
Jam 15.16 mereka sekeluarga kembali ke vila milik Samuel. Untuk makan malam ini Lina spesial memasaknya sendiri sebagai bentuk penghargaan bagi putra dan putrinya yang telah berhasil memenangkan lomba. Awalnya Julia ingin mengundang Wendy, Febby dan Marjorie untuk ikut makan malam bersama tapi mereka menolak. Febby tidak bisa meninggalkan tokonya yang ramai. Jika ia tinggalkan, maka rekan-rekannya yang lain akan kewalahan. Kalau Wendy, orang tuanya hari ini datang, jadi ia tidak bisa ikut. Ia ingin menghabiskan waktu bersama keluarganya. Dan untuk Marjorie, sejak selesai acara perlombaan Julia tidak melihatnya. Ditelpon juga tidak aktif. Tinggallah Nisa seorang. Kali ini Julia tidak menerima alasan penolakan lagi. Mau tidak mau Nisa diseret untuk ikut makan malam tersebut. Mengingat Nisa juga bagian dari tim membuat Nisa tidak bisa mencari alasan untuk menolak.
Sambil menunggu makan malam. Daniel, Samuel dan Julius menghabiskan waktu mereka di ruang bersantai sambil membahas sedikit tentang Lady Blue serta ketiga pria yang berusaha merebut project sain siang tadi. Ketiga pria itu sudah diamankan dan sekarang berada di penjara bawah tanah yang tersedia di vila. Lina, Adelia dan Adelio berada di dapur, sedang menyiapkan makan malam. Adelia dan Adelio bersikeras mau membantu mama mereka memasak. Lina tentu tidak bisa menolak walau ia sebenarnya telah mendapat bantuan dari para pelayan dan koki di vila tersebut.
Hidangan yang ingin Lina buat malam ini terbilang cukup banyak dan hampir semuanya merupakan makanan kegemaran Julius dan Julia. Lina tidak memberitahu kedua kakak beradik itu tentang makan malam hari ini dimasak langsung olehnya. Sebab itu Julia tidak hadir di dapur dan ngotot ingin membantu. Saat ini Julia dan Nisa ada di atas atap vila. Cuaca yang berangin membuat Julia terpaksa menyangulkan rambutnya. Ia sedikit kesal karna helaian rambutnya terus saja menutupi wajahnya. Nisa dibuat tersenyum dengan melihat tingkah Julia. Namun semuanya berubah begitu suasana disekitar mereka berubah serius.
"Hei, Nisa. Maukah kau kuberitahu rahasia kecil ku?"
"Aura disekitar Julia seketika berubah. Kenapa rasanya seperti menghadapi orang asing?" batin Nisa. "Julia, kenapa kau tiba-tiba membicarakan ini?"
"Takutkah dirimu?" tanya Julia sambil menatap dalam mata Nisa.
"Aku..." tatapan mata Julia membuat Nisa tidak nyaman. Hal itu membuat ia menundukkan kepalannya.
"Jika takut. Mungkin belum saatnya kuberitahu," Julia mengalihkan pandangannya jauh ke depan, ke biru lautan yang membentang luas di hadapannya.
"Tidak. Aku bisa menerima apapun itu. Jika Julia saja percaya padaku, lantas kenapa aku tidak bisa percaya pada diriku sendiri?" jawab Nisa dengan tegas. Ia menyakinkan temannya itu bahwa ia tidak takut sama sekali.
Julia kembali menoleh pada Nisa sambil tersenyum, namun raut wajahnya masuk terlihat serius. "Kau cukup berani dibalik wajah pemalumu. Tapi aku ingatkan setelah kau tahu hal ini aku harap kau jangan lari."
Nisa mengapai kedua tangan Julia dan menggegamnya erat. Ia menata mata Julia untuk kesungguhan hatinya. "Tidak akan."
"Darah," kata Julia kemudian sambil menatap tangan mereka.
"Apa?!" seketika Nisa dibuat bingung dengan satu kata yang meluncur dari bibir temannya itu.
"Tanganku penuh darah," ulang Julia dengan kalimat yang diharap lebih bisa dimengerti Nisa.
__ADS_1
Pirasat tidak enak segera menghampiri Nisa namun ia mencoba untuk tetap berpikir positif. "Aku tidak mengerti? Tangan mu bersih."
"Kelihatannya, namun di mataku... Apa sekarang kau takut?" kata Julia sambil mengangkat wajahnya dan mengulangi pertanyaannya yang pertama.
"Soal darah sejujurnya aku tidak takut sama sekali. Kau tahukan dulu aku perna bilang kalau aku cukup tertarik dengan dunia bawah tanah. Kejahatan skala besar, perkelahian, senjata dan pembunuhan. Aku tidak perna menceritakan kesukaanku ini pada siapapun kecuali kalian karna aku tahu kalau tidak akan ada yang percaya padaku."
"Terkadang orang yang pendiam lah yang... Kau tahu... Mereka tidak bisa ditebak. Tapi karna hal inilah aku memberanikan diri memberitahu mu," Julia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. "Rumor yang kau katakan tentang anggota Black Mamba pada malam pesta hari itu adalah benar."
Nisa tersentak kaget mendengarnya sampai tanpa sadar ia melepaskan genggamannya dan mundur selangkah. "Mak, maksudmu... Anggota Mafia Black Mamba sungguh ada dibawah kendali keluarga Flors. Jadi kau..."
"Sekarang bagaimana? Takutkan?"
Julia melangkah mundur sejauh lima meter dari Nisa. Dengan tatapan dingin dan aura membunuh yang kental, Julia lepaskan. Ia sungguh ingin mengetahui bagaimana reaksi temannya itu begitu melihat sosoknya yang sebenarnya. Nisa hanya terdiam. Tekanan yang kuat membuat tubuhnya gemetar ketakutan tapi ia menguatkan hatinya.
"Tidak," dengan mantap Nisa melangkah maju mendekati Julia sebagai bukti dari kata-katanya. "Aku tidak takut."
"Gadis pemberani," senyum semakin melebar di wajah Julia melihat keberanian temanya itu. Namun semuanya seketika berubah...
Reaksi Nisa ini jauh lebih mengangetkan Julia. Ia sungguh tidak menduga hal itu. "Eh... Nisa..."
Nisa menoleh begitu namanya disebut. Ia malah malu sendiri dengan sikapnya tadi. "Oh, hihi... Maafkan aku. Aku terlalu senang."
"Seharusnya aku tidak perlu meragukan mu lagi," kata Julia dengan ekspresi masih berusaha mencerna apa yang terjadi barusan.
Setelah berkedip beberapa kali, Julia tiba-tiba mengeluarkan senjata yang tersembunyi dibalik rok mini nya dan meletakan itu di atas meja yang ada dihadapan mereka. Nisa melirik pistol itu lalu kembali melirik pemiliknya. Julia cuman tersenyum.
"Tentu kau tidak asing dengan benda ini, bukan?"
__ADS_1
"Wow... Apa itu asli?" tanya Nisa memastikan.
Julia mengangguk sebagai jawaban. Ia meraih pistol tersebut lalu menarik pelatuknya. Suara yang dihasilkan begitu peluru di tembakan cukup nyaring di telinga. Nisa tidak sempat menutup telinganya disaat peluru tersebut meluncur menuju laut.
"Kami semua memilikinya namun mama melarang kami membawanya ke sekolah."
"Luar biasa. Aku belum perna melihatnya sedekat ini. Apa boleh aku menyentuhnya?"
"Boleh. Tapi hati-hati, pistol inu mungkin sedikit berat bagi orang yang baru pertama kali memegang nya," Julia menyodorkan pistol tersebut pada Nisa.
Nisa menerimanya menggunakan kedua tangan. "Oh, Lebih berat dari yang aku bayangkan. Tapi tadi kau dengan mudah mengangkatnya."
"Aku sudah terbiasa," Julia menepuk pundak Nisa lalu berbisik di telinganya. "Menyentuhnya saja tidak seru, mau belajar menembak?"
"Bolehkah?" kata Nisa spontan. "Em... Maksudku jika tidak keberatan."
"Sambil menunggu makan malam, kenapa kita belajar menembak?"
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
ξκύαε