Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Rencana


__ADS_3

Lina mengambil kerikil sebesar jempol lalu di lemparkannya ke udara sekali, menangkapnya kemudian di lempar sekuat tenaga ke atas pohon.


"Aw!" terdengar suara kecil tertahan dari atas pohon itu. Kerikil tersebut tepat mengenai kening dari salah satu pengawal bayangan.


"Masih tidak mau keluar. Itu baru kerikit. Bagaimana kalau aku melemparkan batu ini?" entah dapat dari Lina sudah meneteng batu berukuran kepalan tinju. "Qazi, cari batu yang lebih besar jika mereka masih tidak ada yang mau keluar."


"Itu tidak perlu," satu orang pria tiba-tiba melompat turun dari pohon.


"Bagus. Panggil yang lainnya juga. Jangan berpikir aku hanya tahu kau seorang saja."


"Sungguh gadis yang mengerikan. Bukan hanya tahu keberadaan kami tapi dia juga tahu apa yang aku pikirkan," batin pria itu. "Kalian semua keluarlah!" perintah pria itu pada anggotanya.


Tiga orang lainnya muncul dari berbagai arah setelah mendengar perintah dari pemimpin mereka tersebut.


"Ternyata mereka yang di perintahkan tuan muda untuk melindungi Lina. Mereka adalah pengawal bayangan yang dilatih secara khusus untuk melindungi seluruh anggota keluarga Flors secara diam-diam. Tuan muda menempatkan mereka di sisi Lina. Itu berarti tuan muda telah menganggap Lina sebagai bagian dari keluarga Flors," batin Qazi. "Kenapa kau meminta mereka keluar?"


"Agar mereka ada pekerjaan. Dari pada buang-buang waktu harus melapor dulu, baru mencari siapa yang mengirim mereka. Lebih baik sekalian saja kita membuat rencana untuk menangkap mereka semua," kata Lina mengutarakan pikirannya.


"Apa rencananya?" tanya Qazi.


"Mudah. Kalian berempat menyamarlah menjadi preman-preman yang tewas ini dan culik lah aku."


"Apa?! Tugas kami untuk melindungi mu bukanya menempatkan mu dalam bahaya," protes pemimpin mereka tidak setuju.


"Lalu apa gunanya kalian disana? Apa setelah mengantar ku kalian akan langsung pulang?" kata Lina.


"Eh... Ini... Benar juga," pria itu bingung sendiri dengan kalimatnya.


"Pengawal bayangan ini tidak bisa seperti bayangan dalam pikiranku," batin Qazi. Ia hanya menggelekan pelan kepalanya.

__ADS_1


"Baiklah, aku menyetujui rencanamu. Lalu bagaimana bisa kita tahu mereka akan mau membawamu kemana?"


"Hah? Serius kau menanyakan hal ini padaku? Apa latihan kalian terlalu berat sampai-sampai otakmu jadi beku? Tidak mungkin aku melempar kerikil kecil tadi membuatmu jadi bodoh, kan?" Lina benar-benar tak habis pikir dengan pertanyaan mereka.


Mereka semua tersentak kaget mendengar itu. Mereka sungguh tidak percaya kalau gadis di depan mereka ini berani menghina mereka yang merupakan pengawal bayangan khusus keluarga Flors. Kekuatan yang mereka miliki sangat lah hebat. Satu orang dari mereka saja bisa mengalahkan belasan orang sekaligus. Belum perna ada yang berani berkata seperti ini pada para pengawal bayangan. Bahkan Mr. Flora saja mengakui kehebatan mereka.


"Kau gadis kecil berani menghina kami!" tatapan tajam di arahkan pria itu pada Lina. "Andai tugas ini bukan langsung dari tuan muda, aku sama sekali tidak mau menjadi pengawalmu. Kau hanya gadis kecil..."


"Tunggu," potong Qazi. "Sebelum kau meluapkan emosimu pada Li... Em... Maksudku gadis ini. Sebaiknya kau pikir-pikir lagi pertanyaan mu tadi. Tidak mungkin sebagai pengawal bayangan yang di latih dengan sangat baik, masih bertanya seperti itu. Kalian sungguh memalukan, bahkan di hadapan anak kecil."


"Siapa yang panggil anak kecil?" lirik Lina pada Qazi.


"Tentu saja kau. Memang ada seorang gadis dewasa sependek dirimu."


Lina seketika mencemberutkan wajahnya. Untuk urusan ukuran tubuh Lina tidak dapat membantah hal itu. Karna memang ukuran tubuhnya seperti gadis yang baru masuk SMA. Apalagi berdiri di antara para pria ini membuatnya semakin lebih mirip anak sekolahan.


"Apa maksud ucapanmu tadi Qazi? Kau juga mau menghina kami."


"Aku mempertanyakan lokasi dimana mereka akan membawa..."


Kalimat pria itu terputus begitu sadar apa yang baru saja ia tanyakan. Ini memang benar-benar memalukan. Bagaimana bisa ia masih mempertanyakan soal ini. Apa karna terlalu terpesona dengan kehebatan Lina yang dapat mengetahui keberadaan mereka?


"Geleda hp mereka!" perintah pria itu pada ketiga anggotanya sambil membelakangi Lina dan Qazi. Ia sedikit malu pada dirinya sendiri.


Mereka berhasil mendapat informasi letak lokasi dimana para preman itu akan membawa Lina. Menurut pesan yang dikirim olah seseorang yang tidak dikenal, lokasinya ada di bangunan tua di dalam sebuah hutan yang tidak jauh lagi dari tempat mereka sekarang. Sesuai rencana, empat pengawal bayangan itu menyamar menjadi para preman dan menculik Lina. Untuk lebih menyakinkan lagi kepala Lina ditutupi kain hitam dan tangannya terikat ke belakang. Dengan menggunakan mobil preman tersebut mereka berangkat menuju lokasi. Sementara itu Qazi harus membereskan mayat-mayat preman ini terlebih dahulu sebelum menyusul kesana.


"Aw!" rintih Lina begitu mereka mendorongnya dengan pelan ke lantai. Lina jatuh terduduk hampir terguling di lantai yang ingin akibat dorongan mereka.


Senyum mengembang di wajah Violet begitu melihat Lina berhasil diculik olehnya. "Pengawal yang ditempatkan Daniel untuk melindungi kekasihnya tidak sehebat yang aku kira. Preman yang sembarangan aku sewa saja ternyata berhasil menculik Lina. Seharusnya dari awal aku menyuruh seseorang untuk memberi pelajaran pada gadis ini," pikir Violet.

__ADS_1


"Lepaskan aku! Siapa kalian? Kenapa kalian menculiku?!" bentak Lina sambil berusaha melepasakan ikatan di tangannya yang sebenarnya telah longgar.


"Lepaskan tutup kepalanya," perintah Violet.


Salah satu dari mereka melepaskan kain hitam yang menutupi kepala Lina. Begitu mata Lina berhasil menyesuaikan diri dengan pencahayaan, betapa terkejutnya ia melihat Violet duduk di sebuah kursi tepat dihadapannya.


Terdapat lebih dari sepuluh orang pria kekar dibelakangnya.


"Violet?! Ternyata kau. Kenapa kau menculikku?" drama Lina dengan wajah polosnya.


"Kenapa aku menculikmu? Tentu saja karna kau telah merebut tunangan ku. Tapi kau tidak perlu takut. Aku tidak akan membunuh mu. Mala aku mau perkenalkan mu pada kekasih barumu. Ia adalah pria yang selama ini sangat mencintaimu. Kau bisa masuk Richard."


Dari arah pintu belakang Richard melangkah masuk. Lina sedikit tak percaya kalau Richard sampai mau berkerja sama dengan Violet untuk mendapatkan dirinya.


"Richard. Aku sungguh tak percaya ini. Kau tega sekali melakukan semua ini padaku," kata Lina dengan air mata yang mengalir.


"Kau yang sebenarnya tega Lina! Kau sudah menolak cintaku hanya untuk pria yang lebih kaya dariku. Aku yang sesungguhnya tidak percaya ternyata kau itu hanyalah gadis yang menyukai uang! Berapa banyak pria yang telah tidur bersamamu?!!"


"Apa?!" mendengar tuduhan itu membuat Lina emosi. Ia sampai lupa kalau saat ini ia sedang bersandiwara. Ia harus menahan dirinya. Hampir saja ia mau membentak Richard karna kesal.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


ξκύαε


__ADS_2