Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Apa lagi yang mereka tunggu?


__ADS_3

"Aku punya saran, bagaimana kalau kita makan malam di luar?"


"Kenapa kau ingin makan di luar? Rumah ini memiliki koki yang bisa membuat hidangan yang tidak kalah dengan masakan restoran di luar sana."


"Ayoklah ayah, untuk malam ini saja. Sudah lama kita tidak menghabiskan waktu antara ayah dan anak."


"Antara ayah dan anak? Mungkin aku memang harus sesekali menghabiskan waktuku bersama Lina tanpa ada gangguan pekerjaan atau yang lainnya. Baiklah, sudah aku putuskan. Setelah masalah ini selesai aku akan mengadakan liburan keluarga di pulau pribadi," pikir Ducan.


"Bagaimana ayah?" tanya Violet menyadarkan Ducan dari lamunan.


"Hah... Aku kira kau tidak terlalu peduli akan hal itu. Kau selalu bersenang-senang sendiri bersama teman-temanmu."


"Ayah juga yang terlalu sibuk dengan pekerjaan ayah sampai tidak ada waktu untukku," kata Violet cemberut.


"Baiklah, malam ini kita makan di luar. Kau pilih sendiri mau makan di restoran yang mana."


"Ayah adalah ayah yang terbaik," dengan riang kembali Violet memeluk ayahnya.


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Tepat perkiraan Lina. Robert menghembuskan nafas terakhirnya senin sore. Michael dan Castista begitu terpukul atas kepergian dari putra mereka satu-satunya. Azkya juga merasa sangat kehilangan terutama disaat ia mengakui perasaannya terhadap Robert. Sepertinya takdir tidak meminta mereka untuk bersama.


Acara pemakaman dilaksanakan keesokan harinya. Iring-iring mobil menuju pemakaman keluarga tersembunyi berlangsung hikmat. Tangis duka pecah disaat peti mati yang berisi tubuh Robert diturunkan ke liang kubur.


Para pelayat yang menghadiri pemakaman tersebut di batasi. Tapi beruntung Ducan berhasil mendapatkan izin untuk Lina dan Daniel hadir di acara pemakaman tersebut. Pada kesempatan ini Ducan ingin mengajak Lina menemui orang yang paling dirindukannya, ibunya. Tepat di depan batu nisa marmer putih bernamakan Ariana, Ducan berjongkok di depan batu nisan itu sambil meletakan seikat bunga Krisan. Dielusnya batu nisan itu dengan tangis yang dicoba ditahan.


"Ariana, sayangku. Lihat lah siapa yang mampir mengunjugimu. Putri kita. Hiks... Aku telah berhasil membawanya kembali sesuai janjiku padamu. Aku harap kau memaafkan ku atas keterlambatan ini."


Dibantu Daniel, Lina berjongkok di depan makam ibunya. Air mata sudah mengalir sendari tadi namun dengan cepat Lina menghapusnya. "I...bu setelah sekian tahun akhirnya aku dapat berjumpa kembali denganmu. Selama ini aku sering bertanya-tanya siapa orang tua kandungku, tapi sekarang aku telah mengetahuinya. Aku tidak marah pada ayah karna terlambat menemukanku atau apalah maksud yang ia bilang. Aku menikmati setiap jalan kehidupan ini sampai takdir mempertemukan kami dan membawaku kembali," Lina melirik Daniel, kemudian melirik ayahnya. "Ibu jangan khawatir. Aku pasti akan membalas dendam ibu. Aku berjanji padamu."


"Ny. Ariana, saya minta restumu untuk menjaga putrimu. Saya berjanji akan selalu ada untuknya, melindunginya dan memberikan semua kebahagian yang ada di dunia ini untuknya," kata Daniel sambil menatap Lina.


"Ariana, putri kita telah membentuk keluarga kecilnya sendiri. Tinggal beberapa bulan lagi mereka akan memiliki seorang bayi. Kita akan memiliki seorang cucu."

__ADS_1


"Aku harap ibu bahagia. Sampai jumpa lagi. Dilain kesempatan kami pasti akan berkunjung," Lina mengusap batu nisan ibunya lalu mencimnya. Kemudian dia berbisik. "Aku mohon beri aku kekuatan di saat persalinan ku nanti. Jujur saja aku masih takut akan hal ini."


Setelah mengucapkan salam perpisahan, mereka bertiga kembali ke acara pemakaman Robert. Sampai disana terlihat acara pemakamannya sudah hampir selesai. Makan Robert kini telah bertabur bunga. Isak tangis masih terdengar dari Castista sampai sekepulangan mereka dari makam tersebut.


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Dua minggu berlalu. Tidak ada pergerakan dari lawan. Daniel, Lina dan Ducan merasa bingung akan hal itu. Tapi karna ini mereka jadi bisa mempersiapkan diri dari situasi apapun yang mungkin bisa saja terjadi. Di lain sisi kesibukan perkerjaan, Daniel dan Ducan juga disibukkan dengan latihan para anak buah mereka dan perlengkapan bersenjata. Sedangkan Lina dibantu Emma dan Judy, menyempatkan diri memperbanyak pembuatan bubuk racun yang akan digunakan nantinya.


Di kampus, seperti pada hari-hari biasa. Tapi kali ini, sejak sendari pagi Lina merasakan tendangan yang silih berganti dari janin nya. Setiap tendangan terasa kuat sampai-sampai Lina tak bisa menahan ekspresinya. Beberapa kali ia mengelus perutnya secara diam-diam dan mengatur nafas. Setiap menit yang berlalu terasa lambat bagi Lina. Ingin rasanya jam pelajaran ini cepat-cepat berakhir agar ia bisa pulang.


"Hah.... Huh.... Sstt... Kalian aktif sekali hari ini. Ibu sama sekali tidak bisa konsentrasi belajar. Apa korsetnya terlalu kencang sayang? Tapi padahal ini sudah lebih longgar dari kemarin."


"Lina, apa ada masalah? Apa kau sakit hari ini?" tegur Tn. Herman yang membuat mahasiswa lain menoleh pada Lina.


"Ti, tidak Tn. Herman, saya baik hari ini," jawab Lina berusaha tersenyum.


"Kalau begitu, coba kau isi pertanyaan yang ada di papan tulis."


"Baik."


Kriiiiiiing..................


Bel panjang berbunyi. Itu menandakan jam pelajaran hari ini berakhir. Dengan cepat Lina membereskan seluruh barangnya dan keluar dari kelas itu. Sesampainya di aula depan begitu Lina hendak keluar, Ira tiba-tiba memanggil sambil menghampiri.


"Lina!"


"Ira, ada apa?"


"Hei, kau punya waktu hari ini? Mau kah kau menemani ke toko kue?" tanya Ira sambil melanjutkan jalan mereka menuju pintu gerbang universitas.


"Maaf Ira hari ini aku tidak bisa. Aku ingin cepat pulang."


"Kenapa? Kau sakit?"

__ADS_1


"Tidak," Lina mendekat wajahnya ke wajah Ira lalu berbisik. "Mereka begitu aktif hari ini. Sejak dari pagi mereka terus menendangku."


"Benarkah," Ira meletakan tangannya di atas perut Lina, dan secara kebetulan salah satu janin Lina menendang tepat di bawah telapak tangan Ira. "Uhu... Itu sungguh tendangan yang kuat."


"Ira, jangan lakukan itu," Lina menepis tangan Ira dari perutnya.


"Sebagai doktermu aku memberi saran sering-seringlah berinteraksi dengan bayi-bayimu. Mereka sedang mencari perhatianmu."


"Berinteraksi? Contohnya?"


"Iya contohnya, mengelus mereka, berbicara dengan mereka, dengarkan musik, bacakan cerita dan banyak lagi. Kalau bisa kau lakukan itu bersama Daniel."


"Bersama Daniel? Aku rasa itu tidak akan berhasil. Setiap kali ia mengelus perutku, mereka mala semakin aktif."


"Itu tandanya mereka senang. Ikuti saja saranku. Interaksi kalian berdua bersama mereka merupakan sesuatu yang diperlukan dimasa-masa kehamilanmu ini."


Sebuah mobil hitam jemputan Ira berhenti di depan mereka. Seorang sopir turun, kemudian membukakan pintu dan mempersilakan Ira masuk.


"Baiklah jika kau tidak bisa hari ini, mungkin lain waktu. Sampai jumpa Lina dan sampai jumpa juga untuk kalian keponakanku," Ira masuk ke mobil.


"Sampai jumpa lagi. Hati-hati di jalan," balas Lina sambil melambai.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


ξκύαε


__ADS_2