Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Permainan kecil untukmu


__ADS_3

Tepat setelah matahari tidak menampakan wujudnya lagi dan kini berganti kan cahaya lampu, Jeffri membuka matanya. Samar-samar ia melihat sekeliling dan mendapati dirinya sudah terikat secara terbalik di salah satu pohon di taman belakang. Meronta-ronta melepaskan diri juga percuma saja karna tali yang mengikatnya tersebut tidak mungkin bisa Jeffri lepaskan sendiri.


"Oh... Kau sudah bangun, temanku. Bagaimana perasaanmu?" tanya Julius sambil berjalan menghampiri.


"Julius! Lepaskan aku! Mana ada seorang teman mengikat temanya seperti ini di pohon! Perutku sudah mual," teriak Jeffri memohon minta dilepaskan.


"Ini cuman permainan kecil untukmu karna sudah tanpa izin meletakan barang-barang itu di tempat pribadiku."


"Aku hanya sekedar membantu para gadis itu untuk menyampaikan perasaan mereka padamu. Bukankah begitu kasih melihat mereka ketakutan memberikan hadiah untuk sang pujaan hati yang bahkan tidak perna tersenyum, apa lagi melirik mereka sama sekali. Sebagai seorang pria seharusnya kau menghargai pemberian tulus mereka padamu."


"Aku menghargainya, tapi tidak semua. Tapi kau malah mengambil kesempatan dalam kesempitan. Sebagai seorang pria, kau ini licik juga."


"Yang benar saja! Tidak mungkin cuman begitu dikatakan licik!"


"Tentu saja licik. Dengan mulutmu yang manis itu, kau memberikan harapan palsu pada mereka."


"Apa? Aku tidak salah dengar? Seorang Julius yang dingin dan cuek terhadap wanita bicara soal perasaan."


"Itu lah yang aku maksud menghargai. Aku tidak memperdulikan mereka berarti jelas aku menolak. Aku tidak mau terjadi ke salah pahaman yang melibatkan perasaan, karna itu sangat merepotkan. Tapi kau..."


"Eh, bisa begitu pula jadinya. Kau ini sangat pandai mencari alasan."


"Terserah kau ingin berpikir itu sebagai alasan, yang pasti aku sudah menyiapkan ini spesial untukmu," Julius menyemprotkan suatu cairan ke seluruh badan Jeffri.


"Uhuk! Uhuk! Apa yang kau berikan padaku? Apa semacam racun serangga?"


"Malahan kebalikannya. Itu adalah pemikat serangga dan hewan pengerat."


"He, tidak ada hewan pengerat di sekolah Anthony. Memangnya apa yang kau pikirkan?"


"Di sekolah ini memang tidak ada, tapi apa kau berpikir kalau di hutan itu juga tidak ada?" tunjuk Julius pada hutan yang bersebelahan dengan danau. "Ingatlah sekolah ini bersebelahan dengan hutan yang masih terjaga keasliannya. Aroma dari pemikat itu bisa menarik perhatian mereka sejauh ratusan meter."


"Julius! Aku mohon lepaskan aku! Aku minta maaf! Aku memiliki phobia dengan hewan-hewan kecil. Tolong lepaskan aku. Aku janji tidak akan melakukannya lagi!" pinta Jeffri dengan sangat. Ketakutannya semakin bertambah disaat beberapa ekor lebah berdatangan.

__ADS_1


"Kalau begitu malam ini akan sangat menyenangkan untukmu. Sampai jumpa besok pagi," tanpa memperdulikan teriakan Jeffri, Julius dengan santai nya melangkah pergi.


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Besok paginya seseorang tiba-tiba mengetuk pintu kamar mereka. Carl bergegas membukakan pintu untuk mengetahui siapa itu. Betapa terkejutnya ia mendapati Jeffri yang berdiri di depan pintu dengan wajah bengkak di area mata kanan serta pipi kirinya. Tidak hanya itu di bagian tangan juga lilitan perban serta plester luka.


"Jeffri?! Darimana saja kau? Dan, apa yang terjadi padamu?" tanya Carl.


"Kenapa kau tidak tanyakan saja pada temanmu itu," tunjuk Jeffri pada Julius. "Karna perbuatan dia semalam. Aku diserang oleh sekelompok lebah dan membuat wajah tampan ku berakhir seperti ini. Aduuuh...."


"Kenapa? Mau protes? Itu baru peringatan untukmu. Jika kau berani mengulanginya lagi, aku bisa membuatmu mengalami malam yang lebih mengerikan dari pada malam tadi," ujar Julius sambil mengapai tasnya lalu melangkah pergi.


"Dasar Julius benar-benar kejam!"


"Salah kau sendiri juga. Orang seperti Julius malah kau usilin. Akhirnya kena batunya, kan?"


"Hah... Untung semalam ada penjaga yang sedang patroli dan segera menolongku, kalau tidak... Bisa sampai pagi ini aku terikat di pohon itu bersama ratusan serangga yang merayap di seluruh tubuhku. Iiiih.... Itu sungguh geli."


"Kau benar-benar memalukan Jeffri. Sama serangga saja takut. Banyak diluar sana para gadis yang bahkan tidak takut sama sekali dengan serangga, sedangkan kau..."


"Sama saja toh."


"Aah... Aku tak peduli. Aku mau bolos saja hari ini. Aku tidak bisa membiarkan para gadis melihat wajahku seperti ini. Mereka bisa mempertawakan aku," Jeffri naik ke tepat tidurnya lalu membarikan tubuhnya disana.


"Kalau begitu aku mau ke kelas dulu. Dah..." Carl melangkah keluar dari kamarnya meninggalkan Jeffri sendirian. "Tapi aku akui kalau Julius memang sangat kejam. Pada teman sendiri saja ia bisa melakukan ini apalagi dengan orang lain."


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Setelah seluruh jam pelajaran telah usai, saatnya bagi Julia, Nisa, Wendy dan Febby mengikuti ekskul musik. Mereka kembali ke kamar terlebih dahulu untuk menemani Julia dan Febby mengambil alat musiknya. Kelas musik terletak di lantai dua bersebelahan dengan kelas melukis. Disaat menuju kelas musik, mereka telah disambut alunan merdu dari suara biola.


"Wah... Suara biola yang merdu sekali," ujar Febby begitu menikmati suara musik tersebut.


"Iya. Itu pasti permainan dari guru yang akan mengajar kita nanti," kata Wendy menyetujuinya.

__ADS_1


"Aku juga berpikir sama. Permainan biola nya sangat indah," Nisa juga setuju.


Tapi tidak bagi Julia. Ia merasa perna mendengar alunan musik yang dimainkan itu. "Permainan biola ini kenapa terasa tidak begitu asing? Jangan-jangan..."


Sampai di depan pintu, mereka mengetuk terlebih dahulu pintu sebelum masuk. Betapa terkejutnya mereka melihat siapa yang sedang bermain biola. Dengan mata terpejam dan gerakan tangan terlatih menekan senar dan tangan lainnya menggesekkan bow untuk menghasilkan nada-nada yang berirama. Wendy, Febby dan Nisa dibuat terkesima melihat Julius yang begitu piawai memainkan biola. Di dalam ruangan yang luas dan terdapat berbagai macam alat musik, tapi disana cuman ada Julius dan seorang wanita yang sepertinya adalah guru musik. Kemana yang lain? Apa cuman mereka atau yang lainnya memang belum berdatangan?


"Sudah aku duga," kata Julia pelan begitu tahu siapa itu.


"Kyaaahh....!! Ternyata yang bermain biola itu adalah siswa paling populer di sekolah!" teriak Febby histeris.


"Sudah tampan, cool, pandai bermain musik lagi. Tidak sia-sia aku masuk klub musik hari ini," teriak Wendy juga sana.


"Kalau seperti ini, mau setiap hari pun aku mau belajar bermain musik."


"Tidak perlu belajar, memperhatikan ia saja sudah cukup untukku."


"Dia benar-benar tampan seperti yang dirumorkan," kata Nisa pelan namun hal itu di dengar jelas oleh Julia.


"Eh, aku belum perna mendengar mu memuji seorang pria. Apa kau juga menyukainya, Nisa?" tanya Julia dengan nada menggoda sambil menyenggol bahu Nisa.


Seketika wajah Nisa memerah dan segera memalingkan muka karna malu. "Ti, tidak."


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


ξκύαε


__ADS_2