Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Hal yang tidak terduga


__ADS_3

"Aku mau dua gaun ini dan dua gaun yang ada di manekin-manekin itu untuk temanku."


Julia menyerahkan dua gaun yang sendari tadi di pengangnya, kemudian menyodorkan sebuah kartu berwarna hitam. Sean yang melihat itu dibuat tercengang. Dalam sekejap ia seketika mengerti kenapa Julia memiliki sifat berani dan bar-bar tersebut.


"Apa?! A, aku tidak salah lihat, kan? I, itu adalah Black card super langkah dan jarang sekali ditemui. Aku saja cuman memiliki Purple card. Siapa gadis ini sebenarnya?" batin Sean.


"Baiklah. Mari ikuti saja ke meja kasir," ujar Linn dengan senyuman.


"Julia, kau serius membeli semua gaun itu?" tanya Wendy sambil mengikuti Julia bersama Febby.


"Tadinya aku mau beli dua lagi tapi aku benci dengan stap yang bernama Vidia itu. Lebih baik aku cari di toko lain saja."


"Julia, apa boleh kami tahu, siapa dirimu ini?"


"Aku cuman seorang gadis remaja," jawab Julia tersenyum manis.


Ada tiga tingkatan kartu yang dikenal di kalangan keluarga atas dan menegah. Yang terendah adalah Platinum card, kartu ini sering dijumpai dan biasanya dimiliki oleh keluarga kalangan menengah. Yang kedua Gold card, kartu yang dimiliki hampir seluruh keluarga kalangan atas. Dan yang tertinggi adalah Purple card, hanya segelitir orang yang memiliki kartu ini.


Sementara untuk Black card. Ini adalah jenis kartu yang misterius. Bahkan kebanyakan orang menganggapnya tak pernah ada, tapi tidak bagi orang-orang yang pernah melihatnya secara langsung. Konon katanya Black card cuman diperuntukan untuk orang-orang tertentu saja dan yang pasti pemiliknya memiliki derajat yang lebih tinggi dari pemilik Purple card.


Tapi dari semua rumor itu ada kenyataan yang tidak akan terpikirkan oleh siapapun. Awal dari munculnya kartu-kartu ini merupakan ide dari keluarga tersembunyi. Mengingat keluarga tersembunyi memiliki banyak marga samaran, jadi diputuskan bagi setiap anggota keluarga tersembunyi diberi Black card sebagai penanda ikatan keluarga. Dan dimunculkannya kartu-kartu lainnya itu hanya sekedar untuk menyamarkan tanda pengenal tersebut.


"Kalau aku ceritakan ini pada Alwen, pasti dia tidak akan percaya. Aku terlalu meremehkan gadis ini. Sepertinya kami memilih target taruhan yang salah," kata Sean dalam hati. "Siapa namamu?" tanya Sean pada stap toko yang kini tinggal mereka berdua.


"Nama saya Vidia. Kalau boleh tahu, kenapa tiba-tiba tuan muda menanyakan nama saya?" Vidia mulai merasakan firasat buruk.

__ADS_1


"Kenapa kau tanya? Aku akan memanggil bosmu untuk memintanya memotong gajimu bulan ini karna kau bersikap kasar terhadap pelanggan," tegas Sean.


"Apa?! Tolong maafkan saya tuan muda. Saya janji tidak akan melakukannya lagi," Vidia segera bersujud di lantai.


"Seharusnya kau bersyukur aku tidak memintanya memecatmu. Sekarang pergilah dari hadapanku sebelum aku berubah pikiran!"


"Ba, baik. Saya pergi sekarang," takut membuat Sean bertambah marah, Vidia lekas berdiri dan melangkah pergi.


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Selesai melakukan pembayaran dan barang juga sudah diterima, Julia, Wendy dan Febby keluar dari toko tersebut. Mereka melanjutkan berkeliling mall mencari restoran untuk makan siang. Terpilihlah sebuah restoran yang ada di lantai empat. Namun kali ini Wendy dan Febby bersikeras ingin mentraktir Julia sebagai balasan karna telah membelikan mereka gaun. Walau tidak seberapa tapi setidaknya mereka berusaha membalas kebaikkan Julia.


Setelah makan siang, Julia mengajak teman-temannya mengunjungi beberapa toko aksesoris. Untuk pergi ke pesta tidak cukup cuman membeli gaun saja, bukan? Tas, sepatu serta perhiasan juga diperlukan jika ingin mengalahkan kecantikan Rica di pesta malam ini. Tapi disela-sela itu juga Julia tidak tahan untuk mampir ke tempat lainnya seperti toko boneka, area bermain tranpoling, salon kecantikan dan yang paling membuat Julia bisa berlama-lama adalah mengunjungi pameran robot yang kebetulan baru diadakan di mall tersebut akhir pekan ini. Hal hasil Wendy dan Febby harus kerepotan meladeni kemauan Julia. Disisi lain, Sean yang sendari tadi masih penasaran dengan identitas Julia terus mengikuti Julia dan teman-temannya kemanapun mereka pergi. Begitu mengetahui Julia memiliki sisi kekanak-kanakan yang imut membuat Sean semakin jatuh hati padanya.


"Jangan ada yang bergerak! Semuanya tetap berkumpul dalam lingkaran!" perintah salah satu dari para penembak itu yang sepertinya pemimpin mereka.


Semuanya dikumpulkan di satu tempat dalam keadaan terduduk di lantai dan kepala menunduk. Tidak ada satupun yang berani bersuara karna ancaman akan ditembak. Setiap ruangan diperiksa untuk memastikan tidak ada satupun yang bersembunyi. Masih belum pasti tujuan dari orang-orang bersenjata ini menyandera ratusan orang di mall.


"Bagaimana ini Julia? Aku takut sekali," bisik Febby dengan tangan gemetarnya yang terus menggenggam tangan Julia.


"Aku belum mati disini," sambung Wendy sama takutnya.


"Jangan berpikir berlebihan. Kalian tidak akan mati selama ada disisiku," Julia berusaha meyakinkan kedua temannya kalau semuanya akan baik-baik saja.


"Bagaimana bisa kau seyakin itu Julia? Darimana kau tahu kalau kita akan selamat?"

__ADS_1


"Memangnya kita pasti mati apa?"


"Kau jangan bercanda disaat seperti ini. Apa kau tidak lihat? Mereka semua bersenjata."


"Aku tahu itu. Em... Apa ada diantara kalian yang bisa bela diri?" tanya Julia.


"Tidak," jawab mereka hampir bersamaan.


"Baiklah," dengan hati-hati Julia melirik setiap penyandera bersenjata yang ada. "Ada total 10 orang bersenjata yang terpencar di berbagai sudut di mall ini. Hm... Lumayan sulit. Tidak memungkinkan bagiku untuk menyerang mereka tanpa senjata jarak jauh dan juga tak mungkin aku melakukannya dihadapan Wendy dan Febby," pikir Julia.


"Aku semakin menyukai gadis satu ini. Walau dihadapkan dengan situasi yang mengerikan seperti ini ia masih bisa bersikap tenang. Tidak seperti kebanyakan gadis lainnya yang malahan akan menangis," kata Sean dalam hati mengagumi Julia.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε

__ADS_1


__ADS_2