
Pertarungan sengit dan berdarah pun terjadi. Emma dan Judy segera membawa Lina meninggalkan tempat itu. Namun baru beberapa langkah, mereka dikepung oleh lebih dari sepuluh orang.
"Tangkap wanita hamil itu! Bos menginginkan dia hidup-hidup!" perintah salah satu dari mereka yang sepertinya ketua kelompok tersebut.
"Tidak akan aku biarkan!"
Emma dan Judy maju melawan disaat orang-orang tersebut hendak menangkap Lina. Dengan mengandalkan ilmu bela diri, Emma dan Judy menghajar mereka. Namun jumlah mereka terlalu banyak. Seluruh penjaga rumah yang datang menolong pun masih tidak cukup membantu mengalahkan mereka semua. Terlebih lagi kemampuan dari orang-orang tersebut jauh di atas mereka.
"Nona Lina, pergi dari sini! Arkh!" belati bermata dua berhasil menembus perut Judy.
"Judy....!" teriak Lina begitu melihat Judy tersungkur ke tanah.
"Pergi," Dalam keadaan setengah sadar ia masih berusaha mengisyaratkan pada Lina untuk Segera pergi.
Lina tidak tega meninggalkan mereka yang satu persatu tumbang dikalahkan para penyusup ini. Tapi situasi memaksanya untuk pergi. Para penyusup tersebut tentunya tidak membiarkan hal itu terjadi. Mereka seketika hendak menangkap Lina. Dengan seluruh tenaga yang dimilikinya, Lina berusaha melawan. Namun kontraksi yang datang tiba-tiba menyerang perutnya membuat salah satu dari mereka berhasil menyekap mulut Lina menggunakan sapu tangan yang telah diberi obat bius.
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
Jam 01.35 Briety datang tanpa merasa ada yang janggal.
"Lina, menantuku tersayang, maafkan ibu. Tadi ada urusan mendesak jadi terlambat."
Tidak ada jawaban.
"Em... Kemana semua orang? Rumah ini sepih sekali. Lina! Judy! Emma!" teriak Briety memanggil mereka sambil memeriksa beberapa ruangan, dan tentunya ia tidak menemukan siapa-siapa. "Kemana mereka semua?"
Briety turun kembali begitu tidak menemukan satu orang pun di atas. Ia berjalan keluar berharap semua orang yang ia cari ada disana dengan pikiran mungkin mereka sedang bersantai. Benar saja, Briety menemukan mereka ada disana namun dalam keadaan mengenaskan. Ia sungguh sangat terkejut atas apa yang dilihatnya. Ia berlari menghampiri mereka satu persatu.
"Judy! Judy! Bangun!"
__ADS_1
Berity membalik tubuh Judy dan berusaha membangunkannya, tapi matanya tidak bergerak sama sekali. Ia berlari menghampiri Emma.
"Emma! Emma sadarlah!" teriak Briety namun sama saja, Emma juga tidak mau bangun.
Dengan air mata sudah memenuhi pipinya, Briety mencoba membangun nya lain. Tidak ada satupun orang yang tergeletak di tanah itu yang dapat memberi jawaban atas apa yang terjadi.
"Hiks... Hiks... Apa yang sebenarnya telah terjadi? Dimana menantuku?!!!"
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
Lina membuka matanya perlahan disaat efek obat bius itu telah hilang. Ia tertidur cukup lama akibat obat bius yang diberikan orang-orang tersebut terlalu besar dosisnya. Cahaya lampu tepat menusuk matanya. Ia memiringkan kepalanya lalu berkedip beberapa kali. Setelah pandangannya membaik, ia melihat sekeliling. Ruangan cukup besar namun kosong. Cuman ada satu lampu penerangan yang membuat cahaya redup. Kondisi Lina saat ini terbaring di atas tempat tidur dengan kedua tangan dan kakinya terikat. Ia berusaha melepaskan ikatan tersebut tapi percuma, ikatannya kuat sekali.
"Aww! Oow...... Sakit sekali," rintih Lina begitu bayinya mendorong pintu rahimnya. Ada rasa ingin mengejan namun ia takut kalau pembukaannya belum lengkap. "AAAH.....!"
Rasa sakit yang ia rasakan tak kunjung menghilang mala semakin menjadi. Lina mengigit bibir bawahnya menahan kontraksi itu.
"Akhirnya kau bangun juga. Aku kira kau sudah mati tadi."
"Violet. Kau kah itu?" tanya Lina disela-sela rasa sakitnya.
Senyum di wajah Violet semakin mengembang. "Ternyata kau masih mengenali ku. Aku kira kau sudah lupa. Terlebih lagi..." Violet meletakan dua jarinya bekas luka bakar diwajahnya.
"Apa yang mau kau lakukan? Lepaskan aku!!"
"Apa yang mau aku lakukan? Lucu sekali kau bertanya," Violet perlahan-lahan menekan perut Lina yang kencang.
"AAAAH ! ! Hentikan itu! Sakittt...." teriak Lina kesakitan. Apa yang dilakukan Violet membuat bayinya semakin mendorong ke pintu rahimnya.
"Aku sudah lama ingin melakukan itu sejak mengetahui kau hamil anak Daniel," Violet mengangkat tangannya, tapi kemudian ia meletakan telinganya di atas perut Lina. "Perutmu lebih besar dari terakhir kali kita bertemu. Ada berapa bayi di dalam sana? Tidak mungkin cuman satu, bukan?"
__ADS_1
"Violet, jangan coba-coba menyakiti bayiku!"
Violet mengangkat kepalanya. "Kenapa kau berkata demikian? Aku tidak akan melukai bayi mu, mala sebaliknya aku mau membantumu melahirkan. Mari kita cek pembukaanmu dulu," tangan Violet mulai menyelinap dibalik dress hijau lembut milik Lina.
"Arghh.....!" pekik Lina begitu dua jari Violet masuk untuk mengecek pembukaannya.
"Astaga, yang benar saja. Sudah lebih dari 8 jam pembukaanmu kurang satu lagi untuk mendekati sempurna. Padahal pertama kali aku mengecek pembukaanmu itu sudah pembukaan Lima. Sepertinya kita masih harus menunggu dulu."
"Pembukaan Lima? Ternyata rasa ngilu yang sering aku alami itu sungguh kontraksi untuk menyiapkan diri bersalin," pikir Lina.
Violet menarik kursi disamping Lina lalu duduk disana. "Sambil menunggu, bagaimana kalau kau bercerita? Apa kabar ayah? Dan seperti apa keseharian kalian?"
"Apa kau gila?!! Memangnya aku masih mau bercerita di kondisiku yang menahan sakit saat ini. Yang benar saja!"
"Benar juga. Maafkan aku, kau pasti sangat kesakitan menahan kontraksi. Kalau begitu aku saja yang bercerita," Violet membetulkan posisi duduknya. "Kau mungkin bertanya-tanya bagaimana aku dapat selamat dari markas itu, bukan?"
Dalam benak Lina, ia memang ingin mengetahui hal ini. Tapi rasa sakit akibat kontraksi yang semakin menyiksanya membuat ia tidak peduli.
"Jika di ingat-ingat rasanya sungguh suatu keajaiban aku dapat selamat. Di dalam api yang berkobar dan asap mengepul. Secara kebetulan aku terjatuh di atas kamar mandi. Semburan air dari pipa yang bocor menyelamatkan aku dari kobaran api, tapi tidak dari puwing-puwing bangunan. Aku mengalami luka parah di kedua kaki ku, salah satu tanganku patah dan ada pendarahan di dalam. Sedangkan untuk luka di wajahku ini, itu karna tertimpa besi panas. Kurang lebih dua bulan aku menggunakan kursi roda dan sampai sekarang sebenarnya masih dalam tahap pemulihan. Kalau dihitung-hitung aku sudah menjalani lima kali operasi. Rasa sakit yang aku alami waktu itu lebih dari apa yang kau alami sekarang," sambil bercerita Violet melangkahkan dua jarinya di atas perut Lina seperti orang berjalan.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
ξκύαε