalau tidak mau menerima sangsi hukuman."
"Sial! Em... Bagaimana kalau hukumannya diganti saja dengan denda? Aku akan bayar berapapun," kata Rica mencoba bernegosiasi dengan Alwen.
"Tidak, tidak. Hukuman itu tidak akan membuat kalian jerah terutama kau, Rica. Hukuman fisik jauh lebih efektif."
"Padahal kita ini teman tapi kenapa kau begitu tega berbuat seperti ini? Aku adalah putri dari keluarga Pinkston, yang benar saja diminta harus membersikan toilet! Oh... Aku tahu sekarang. Kalian bertiga kan saat ini sedang memperebutkan dia. Jadi kau memanfaatkan jabatamu sebagai ketua osis untuk membuat dia terkesan. Kalau seorang Alwen merupakan pria penegak keadilan yang baik. Sebab itu kau sok-sokan memberiku hukuman!"
"Tidak. Walau aku tidak bisa bohong kalau kami memang sedang memperebutkan dia, tapi peraturan tetap harus ditegakkan. Kalian berdua ikut aku untuk menerima hukuman."
__ADS_1
"Dia cukup bijaksana, adil dan tidak menyalah gunakan jabatannya untuk kepentingan diri sendiri. Pria yang baik. Tapi sayangnya aku bukanlah wanita yang baik," batin Julia. "Aduuh... Kepalaku terasa sakit sekali," rintih Julia berakting menjatuhkan dirinya ke arah teman-temannya.
"Julia!" teriak ketiga temannya terdengar sangat khawatir begitu melihat Julia terjatuh ke pangkuan Febby.
"Bertahanlah, Julia. Kami akan membawamu ke ruang kesehatan," kata Nisa begitu cemas karna yang ditakutkannya sebelumnya terjadi.
"Kepalaku sakit sekali, Nisa," dengan mengandalkan wajah yang memang sudah pucat sebelumnya. Julia terus melancarkan aktingnya sebaik mungkin agar semua orang percaya.
"Kami sudah memperingatkan mu namun kau tetap saja ngeyel menerima tantangan Rica. Inilah yang kami takutkan," ujar Wendy bercampur marah dan khawatir.
"Ada apa dengannya?" tanya Alwen yang berjongkok disamping Julia. Ia meletakan telapak tangannya di dahi Julia untuk memeriksakan suhu tubuhnya.
"Sebelum Rica datang tadi, Julia memang mengeluh sakit kepala. Kami berencana membawanya ke ruang kesehatan untuk diperiksa, tapi siapa sangka mereka datang dan menatang berduel," jelas Febby.
"Keterlaluan kalian! Jangan ditipu olehnya! Dia itu cuman berakting," Rica tentunya tidak percaya biarpun Julia memang sakit benaran.
"Itu benar. Kalau dia memang sakit lantas kenapa disaat berkelahi tadi dia baik-baik saja?" sambung Delfa ikut mendukung temannya.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
ξκύαε