Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Gadis licik


__ADS_3

Dalam kegelapan itu Lina beraksi. Dengan ikatan yang sudah terlepas dan kemampuannya dapat melihat dalam gelap membuat Lina sangat diuntungkan. Kemampuan ini ia dapat dari kebiasaannya sewaktu masih tinggal di desa. Ia biasa sering pulang kemalaman dari hutan tanpa penerangan sedikitpun hanya untuk mencari kayu bakar atau sekedar memetik tanaman obat yang akan di jual esoknya.


Lina menendang lemari sampai barang-barang yang tersusun disana jatuh berhamburan menghantam Violet dan kedua temannya. Mereka berteriak kesakitan begitu dihujani berbagai barang kecil maupun besar. Tidak sampai disitu. Lina merebut pisau bedah yang jatuh ke lantai. Ia membuat sayatan kecil di lengan, kaki, dan juga wajah ketiga gadis ini secara bergantian.


"Auuuu........! Siapa yang berani menyerang ku?" teriak Violet begitu rasah perih terasa di kulitnya.


"Aduuuh........! Sakit! Siapa si ini orang? Beraninya menyerang kita!" teriak Anisa.


"Keluar kau!!! Tunjukan siapa dirimu!!" bentak Riva.


"Iya. Jangan berani menyerang kami dari kegelapan!!"


"Apa kau tidak tahu siapa aku? Aku adalah Violet Cershom, putri dari Ducan Cershom! Aku pastikan kalian akan mati karna telah berani berurusan denganku!!!"


"Teriaklah semaumu membanggakan nama keluargamu itu. Kau tidak akan menyangkah pelakunya adalah aku," batin Lina.


Ia sangat bersemangat melihat semua darah mengalir dari tubuh mangsanya. Teriakan dan cacian itu seperti melodi yang indah di telinga Lina. Tapi sayangnya ia tidak bisa mendengar jeritan keputus asaan sebelum ajal menjemput, maupun permohonan minta belas kasihan dari korbannya. Semuanya hurus berakhir dengan cepat. Terlalu beresiko membunuh ketiga orang ini disini. Dengan kecewa ia harus mengakhirinya.


"Aaah.......! Apa yang kalian lakukan! Lepaskan aku.... Emmmph....." teriak Lina pura-pura ikut diserang dan di dekap pergi oleh para penjahat.


Tapi Lina bukanya menyusup pergi mengambil kesempatan, ia mengambil balok kayu lalu memukul bagian belakan kepala Violet, Anisa dan Riva sampai mereka pingsan.


"Tidurlah yang nyenyak kalian bertiga. Aku masih harus menyiapkan hadiah kecil untuk kalian."


Qazi yang menyaksikan pertunjukan itu dari balik lemari teperangak tidak percaya atas apa yang baru dilihatnya. Sungguh luar biasa. Gadis kecil yang ia diremekan sebelumnya begitu memukau dalam mode iblis nya. Tatapan membunuh itu telah mengubah gambaran Lina sebagai gadis lugu nan polos. Sebagai anggota tim elit, Qazi tentunya juga telah dilatih agar dapat bergerak dengan bebas dalam kegelapan malam. Ini memudahkan ia menjalan misi.


"Siapakah gerangan gadis ini? Kemampuannya hampir menyamai anggota tim elit kami. jika ia bergabung dalam anggota, pasti bisa menjadi salah satu yang terhebat," Qazi kini bertanya-tanya dalam hati yang membuat fokusnya ke Lina terganggu.


"Jangan bergerak!"

__ADS_1


Entah sejak kapan Lina sudah ada dibelakang Qazi dengan pisau bedah tepat di lehernya. Ia bahkan tidak sempat menarik senjata dari balik jasnya. Gerakan gadis ini juga sangat lincah dan sunyi. Apa selama ini Lina telah menyadari kehadiran Qazi sebelumnya?


"Jangan beritahu siapapun apa yang kau lihat tadi termasuk tuan muda mu itu," Lina sedikit menekan pisau bedah itu di leher Qazi sampai menciptakan goresan dengan darah mengalir.


"Siapa kau sebenarnya? Apa kau salah satu mata-mata dari organisasi tertentu?" tanya Qazi.


"Seharusnya kalian sudah menyelidiki siapa aku. Aku tidak terlibat dengan organisasi atau kelompok manapun."


"Bagaimana kami bisa percaya kau tidak akan mencelakai tuan muda?"


"Mencelakai seseorang harus ada alasan bukan keisengan. Itu tergantung tuan muda kalian bersikap bagaimana terhadapku. Semua yang aku lakukan cuman sekedar membela diri."


"Aku tidak akan memberitahu tuan muda tapi aku akan tetap selalu mengawasimu!"


"Terserah kau mau bagaimana."


Lina menarik pisau bedah itu dari leher Qazi lalu berlalu pergi meninggalkannya.


Qazi menyekat bekas darah yang mengalir di lehernya. Belum perna ia melihat gadis semanis Lina bisa berbuat seperti itu. Kebanyakan wanita yang ia temui cuman tipe pengoda dan juga tentara wanita yang dingin. Tidak ada satupun diantara mereka bisa memasang ekspresi sepolos Lina tapi begitu ia menatap musuhnya, mata itu seketika berubah tajam dan bergairah seolah-olah telah membunuh puluhan orang tampa kata ampun.


"Selerah tuan muda memang berbeda. Ternyata ia menyukai gadis kecil yang licik. Aku sepat tidak percaya perkataan Jony yang mengatakan tuan muda sampai mabuk karna jatuh hati pada gadis ini. Namun gadis ini sedikit misterius. Aku akan menyelidikinya lagi dan mengungkap apa yang disembunyikannya. Tuan muda pasti suka jika aku bisa mengetahu rahasia kecil gadis yang ia sukai ini."


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


"Itu akan cukup bagus untuk mereka."


Sekarang ini Lina ada di parkiran dan baru selesai memotong kabel rem dari mobil Violet, Anisa dan Riva. Inilah hadiah yang dimaksud Lina untuk mereka. Setelah meletakan hadiah itu Lina berlalu pergi seperti tidak terjadi apa-apa. Sifatnya kembali berpura-pura lugu seperti biasa.


Untuk pelajaran pagi ini Lina terpaksa bolos agar sandiwara yang ia mainkan berjalan seperti yang ia harapkan. Violet dan dua temannya itu pasti mencarinya setelah sadar dari tidur mereka dan mencari tahu apa benar ia di sekap oleh orang yang menyerang mereka.

__ADS_1


Lina bersembunyi di atap gedung universitas sambil menikmati cemilan sampai jam makan siang tiba. Dan tepat seperti dugaannya Violet dan dua temannya itu sibuk mencarinya. Mereka bertemu di lorong menuju kelas. Seluruh tubuh, tangan, kaki dan wajah mulus ketiga gadis itu kini di penuhi plester luka.


"Kemana saja kau pergi setelah dibawa pergi oleh mereka? Apa kau tahu siapa mereka?" tanya Violet dengan wajah sangar sambil mendorong Lina ke tembok.


"A, aku... Aku tidak tahu. Mereka membiusku. Saat aku sadar, aku sudah ada di perpustakaan. Ikatan di tanganku juga sudah terlepas," jawab Lina gemetar.


"Mereka pasti bawahan Daniel untuk melindungi Lina. Ternyata semua ini tidak semudah yang aku kira. Lebih baik aku pikirkan cara lain," batin Violet. "Anisa, Riva ayok pergi!"


"Tapi Violet..."


"Ayok!" tengas Violet sambil melangkah pergi.


"Tunggu kami!"


Anisa dan Riva bergegas menyusul Violet yang semakin jauh meninggalkan mereka dengan perasaan bingung. Kenapa tiba-tiba Violet pergi begitu saja tanpa mencari perhitungan dengan Lina?


"Hmm, dasar bodoh," Lina juga berlalu pergi menemui temanya Ira.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


ξκύαε


__ADS_2