Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Mulia bergerak


__ADS_3

Telpon dimatikan.


"Ada apa? Siapa itu tadi?" tanya Ny. Arlo pada suaminya dengan sangat cemas.


"Sialan kau keluarga tersembunyi! Berani-beraninya menculik putraku!" Tn. Arlo memukul dinding rumahnya sendiri untuk meluapkan emosinya.


"Apa?!" Ny. Arlo sangat kaget begitu mendengarnya. "Tidak aku sangka ternyata keluarga terhormat seperti mereka bisa melakukan hal licik seperti ini."


"Aku juga tidak menyangka hal ini."


"Lalu kita harus bagaimana?"


"Orang yang diperintahkan keluarga tersembunyi untuk menculik putra kita meminta uang tebusan senilai 1 juta."


"Kalau begitu siapkan uangnya sekarang. Aku tidak peduli itu mau 1 juta atau 10 juta. Aku tidak mau terjadi apa-apa pada putraku. Hiks... Hiks..." tangis Ny. Arlo terseduh-seduh.


"Nanti dulu. Aku tidak yakin kalau orang yang menelpon kita tadi akan menepati janjinya setelah mendapatkan uang. Prinsip di keluarga tersembunyi dalam menjalankan misi sangat ketat. Setiap anggota yang menjalankan misi tidak diperbolehkan kembali sebelum misi selesai dan bagi yang gagal akan dihukum mati. Sudah bisa ditebak kalau orang itu cuman memanfaatkan kita."


"Tapi kita tidak bisa diam saja. Putra ku dalam bahaya. Hiks... Hiks.... Aku mohon selamatkan putraku."


"Itu sudah pasti. Dia juga putraku. Aku akan memberitahu Lady Blue soal ini. Dan kita lihat apa dia bisa membantu?"


Tn. Arlo segera menghubungi Lady Blue. Butuh beberapa saat sampai telponnya diangkat.


"Iya, Tn. Arlo. Ada perlu apa meneleponku?" tanya Lady Blue yang memang menunggu telpon dari Tn. Arlo.


"Begini, Lady Blue. Putra kami, Yusra diculik oleh salah satu bawahan keluarga tersembunyi," jelas Tn. Arlo dengan hati-hati.


"Diculik?" kata Lady Blue pura-pura baru tahu. "Bagaimana bisa keluarga terhormat seperti mereka menggunakan cara licik seperti itu? Ini sungguh mencurigakan."


"Saya juga berpikir demikian. Sebab itu saya memberitahu anda soal ini."


"Sepertinya mereka memulai lebih awal. Jangan risau Tn. Arlo, kami ada di belakangmu. Kebetulan kita juga sedang bersiap melakukan penyerangan ke ibu kota. Bagaimana kalau kelompok Dragon memimpin penyerangan ini? Apa kalian sudah siap?"

__ADS_1


"Kami selalu siap!"


"Bagus. Aku akan kirim informasi mendetail letak lokasi kediaman keluarga tersembunyi. Kalian bisa mulai bergerak. Kami semua akan menyusul kalian segera. Dan untuk putramu, aku mengirim anak buah terbaik ku untuk menyelamatkannya."


"Terima kasih Lady Blue."


"Jangan sungkan," Lady Blue mematikan telponnya.


"Bagaimana? Apa kata Lady Blue?"


"Kita serang kediaman keluarga tersembunyi."


"Apa kita sanggup? Mereka adalah kekuatan tertinggi di ibu kota, sedangkan kita cuman... Ini sama saja dengan mengantarkan nyawa kita sendiri"


"Tenang saja. Lady Blue ada di pihak kita. Mereka juga sedang bersiap menyerang ibu kota. Kita tidak sendirian."


"Baik. Tapi aku mohon kembalilah dengan selamat. Aku tidak mau kehilangan anggota keluargaku."


"Aku akan segera kembali."


"Rencana pertama selesai. Sejauh ini berjalan lancar. Saatnya kita tinggal menunggu kelompok Dragon dengan bodohnya menyerang kediaman keluarga tersembunyi. Disaat mereka lengah dan disibukan dengan penyerangan tiba-tiba dari kelompok Dragon, kita bisa menyusup masuk. Bagi seluruh anggota menjadi beberapa kelompok untuk menyerang masing-masing markas cabang secara diam-diam," perintah Lady Blue.


"Bagaimana dengan kelompok Dragon? Apa kita akan mengirim bantuan untuk mereka?" tanya pengurus Hans.


"Mereka cuman umpan, jika tidak habis ditelan ikan maka bisa digunakan lagi tapi jika habis maka tinggal ganti yang baru. Setelah kita berhasil menempati markas cabang milik keluarga tersembunyi, barulah kita menyerang kediaman utama sebagai penutup. Setidaknya pertahanan mereka sedikit melemah. Dengan begitu kita bisa cukup mudah mengalahkan mereka. Perang siap dimulai. Saatnya membanjiri ibu kota dengan darah."


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Jam 14.30 area panggung pertunjukan sudah mulai dipersiapkan untuk pertunjukan musik yang nantinya juga sebagai acara penutupan dari festival kebudayaan. Semua siswa dan siswi yang terpilih untuk tampil di pertunjukan sore ini dikumpulkan. Mereka akan diminta mengecek persiapan dari alat musik masing-masing atau sekedar berlatih sebentar sebelum penampilan mereka yang sebenarnya. Bu Feli selaku guru pembimbing di kelas musik benar-benar terlihat yang paling kerepotan sendiri. Dia jauh lebih gugup dari pada mereka yang tampil. Walau ini bukan kali pertama ia melatih siswa dan siswi sampai mempersembahkan pertunjukan, namun tetap saja ia masih gugup. Samuel mencoba menenangkan Feli serta menyakinkannya bahwa semuanya akan berjalan sesuai yang diinginkan. Pertunjukan musik sore ini pasti berjalan lancar. Dan sepertinya itu cukup membantu menenangkan Feli yang tegang. Ia mulai rileks setelah mengikuti nasehat Samuel untuk mengatur nafasnya.


"Nisa, bisa temani aku ke toilet sebentar? Aku sudah tidak tahan," pinta Wendy dengan nada sedikit memohon.


"Kau tidak perlu bertanya. Ayok aku temani."

__ADS_1


"Terima kasih."


Nisa segera menemani Wendy ke toilet yang terletak cukup jauh dari panggung pertunjukan. Karna Wendy sudah merasa tidak tahan lagi, mereka pergi tanpa memberitahu siapapun termasuk Julia dan Febby. Hal hasil kepergian mereka tidak diketahui sama sekali sampai setengah jam berlalu dan Nisa serta Wendy tidak kunjung kembali.


"Julia, dimana kakakmu? Sendari tadi ibu tidak melihatnya," tanya bu Feli pada Julia.


"Aku juga tidak tahu, tapi memang kebiasaan kakak suka datang terlambat kalau mau tampil di pertunjukan seperti ini. Kakak lebih memilih tempat yang sepi untuk latihan sebentar sebelum pertunjukan," kata Julia merasa tidak terlalu curiga kalau kakaknya terlambat datang.


"Baiklah, tapi dia pasti datang, kan?"


"Iya."


"Ngomong-ngomong yang belum hadir disini, dimana Nisa dan Wendy? Sendari tadi juga aku tidak melihat mereka," tanya Febby yang baru sadar menghilangnya kedua teman mereka.


"Benar juga Febby. Aku baru sadar kalau mereka tidak ada. Bukankah tadi mereka ada. Kemana perginya?"


"Kalau begitu kita harus mencari mereka," kata Febby menyarankan.


"Coba tanyakan pada teman-teman kalian yang lain. Mungkin mereka ada melihat mereka."


Julia dan Febby mengangguk. Mereka kemudian berpencar bertanya pada teman mereka sesama pemain musik. Namun tidak ada yang melihat Nisa dan Wendy pergi. Julia mencoba bertanya pada stap yang membantu menyiapkan acara. Tidak disangka salah satu stap yang bertugas mengurus kelengkapan listrik melihat dua gadis yang Julia terangkan keluar tergesa-gesa melalui pintu belakang panggung setengah jam yang lalu. Mengetahui hal itu, Julia dan Febby segera minta izin pada bu Feli untuk mencari kedua teman mereka berserta Julius sekalian. Tanpa menunggu jawaban lagi mereka bergegas keluar dari ruangan tersebut.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


ξκύαε


__ADS_2