
"Gawat. Tn. Cershom dan Violet akan tahu kalau aku sedang hamil jika berhadapan dengan mereka dalam pakaian seperti ini."
"Ah... Maaf Tn. Cershom, dia sedikit pemalu," kata Daniel yang mengerti kekhawatiran Lina.
Daniel berbalik menghadap Lina lalu melepaskan jaket yang ia kenakan dan kini menyisakan kaos putih di tubuhnya. Jaket itu langsung Daniel pakaikan ke tubuh kecil Lina. Jaket berwana hijau lumut begitu besar disaat Lina memakainya. Panjang lengannya saja cuman bisa menyisakan tiga ujung dari jarinya.
"Pakai ini. Aku akan ada di samping mu."
"Terima kasih."
"Mari duduk Tn. Cershom."
Daniel merangkul bahu Lina mengajaknya duduk di sofa berhadapan langsung dengan Ducan dan Violet. Lina sedikit berhati-hati untuk duduk. Keinginannya mau menopang perutnya ia tahan sebisa mungkin.
"Tidak masalah kan jika saya ingin tahu apa yang mau disampaikan Tn. Cershom?" kata Daniel.
"Bukan suatu rahasia juga Daniel. Saya tidak akan basa basi lagi. Saya cuman mau mewakilkan putri saya untuk minta maaf pada nona Lina. Maafkan Violet jika ia perna menyinggung atau sempat mencelakai anda. Ia sudah belajar dari kesalahannya dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Saya selaku ayahnya memohon pada nona Lina untuk berkenan memberikan obat penawar bagi Violet. Ia sudah cukup menderita atas racun yang anda berikan sebelumnya. Atau ada sesuatu yang anda inginkan, saya dengan senang hati akan memberikannya. Saya tahu kata maaf saja tidak cukup."
"Tunggu Tn. Cershom, apa maksudnya nona Cershom hendak mencelakai kucing saya?"
"Kucing?"
"Maksudnya dia," tunjuk Daniel ke Lina. "Bisa anda jelaskan hal ini?"
"Oh, soal ini..."
"Sudahlah Daniel. Saya hargai permohonan maaf anda dengan tutur kata yang begitu manis. Saya merasa terhormat Tn. Cershom secara pribadi menyempatkan waktunya untuk datang kesini mewakilkan putrinya minta maaf. Tapi Tn. Cershom, bukankah lebih baik Violet sendiri yang seharusnya minta maaf pada saya? Karna apa yang sudah ia lakukan telah kelewatan batas."
"Apa?!! Kau mau meminta aku minta maaf padamu? Jangan harap..."
"Ini obat penawarnya," potong Lina sambil menunjukan sebuah botol kecil berwarna putihyang berisi satu pil di dalamnya.
"Obat penawar. Berikan itu padaku!" Violet hendak merebut botol tersebut dengan masih mencengkram perutnya yang sakit.
"Cuman satu kalimat permohonan maaf yang tulus, baru aku akan berikan obat penawar ini."
"Ee...! Kau ini Lina..." Violet menggeretakan giginya karna kesal.
"Gadis ini tidak selugu yang aku kira," pikir Ducan. Tiba-tiba ia memaksa Violet untuk menundukan kepalanya. "Minta maaflah pada nona Lina."
"Tapi ayah, aku ini putri dari keluarga Cershom. Ini sungguh penghinaan aku harus membungkuk ke seorang gadis kampung," bisik Violet.
"Semua ini juga karna kesalahanmu. Lebih baik kau minta maaf jika ingin sembuh."
__ADS_1
"Aku akan membalas penghinaan ini!!" batin Violet kesal. "Aku... Aku minta maaf," kata Violet kasar.
"Kurang tulus."
"Lina, kau jangan keterlaluan!"
"Jika anda keberatan, anda bisa keluar nona Cershom," ujar Daniel sambil menunjuk pintu keluar.
"Lebih tuluslah," paksa Ducan dengan cara berbisik.
Tampa melirik Lina sama sekali Violet berkata. "Lina, aku minta maaf. Aku telah salah padamu. Mohon maafkan aku. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi."
"Em... Lumayan. Aku terima permohonan maaf ini."
Lina melemparkan botol tersebut pada Violet yang ditangkap mulus olehnya. Tampa pikir panjang lagi Violet langsung menelan pil tersebut. Selang semenit kemudian rasa sakit yang dirasakannya hilang seketika.
"Hahaha... Bodoh!" Violet berlari keluar dengan riang karna perutnya tidak sakit lagi.
"Violet!!" teriak Ducan yang dihiraukan Violet. "Hah... Anak ini. Aku harap nona Lina tidak tersinggung dengan kata-katanya barusan. Ini salahku karna terlalu memanjakannya."
"Dia gadis yang terlalu cepat senang."
"Gadis ini tidak sepintar yang aku kira. Ia tadi bisa saja memanfaatkan situasi untuk mengancam Violet tapi tidak dilakukannya. Ia mala memberikan obat penawar itu pada Violet. Dan lagi, kenapa Daniel tidak mencegatnya sama sekali?" pikir Ducan.
Mendengar kalimat itu membuat Ducan tersentak. "Bagaimana bisa ia menebak isi pikiranku?"
"Obat yang aku berikan itu memang penawar racunnya tapi aku tidak bisa menjamin ia tidak akan merasakan rasa sakit yang sama di bulan berikutnya. Racun itu hanya bisa di hilangkan secara bertahap. Sampai jumpa bulan depan," kata Lina dengan senyuman di wajahnya.
Ducan begidik ngeri melihat gadis di depannya ini. "Gadis yang sungguh menarik. Ia bahkan tidak takut sama sekali mengatakan hal itu langsung di depanku. Dari tatapannya aku yakin dia sama sekali tidak mengandalkan kekuasaan Daniel untuk mengeretak lawannya. Semua itu murni dari dirinya sendiri," Ducan benar-benar kagum melihat keberanian Lina. "Sepertinya putri saya telah mendapatkan lawannya."
"Aduuh... Pinggangku sakit," rintih Lina sambil meluruskan pinggangnya yang terasa pegal.
"Luruskan saja kakimu ke atas sofa dan kau bisa bersandar padaku."
Daniel membantu Lina membetulkan posisinya senyaman mungkin. Melihat adegan itu membuat Ducan mengingat kenangan bersama istri nya yang sedang...
"Eh... Nona Lina. Apa boleh saya bertanya tentang Oleander, sang Master ahli racun itu? Saya dengan kau dekat dengannya. Saya ingin sekali bertemu dengan Oleander ini. Ada sesuatu yang mau saya pastikan. Mohon nona Lina tidak keberatan memberi informasi tentang dirinya."
"Tn. Cershom mau memastikan apa? Katakan saja," lirik Lina pada Ducan.
"Em... Soal ini..."
"Saya Oleander."
__ADS_1
Ducan lagi-lagi dibuat terkejut dengan setiap kata yang keluar dari bibir manis Lina. "An, anda Oleander?"
"Tn. Cershom bisa mempercayainya. Semua yang dikatakannya adalah benar. Saya bisa menjamin itu. Kucingku memang seorang Master ahli racun yang sangat berbakat di usia mudanya," kata Daniel mencoba menghapus keraguan pada Ducan.
"Siapa nama asli anda nona Lina?"
"Nama asli? Pertanyaan yang tidak aku duga. Nama asli ku Veliana, dipanggil Lina oleh teman-temanku."
"Veliana ya, ternyata benar," kata Ducan pelan. "Apa kau memiliki sebuah liontin kunci bernama kan dirimu?"
Kali ini Lina yang dibuat terkejut dengan pertanyaan dari Ducan. "Dari mana anda tahu saya memiliki liontin kunci?"
"Bisa saya melihatnya?"
"Boleh," Lina membetulkan posisi duduknya seperti sebelumnya. Ia mengeluarkan liontinnya dari balik jaket dan menunjukannya pada Ducan.
"Terima kasih," setelah memastikan itu Ducan berdiri kemudian melangkah pergi.
"Tunggu!" teriak Lina membuat langkah Ducan terhenti. "Apa anda mengetahui rahasia dibalik liontin saya? Apa anda mengenal ibu kandungku?"
"Ibu... Ariana. Aku mengundangmu makam malam besok, kita bisa membicarakan semuanya. Untuk sekarang aku perlu menenangkan diri sebentar. Aku tidak sanggup berceritanya hari ini," Ducan berlalu pergi.
"Apa tadi hanya perasaanku saja. Aku barusan melihat dia menangis."
"Sepertinya keluarga Cershom memiliki hubungannya dengan masalalu mu. Siapa dirimu yang sebenarnya kucing kecilku?" Daniel mengecup punggung tangan Lina.
"Aku juga tidak tahu. Sudah lebih dari 17 tahun lamanya. Aku bahkan melupakan wajah ayah dan ibu kandungku. Yang aku ingat hanyalah air mata seorang perempuan dalam kegelapan malam bercahayakan bulan purnama. Aku sangat yakin kalau dia adalah ibuku. Aku tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya yang begitu sedih disaat meninggalkanku di gubuk tua itu. Aku hendak mengejarnya tapi aku terlalu lemah dan pandanganku perlahan-lahan menghilang."
"Sepertinya masalah ini tidaklah sesederhana yang aku pikirkan. Ya sudah, bukankah Tn. Cershom akan menceritakan semuanya besok malam. Kau akan segera mengetahui nya."
.
.
.
.
.
.
ξκύαε
__ADS_1