
"Pantas saja aku bangun tadi mencium bau harum bunga lavender, ternyata memang ada bunganya disini," Julia mengambil satu rangkaian bunga lavender lalu menciumnya. "Em... Haru sekali," ia menyusun setiap tangkai bunga itu kedalam guci miliknya.
"Aku memetiknya langsung di kebun belakang rumahku. Ibuku suka sekali menanam bunga lavender."
"Aku juga suka bunga lavender. Selain baunya yang memikat, warnanya juga indah. Apalagi ditanam di padang yang luas," kata Wendy setelah selesai menyusun rangkaian bunga lavendernya.
"Itu benar sekali. Itu akan menjadi spot foto yang menarik."
"Sayangnya tidak ada orang yang menanam bunga lavender di kota ini. Ditoko bunga pun bahkan jarang sekali ada yang jual. Paling yang ada cuman bunga plastik," ujar Nisa.
"Kalau tidak salah di kota sebrang aku pernah lihat hamparan bunga lavender, tapi aku lupa tempatnya dimana," Febby mencoba mengingat-ingat. "Kalau tidak salah sewaktu kita jalan-jalan dulu, Wendy. Apa kau ingat?"
"Hah... Sayangnya aku juga tidak ingat tempatnya dimana."
"Kalau sudah ingat tempatnya, kalian berdua bisa beritahu kami nanti dan kapan-kapan kita bisa berencana kesana," kata Julia sambil bangkit dari sofa. "Aku mau mandi dulu."
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
Hari berlalu. Julia, Nisa, Wendy dan Febby sedang asik berbincang di lorong koridor saat mereka hendak menuju kelas ekskul.
"Tak lama lagi sekolah Anthony akan mengadakan festival kebudayaan yang memang dilakukan setiap tahunnya. Wah... Aku sudah tidak sabar menantikannya," ujar Febby dengan gembiranya.
"Hah, yang tidak sabar kau nantikan itu bazar nya, kan?" tebak Wendy.
"Apa lagi kalau begitu? Akan ada banyak jajanan pasar yang dari berbagai negara yang enak-enak."
"Kalau soal itu aku juga suka," kata Julia.
"Bicara soal makanan kau memang paling jagonya Julia. Aku takut kita malah tidak kebagian karna Julia memborong semuanya," ujar Nisa sedikit dengan nada ejekan.
"Ooh... Kau sudah mulai berani mengejek nona ini, ya Nisa. Aku akan menghukum mu," Julia berlari mengejar Nisa yang telah berlari mengitari Wendy dan Febby.
"Ah... Maafkan aku nona muda. Aku tidak bermaksud menyingung mu," ujar Nisa, lalu ia bersembunyi dibelakang Wendy untuk menghindari Julia.
"Kalian berdua ini seperti anak kecil," Wendy dibuat repot oleh mereka berdua.
"Hihi..." Febby cuman tertawa kecil melihatnya. "Hei, Tidak hanya menjual makanan dan minuman, di bazar festival kebudayaan nanti ada juga yang menjual pernak-pernik kecil dan aksesoris. Permainan kesempatan juga ada. Pokoknya nanti pasti meriah. Selain bisa membeli dan makan ini itu, ada satu hal yang sangat aku nanti-nantikan,"
__ADS_1
"Kalau boleh tahu, apa itu?" tanya Julia. Ia berhasil menangkap Nisa dan mencubiti pipinya.
"Rahasia! Oh, sepertinya aku harus berbelok disini," tunjuk Febby pada lorong yang mereka lewati. "Dah... Sampai jumpa."
Febby melanjutkan langkahnya menuju ruangan klub yang diikutinya. Tinggal mereka bertiga, Nisa, Wendy dan Julia. Sepanjang jalan Nisa terus mengusap kedua pipinya yang sakit akibat cubitan dari Julia.
"Festival kebudayaan, Febby selalu membicarakannya beberapa hari ini."
"Febby kelihatanya sangat menantikan festival kebudayaan tersebut."
"Mungkin klub yang diikutinya mengadakan sesuatu di festival kebudayaan nanti. Seperti klub teater dan musik yang akan mengadakan pertunjukan," kata Nisa menebak-nebak.
"Ngomong-ngomong soal klub, bukannya kau ikut klub olahraga hari ini, Wendy?" ujar Julia mengingatkan.
"Iya. Hari ini aku ada kelas karate."
"Lantas kenapa kau masih disini?"
"Apa maksudmu?" butuh beberapa saat bagi Wendy untuk menyadari kata-kata Julia. "Tunggu. Kelas karate ada di lantai dasar. Wah!! Kenapa kalian tidak mengingatkanku dari awal. Aku pasti terlambat!"
"Hahaha..."
Julia dan Nisa pergi ke klub sains yang berjarak tidak jauh lagi di depan mereka. Mereka sampai di kelas sains tepat waktu dan segera mengambil tempat duduk mereka yang bersebelahan dengan Julius. Kurang lebih dua menit menunggu akhirnya Professor datang juga. Namun bukan Professor yang biasa mengajar mereka. Kali ini yang datang adalah seorang wanita, lengkap dengan jas putih panjangnya dan mengenakan kacamata.
"Selamat sore semuanya. Saya adalah Professor baru yang akan mengajar kalian mulai hari ini. Nama saya Olivia Scarlett, Akazawa Olivia Scarlett. Kalian bisa memanggilku Prof. Via."
Julia tersentak kaget begitu mendengar nama dan suara yang begitu ia kenal itu. Ia mengangkat wajahnya untuk memastikan.
"Hah?! Bibi Via! Apa yang bibi Via lakukan disini?" tunjuk Julia sambil berdiri, membuat semua orang di kelas itu menoleh padanya.
"Lucu sekali kau bertanya. Tentu saja aku berada disini untuk mengajari kalian ilmu pengetahuan, bukannya main tenis meja. Kembalilah duduk di kursi mu dan jangan panggil 'bibi' disaat aku sedang mengajar."
"Siap, Prof. Via," Julia kembali duduk di kursinya.
"Dia bibi mu, Julia?" tanya Nisa berbisik.
"Iya, adik kandung papaku. Bibi Via lah yang mengajari ku tentang jaringan komputer."
__ADS_1
"Hah... Kenapa bisa bibi Via bisa ada disini?" keluh Julius pelan sambil menutupi wajahnya menggunakan buku.
"Baiklah, ada lagi yang mau ditanyakan sebelum memulai pelajaran?"
"Prof. Via, apa benar anda bibi nya Julia? Itu berarti anda juga bibi nya Julius dong," tanya seorang siswi sambil melirik Julius malu-malu.
"Tepat sekali. Apa kau ingin no telponnya? Aku bisa mendapatkannya untukmu."
"Sungguh?"
"Aku juga mau kalau begitu,"
"Aku juga."
"Aku juga."
Suasana kelas menjadi riuh oleh teriakan para siswi. Semua ini karna Via yang memincu hebohnya suasana kelas. Baru beberapa menit bertemu dengan bibinya, Julius benar-benar di buat jengkel.
"Prof. Via, bukankah pertanyaan di luar pelajaran tidak diperbolehkan di jam pelajaran?" kata Julius dengan tatapan dingin.
"Maaf Julius, bibi cuman bercanda. Kalian semua harap tenang. Kita akan memulai pelajarannya."
Selesai berkenal, Via mulai pembelajaran. Via menggunakan metode pembelajaran yang cukup santai dan mudah dipahami oleh semua siswa dan siswi di kelas tersebut. Penjelasan pun tidak membosankan karna sering diselingi candaan yang mengocok perut. Riuh suara tawa mengema dengan begitu lucunya. Selain menjelaskan Via juga langsung melakukan eksperimen untuk membuktikan apa yang diterangkannya itu benar apa tidak. Dengan tingkah ceria dan lincah dari Via membuat percobaan sungguh sangat menghibur. Percobaan yang terlihat sederhana dan membosankan itu menjadi begitu menarik di mata. Apa lagi saat Via melakukan beberapa aksi dengan bahan kimia yang mudah meledak atau dengan nyala api.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε
__ADS_1