
"Bagus sekali. Ayok ikut aku. Dokter sudah menunggumu dari tadi untuk melakukan pemeriksaan," Daniel menarik Lina menuju ruangan dimana dakter menunggu. Sampai disana... "Ini orangnya. Kau bisa melakukan pemeriksaannya sekarang."
"Hai..." sapa Lina pada dokter perempuan itu.
"Anak SMP?" kata dokter itu begitu melihat Lina.
"Apa?! Aku sudah kuliah!" protes Lina.
"Ffttp..."
Lina melirik Daniel yang memalingkan mukanya menahan tawa. Dengan kesal Lina memukul punggung Daniel. Hal itu membuat Daniel menoleh pada Lina yang cemberut.
"Oh... Maafkan aku. Silakan duduk disini nona Lina," kata dokter itu ramah sambil tersenyum.
"Aku tidak menemanimu tidak apa-apakan? Ada sesuatu yang mau ku urus dulu. Beritahu aku hasilnya nanti."
"Iya."
Daniel mengecup sekali dahi Lina lalu berlalu pergi. Setelah Daniel melangkah keluar, Lina memulai melakukan pemeriksaan kandungannya. Lina berbaring di ranjang yang telah tersedia. Dakter itu mengoleskan gel ke atas perut. Rasa dingin dirasakan Lina begitu gel tersebut menyentuh kulit tubuhnya. Dokter mulai melakukan pemeriksaan USG untuk melihat perkembangan janin dalam kandungan Lina.
"Bagaimana keadaan dia dok? Apa semuanya normal?" tanya Lina tidak sabar mendengar jawabannya.
"Semuanya normal. Janin dalam kandungan nona Lina sangat baik. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
"Lalu, kenapa ukuran kandungan saya lebih besar dari ukuran normal?"
"Hal yang sangat wajar jika nona Lina hamil bayi kembar."
"Oh... Kembar. Apa?! Ke, kembar."
Lina berusaha melihat layar monitor komputer. Memang benar, sudah tampak jelas ada dua janin dalam kandungan Lina. Sama seperti ia mengetahui dirinya hamil, Lina dibuat terkejut dengan berita ini. Jadi ia sekarang hamil bayi kembar, dua bayi sekaligus, dalam rahimnya. Lina berusaha untuk mencerna semua ini sebentar.
"Iya. Selamatnya nona Lina, anda akan memiliki dua bayi."
__ADS_1
"Bisa jangan beritahu Daniel soal ini," pinta Lina pada dokter tersebut.
"Kenapa? Ini kabar gembira."
"Aku cuman ingin memberi kejutan saja padanya."
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
"Sial! Sial! Sial!! Siaaal.........!!!" teriak Violet geram di dalam mobilnya saat perjalanan pulang.
Ia sungguh kesal karna rencana yang telah disusul selama ini gagal begitu saja. Bahkan sampai dirumah ia seperti mau membunuh orang ketika salah satu pembantu di rumahnya baru menyapa Violet. Semua orang di rumah kebingungan melihat sikap Violet. Apa yang membuat Violet sangat marah hari ini? Siapa yang telah berani menyinggunya? Violet membanting pintu kamarnya untuk meluapkan semua amaranya saat ini.
"AAAAA ! ! !" teriakan Violet mengisi seluruh ruang kamarnya. "Aku tidak akan menahannya lagi Lina! Okey! Hari ini kau menang! Tapi tunggulah, aku pasti akan membuatmu kehilangan semua yang kau sayangi! AAA ! !"
Violet kini membantingkan barang-barang apa saja yang ada di dekatnya. Hancur berantakan sudah kamarnya. Di saat marah seperti ini Violet paling suka mendengar sesuatu yang pecah berhamburan dengan suara nyaring, seperti suara kaca pecah, guci, piring, cangkir dan sebagainya.
"Tuan besar. Nona Violet memecahkan barang lagi," kata anak buah Ducan memberi laporan.
"Biarkan saja dia. Aku sedang malas mengurusinya hari ini. Sejak bertemu dan berseteru dengan kekasih Daniel itu ia sering marah dan menghancurkan semua prabotan rumahku. Tapi aku merasa kagum juga pada gadis itu. Menurut informasi yang ada, gadis itu hanyalah mahasiswi yang polos tapi ia bisa membuat anak manja itu mengamuk kesal karna tidak bisa berbuat apa-apa padanya. Aku harus memberi penghargaan padanya suatu hari nanti."
"Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba tubuhku gatal sekali?"
Violet masih terus mengaruk bagian tubuhnya. Muncul ruam merah pada kulit Violet yang gatal. Ia tidak memperhatikan itu, ia terus saja mengaruk kulit tubuhnya yang gatal semakin tak tertahankan.
"AAAH ! ! Gatal sekali. Pasti karna debu dibangunan tua itu yang membuatku alergi. Tubuhku jadi merah semua karna rasa gatal ini. Tunggu dulu."
Violet mencari cermin kecil dalam laci meja di samping tempat tidur. Ia tidak bisa menggunakan cermin rias karna baru saja pecah olehnya. Setelah mendapatkan cermin tersebut, berapa terkejutnya ia melihat wajahnya.
"AAAAAAA................ ! ! ! !"
Teriakannya kali ini mengema disepenjuru rumah. Bagaimana tidak. Wajahnya saat ini bengkak dengan ruam merah memenuhi pipi, dahi serta hidung dan dagunya.
"Kenapa wajahku jadi rusak begini?"
__ADS_1
"Ada apa nona Violet?" seorang pelayan segera membuka pintu kamar untuk memeriksa kondisi majikannya. Tapi begitu ia melihat Violet... "AAAH.......! Han, hantu!" teriaknya membuat pelayan lain berlari mendekat.
"Sembarangan kau memanggilku hantu! Aku ini majikanmu!" Violet melemparkan batal ke arah pelayan tersebut.
"Ada apa ini?" tanya Ducan menghampiri. Ia sudah tidak tahan mendengar semua keributan dirumahnya.
"Ayah," panggil Violet.
"Ada apa dengan wajahmu?"
"Aku juga tidak tahu. Tiba-tiba sekujur tubuhku gatal sekali. Begitu aku menggaruknya mala jadi seperti ini," jelas Violet.
"Hah... Merepotkan. Ya sudah, ayok ke rumah sakit."
Ducan segera membawa putri angkatnya itu ke rumah sakit. Sampai disana Violet langsung mendapatkan pemeriksaan medis. Menurut hasil yang di dapat. Mereka tidak mengetahui penyebab pasti dari penyakit Violet. Hanya saja mereka menyimpulkan kalau yang dialami Violet ini lebih mirip seperti terkena racun dari serangan tertentu tapi serangga apa yang memiliki racun sekuat ini.
Dokter cuman memberi Violet salab dan beberapa obat untuk meredakan rasa gatal akibat racun tersebut. Dokter menyatakan agar Violet tidak berusaha menggaruk kulitnya. Karna hal itu mala akan memperburuk dan menyebabkan luka akibat kuku yang terus menggaruk kulit yang gatal.
Violet tidak mengetahui kalau sebenarnya Lina lah yang telah memberikan racun tersebut. Racun ini hampir sama dengan racun yang ia berikan pada Daniel untuk menyiksa tahanan nya dulu. Namun racun ini tidak berdampak separah itu. Ia hanya membuat orang yang terkena racun ini merasakan rasa gatal yang ringan saja, tapi cukup menyiksa juga.
Karna hal ini Violet harus menutupi wajahnya menggunakan masker saat berangkat kuliah. Dan ia yang biasanya berpakaian seksi kini menutup seluruh bagian tubuhnya dengan pakaian panjang, agar supaya tidak ada satu orang pun tahu tentang kondisi kulitnya. Akan sangat memalukan jika mereka tahu. Sedangkan untuk Richard. Ia melarikan diri keluar negeri setelah kejadian yang sangat memalukan baginya. Berita itu bahkan menjadi trending topik dalam satu jam. Ia bahkan tidak perna terpikir untuk kembali lagi. Ia juga memutuskan seluruh hubungannya dengan semua teman-temannya di kampus. Richard benar-benar menghilang di publik ibu kota.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
ξκύαε