Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Masa lalu Marjorie


__ADS_3

Delfa dan Rica melangkah pergi tak lama setelah Yusra dan Marjorie keluar dari ruang kepalah sekolah.


"Apa benar sekarang keluarga Pinkston memiliki hubungan dengan keluarga Flors tidak cuman sebatas hubungan kerja sama di perusahaan? Kalau seperti ini, gadis itu akan semakin sewenang-wenang," batin Tn. Vincent. "Sudahlah, lebih baik aku memeriksa semua data di komputer ku. Aku bisa dipecat jika ada yang hilang."


Tn. Vincent segera memeriksa seluruh data sekolah di komputernya takut-takut ada yang hilang. Setelah pemeriksaan cukup lama Tn. Vincent menarik nafas lega karna semuanya baik-baik saja.


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


"Hah... Sepertinya aku kalah. Tapi tidak mengapa, yang terpenting aku berhasil mendapatkan identitas mu, nona Marjorie," Julia mulai melihat-lihat hasil tangkapannya. "Uuh... Hihi... Ini sangat menyenangkan. Ternyata kau bukan sembarang gadis cantik."


Marjorie, gadis berkebangsaan Swedia yang baru menginjak umur 15 tahun. Memiliki rambut pirang keemasan dengan mata biru terang, hidung mancung, bibir merah muda dan berkulit putih pucat. Karna terlahir sebagai bayi yang tidak dinginkan membuat Marjorie harus hidup di lingkungan panti asuhan. Disaat berumur lima tahun dia diadopsi oleh sepasang suami istri. Berharap mendapatkan kasih sayang sebuah keluarga yang sangat didambakannya, Marjorie malah mendapat perlakuan tidak menyenangkan. Tujuan sepasang suami istri itu mengadopsinya hanya sebatas untuk memaksa ia mencopet di jalanan. Sudah ada belasan anak-anak lain yang bernasip sama seperti dia.


Sebagai anggota baru, tentunya Marjorie sering mendapat perlakuan buruk dari rekan pencopet cilik lainnya. Seperti hasil mencopetnya seharian kerap beberapa kali disita oleh senior-seniornya yang kurang beruntung dalam mencopet atau tidak berhasil mendapat satupun dompetpun hari itu. Karna hal ini dia lah yang mendapat hukuman dari sepasang suami istri itu. Hukumannya karna tidak berhasil mencopet biasanya tidak diberi makan malam. Ada maksud hati untuk melawan tapi Marjorie malah mendapat pukulan dan bahkan sampai tendangan yang menyebabkan luka-luka lebam. Melarikan diri juga percuma saja. Entah bagaimana mereka bisa menemukan dirinya lagi, mau sekeras apapun ia mencoba.


Dua tahun mengalami penderitaan di tempat seperti itu, Marjorie dijual ke situs perdagangan orang karna paras cantiknya semakin terlihat. Ia dibeli dengan harga tinggi oleh seorang pengusaha kaya untuk diperkerjakan paksakan. Walau masih mendapat perlakuan kasar dari majikan, namun hidup Marjorie cukup lebih baik. Ditempat itu ia mendapatkan sejumlah teman yang baik padanya. Tapi hal itu tidak berlangsung lama. Satu tahun kemudian ia kembali dijual, dan kali ini hidupnya benar-benar hancur. Tidak peduli umurnya yang masih anak-anak ia sudah dipaksa melayani orang-orang bejat Pedhophilia.


Kurang lebih dua setengah tahun Marjorie gonta-ganti majikan, dijual kesana kesini hanya untuk dijadikan mainan atau sekedar pembantu. Tapi walaupun begitu ia masih tetap menjaga kesuciannya mau bagaimanapun caranya. Ia rela dipukul sampai hampir mati dari pada harus menyerahkan kesuciannya. Sampai suatu hari Marjorie dibeli oleh seseorang yang misterius. Seorang pria yang engan menyebutkan namanya pada Marjorie dan senantiasa memakai topeng. Ia cuman berpesan untuk memanggilnya dengan sebutan 'Sir' saja.


Mulai dari hari itu hidup Marjorie berubah drastis. Ia tidak lagi mendapat perlakuan kasar, diberi makanan, pakaian dan tempat tinggal yang layak. Hanya saja ia harus menjadi Cracker yang handal dan seorang pembunuh berpengalaman. Tentu hal ini langsung disetujui olehnya. Ia berlatih dengan sangat giat sampai menjadi apa yang diharapkan. Kerja kerasnya selama ini terbayarkan. Setiap misi yang diberikan selalu berhasil dengan sempurna. Hal ini membuat Marjorie menjadi anak kesayangan oleh tuannya. Sifatnya yang selalu cuek dengan sekitar tapi tahu betul apa yang terjadi sekecil apapun menjadi ciri khas tersendiri.


"Uwaaaa.........aah..... Tidak aku sangkah kehidupan masa kecilnya penuh dengan penderitaan, tapi ia masih tetap berjuang untuk menjalani hidupnya. Tekadnya yang kuat ini patut diacungi jempol. Baiklah, mulai sekarang kau akan menjadi panutanku. Aku harus berkenalan langsung denganmu dan mungkin kami bisa menjadi rekan yang hebat," kata Julia pada diri sendiri.


"Julia!"

__ADS_1


Panggil seseorang membuat Julia tersentak kaget. Dengan cepat ia menutup layar laptopnya lalu menoleh. Julia sedikit menghembuskan nafas lega begitu tahu ternyata yang memanggilnya adalah teman-temannya sendiri. Cuman ia masih berharap teman-temannya itu tidak mendengar kata-katanya barusan.


"Ternyata kau disini," kata Wendy sambil menghampiri bersama Nisa dan Febby.


"Kalian?! Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Julia.


"Apa yang kami lakukan? Tentu saja mencarimu."


"Kau sedang apa?" tanya Febby.


"Tidak ada apa-apa. Ayok kembali."


Julia membereskan barang-barang dan lantas berdiri. Ia berjalan mendahului teman-temannya menuju tangga.


"Ngelagatmu ini sangat mencurigakan. Apa yang sedang kau sembunyikan dari kami, Julia?" kata Wendy sambil bergegas menyusul Julia.


"Benar juga. Tapi Julia, kenapa kau tiba-tiba menyebarkan video itu? Apa Rica menggagumu?"


"Tidak. Aku cuman iseng saja ingin menyebarkannya."


"Kau tidak takut dia akan murka?" kata Febby.


"Dia itu nona dari dari keluarga Pinkston. Dia pasti mampu membayar seseorang menghapus video itu dari media sosial sekolah, walau ia tidak akan mungkin bisa menghapus ingatan semua orang. Aku cuman ingin menyampaikan padanya kalau acamanku bukanlah sekedar omong kosong belakang."

__ADS_1


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Disaat jam pelajaran sejarah, Julia meminta izin dari gurunya untuk pergi ke toilet. Ada dua alasan, yang pertama karna memang sudah tidak tahan ingin menggunakan toilet dan yang kedua karna Julia benci pelajaran sejarah. Ia benar-benar tidak menyukai pelajaran sejarah. Baginya pelajaran sejarah sangatlah membosankan. Mendengar guru bercerita membuat Julia cepat mengantuk. Hampir seperempat jam Julia berlama-lama di toilet, berharap jam pelajaran sejarah cepat berakhir sewaktu ia kembali ke kelas.


"Selamat siang, nona," sapa seorang pria disaat Julia baru keluar dari toilet.


"Siapa kau?" pertanyaan itu lah yang pertama kali meluncur keluar dari bibi Julia.


"Oho... Ini cukup mengejutkan. Ternyata masih ada seorang gadis yang belum mengetahui siapa aku ini. Perkenalkan namaku Yusra, tuan muda dari keluarga Arlo. Kau boleh memanggilku Yusra," kata Yusra memperkenalkan diri.


"Yusra. Oke, aku mengingatnya."


"Apa?! Hanya itu? Ia tidak terkejut sama sekali setelah mengetahui identitas ku? Apa dia bodoh atau memang baru keluar dari hutan?" batin Yusra. Ia cukup terkejut dengan sikap Julia yang tidak seperti kebanyakan gadis lainnya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


ξκύαε


__ADS_2