Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Kau beruntung


__ADS_3

"Apa lagi yang bisa kau katakan? Bersiaplah menerima hukumanmu tiruan Lina."


"Tidak. Aku sudah sejauh ini. Aku tidak boleh menyerah. Aku tidak sudi harus mengembalikan semuanya pada Lina," batin Violet. "Kau tidak bisa membunuhku Daniel!"


"Kenapa tidak? Aku bisa membunuhku sekarang juga!"


"Kau tidak akan mungkin melakukannya karna aku sedang mengandung anakmu sekarang ini."


"Aku sudah tahu kalau kau sedang berpura-pura hamil. Berhentilah mengatakan hal konyol karna itu percuma."


"Aku tidak berpura-pura. Apa kau lupa di waktu kau mabuk malam itu? Aku hamil setelahnya. Kau tidak akan mungkin membunuh darah dagingmu sendiri yang kini ada dalam rahimku."


"Oh, kau ingin menyelamatkan nyawamu dengan mengandalkan janin dalam perutmu," Daniel mendekati Violet dan berbisik. "Kuberitahu kau ya..."


"Daniel!" tiba-tiba Lina datang dan menerobos masuk kamar begitu saja. Ia tersentak kaget melihat Daniel dan Violet yang begitu dekat.


"Kucing kecil?!" kaget melihat kehadiran Lina yang tiba-tiba membuat Daniel seketika menjauh dari Violet.


"Lina?! Ternyata benar dia masih hidup. Tunggu dulu. Posisi tadi aku manfaatkan saja," senyum jahat terukir di wajah Violet. "Oho.... Sayang, kenapa kau berhenti? Aku sudah tidak tahan lagi," kata Violet dengan raut wajah tak berdaya.


"Maaf mengganggu," kesal akan hal itu, Lina berbalik pergi.


Dengan cepat Daniel menahan Lina untuk menjelaskan semuanya. "Tidak kucing kecil, kau salah paham. Aku tidak... Dia... Dengarkan dulu penjelasan ku."


"Apa lagi yang perlu dijelaskan?!! Aku sudah melihat apa yang barusan kalian lakukan," potong Lina dengan air mata mengalir deras di pipinya.


"Aku dengan dia tidak perna melakukan apa-apa. Kau harus percaya padaku."


Daniel berusaha menyakinkan istri kecil. Ia hendak mengapai kedua tangan Lina namun dengan cepat Lina menepisnya. Hatinya terlalu hancur melihat kejadian tadi. Ia tidak mau mendengar penjelasan apapun.


"Kau jahat Daniel. Padahal aku sedang mengandung anakmu," tambah Violet sambil meletakan tangannya di atas perutnya.


"Mengandung? Aku tidak menyangka hal ini Daniel. Aku pikir kau pasti dapat mengenaliku tapi nyatanya tidak! Kau bahkan telah memiliki anak dengannya," tunjuk Lina pada Violet.


"Itu bukan anakku!" bantah Daniel. Ia hendak mengapai tangan Lina lagi.


"Jangan menyentuh ku lagi! Julius dan Julia ada padaku sekarang. Aku akan membawa mereka pergi dari sini!"


Lina berlari keluar tidak memperdulikan Daniel yang berteriak memanggilnya. Daniel hendak mengejar namun Violet tiba-tiba menahan tangannya.


"Lina!"


"Jangan mengejarnya Daniel. Dia tidak akan kembali padamu."

__ADS_1


"Kau! Semua ini karna kau!!" amarah Daniel lampiaskan pada Violet. Ia membantingnya dengan keras ke lantai.


"Argh!"


"Kenapa kau berbicara seperti itu padanya?!! Kau membuat kesalahan pahaman ini semakin besar!"


"Aku mengatakan yang sebenarnya! Aku sungguh mengandung anakmu dan kau tidak bisa menyangkal hal itu!"


"Itu bukan anakku! Aku tidak perna menyetuhmu sama sekali. Yang bermain bersamamu pada malam itu adalah orang lain!"


Daniel melemparkan hpnya yang memutar kan video adegan panas dalam rekaman inframerah. Violet tercengang melihat semua itu. Jadi yang bermain bersamanya malam itu adalah orang lain bukanlah Daniel.


"Bagaimana? Puaskan kau melihat itu?!!"


"Tidak. Aku tidak percaya!" kesal atas apa yang dilihatnya, Violet melemparkan hp Daniel ke sudut kamar. "Ini anakmu Daniel. Aku hamil anakmu bukan dia! Hiks... Hiks..."


"Berhentilah berbohong Violet. Kau tidak akan mungkin hamil," kata Lina yang ternyata kembali.


"Sayang, kau kembali."


Ada perasaan senang di hati Daniel begitu melihat Lina kembali. Dan untuk mengekspresikan itu Daniel ingin memeluk Lina namun Lina dengan cepat mengisyarakan untuk tidak mendekat. Lina masih marah pada Daniel.


"Kau beruntung anak-anak menjelaskannya tepat waktu. Kalau tidak..."


Daniel berjongkok dan membalas pelukan putra-putrinya. "Julius, Julia, terima kasih telah membawa bawah mama kembali. Apalah daya papa tanpa kalian."


"Itulah tugas kami," kata mereka bersamaan.


"Apa maksudmu, Lina? Kau mengatakan aku tidak mungkin hamil?" tanya Violet. Sejujurnya ia berbohong tentang hamil itu.


"Iya. Ingatanku masih sedikit kacau sampai aku lupa tentang racun yang kuberikan padamu dulu."


"Aku sudah membuat duplikat obat penawarnya dari sisa obat yang kau berikan. Racunnya sudah hilang dari tubuhku sepenuhnya."


"Aku sudah menduga itu tapi ada satu bahan yang salah sedikit saja dalam pengolahannya bisa membuatmu tidak dapat memiliki keturunan. Aku yakin orang yang kau pinta meneliti obat tersebut tidak tahu itu, bukan?"


"Hehe... Hahaha...." tawa Violet memenuhi ruang kamar membuat mereka semua bingung.


"Papa, apa dia sudah gila?" tanya Julius.


"Kau bisa menyebutnya begitu," ujar Daniel sambil berdiri.


"Hiks... Hiks..." tawa yang menggema itu berubah menjadi tangis. "Rencana yang telah aku siapkan bertahun-tahun lenyap seketika! Aku bahkan rela mengubah wajahku sendiri menjadi sosok yang paling aku benci! Hanya untuk menggapai mimpiku. AAAH ! ! ! Aku tidak akan menyerah begitu saja!!! Aku memiliki begitu banyak bawahan yang siap datang kapanpun hanya dengan sekali panggilan! Kalian semua harus mati!!"

__ADS_1


"Oh... Apa yang kau maksud adalah seluruh anggontamu yang ada di perbatasan timur?" kata Daniel membuat Violet terkejut.


"Da, dari mana kau tahu anggotaku ada di perbatasan timur?"


"Berterima kasihlah pada dua malaikat kecilku ini."


"Atau dua iblis kecil bagimu," sambung Julia.


Daniel tersenyum melihat Julius dan Julia yang melakukan tos. "Berkat mereka yang berhasil mencuri seluru data di hpmu membuat aku bisa mengetahui lokasi markas utama mu. Dan tepat keesokannya aku membantai semuanya. Gaun yang kuberikan padamu itu sejujurnya hasil dari kekayaanmu sendiri."


Violet terdiam begitu mendengar semuannya. "Pantas saja aku tidak perna mendapat kabar lagi dari mereka dan tidak ada satupun orang yang dapat aku hubungi. Aku terlalu fokus pada rencanaku sampai aku tidak terlalu memperdulikan kejanggalan ini."


"Kau kalah Violet. Kau tidak memiliki pengangan lagi. Kau sepenuhnya jatuh," Daniel menoleh pada Lina. "Aku tahu aku tidak pantas mendapat maaf darimu. Aku tidak ada disaat kau dalam bahaya. Ini kedua kalinya. Aku meminta hukuman darimu. Apapun itu, hukumlah aku untuk menebus kesalahan ini."


Lina memberi senyum kecil lalu tiba-tiba menjewer telinga Daniel.


"Aduduuuh....."


"Ini hukumanmu. Jika kau mengulanginya lagi maka kau mendapat hukuman yang lebih berat."


Daniel menarik Lina dalam pelukannya. "Terima kasih sayang. Tapi hukuman ini terlalu ringan untukku. Bagaimana kalau kuberi hadiah liburan satu munggu penuh, hanya kita berempat?"


"Ide bagus!" teriak Julia riang.


"Setuju," Julius juga menyetujuinya.


"Aku ingin jalan-jalan, naik pesawat, terbang seperti burung."


Julia berlari berputar-putar menirukan seekor burung yang sedang terbang. Dengan tajam Violet meliriknya. Ia mengambil kesempatan itu menarik tangan Julia ke arahnya.


"AAH!"


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


ξκύαε


__ADS_2