
"Bos, putra-putri mu datang berkunjung," kata Dasya sambil mengetuk pintu.
Dasya membukakan pintu mempersilakan Julius dan Julia yang berlari masuk menghampiri papa mereka. Lalu ia berlalu pergi setelah menutup pintu.
"Julius, Julia, apa yang kalian lakukan disini?" tanya Daniel sambil mengankat mereka ke pangkuannya. "Kalian berdua bau anyir darah. Apa kalian habis bermain?"
"Mereka semua payah," kata Julius.
"Kami diserang oleh preman-preman suruhan mama gadungan itu di taman kota. Mereka bilang ingin membuat kami hilang dari muka bumi. Jadi kami membuat mereka berenkarnasi," jelas Julia.
"Bagaimana bisa kalian ada di taman kota?"
"Wanita itu yang mengajak kami jalan-jalan dan tentunya kami sudah curiga akan hal ini."
"Tapi kalian berdua tidak apa-apa, kan?"
"Jika disuruh untuk melawan para preman bodoh, merekalah yang harusnya dikhawatirkan."
"Itu benar. Kami adalah putra-putri dari dua kelompok mafia terbesar di kota ini. Memang ada yang berani melawan kami?" kata Julia dengan logat anak-anaknya.
"Iya, iya. Putra-putri papa dan mama memang hebat. Papa akan meminta seseorang untuk menyurus mayat para preman itu. Sebaiknya kalian bersihkan diri dulu. Kalian kotor sekali."
"Papa, papa. Apa papa tahu? Aku tadi bertemu mama," kata Julia bersemangat.
"Apa?! Dimana?" Daniel sangat terkejut mendengarnya.
"Di taman kota tadi, sebelum kami diserang preman-preman itu."
"Iya, tapi kami sudah menyelusuri taman itu dan tidak menemukan mama dimanapun," kata Julius.
"Ini semua karna kakak. Kenapa kakak memanggilku? Kalau tidak, aku tadi bisa mengejar mama," Julia tiba-tiba menyalahkan Julius.
"Hah? Kenapa kau menyalahkan aku? Kalau kau memang bertemu mama tadi, kenapa tidak langsung menahannya?"
"Aku..." Julia tertunduk.
__ADS_1
"Sudah! Jangan saling menyalahkan. Yang penting kita tahu kalau mama ada di kota ini dan dalam keadaan sehat."
"Tapi pa, ada sesuatu yang aneh dengan mama. Disaat ia menolongku, mama sepertinya sama sekali tidak mengenali ku. Aku tidak mungkin salah, dia pasti mama. Walau dia memakai kacamata bundar dengan rambut dikuncir dua," jelas Julia.
"Kacamata? Rambut dikuncir dua?" Daniel mulai membayangkan Lina dalam penampilan itu. "Dia pasti imut sekali. Bolehlah sesekali aku melihatnya berdandan seperti itu. Tunggu, tunggu. Itu tidak penting untuk sekarang," Daniel menggeleng cepat menghalau pikiran tersebut.
"Em... Apa mama mengalami hilang ingatan ya, pa?" tebak Julius.
"Jika memang begitu. Kita harus cepat menemukan mama dan membawanya pulang. Huaah....... Aku rindu mama," Julia kembali menangis sambil menyembunyikan wajahnya dalam pelukan papanya.
"Iya, papa. Kami mohon cepatlah temukan mama. Aku juga rindu mama," Julius ikut memeluk papanya.
"Itu pasti. Papa juga merindukan mama. Papa akan meminta Qazi dan Norman kembali dari pencarian mereka diluar ibu kota," Daniel mengelap air mata di wajah putra-putri nya. "Berhentilah menangis, okey. Disaat kita berhasil menemukan mama nanti, kita akan membantunya mengembalikan ingatannya."
Julius dan Julia mengannguk. Mereka turun dari pangkuan papa mereka hendak menuju kamar kecil untuk membersihkan diri dari bekas darah yang masih menempel. Baru selangkah menapakan kaki mereka di lantai, Via tiba-tiba masuk ke ruang kantor Daniel.
"Kakak. Eh, Julius, Julia, kalian berdua juga ada disini. Kenapa kalian menangis?" tanya nya disaat melihat bekas air mata di wajah mereka.
"Tidak ada apa-apa, bibi Via," kata Julia.
"Kak, sebenarnya ada apa ini? Mereka berdua sangat jarang menangis terutama Julius," tanya Via ingin tahu.
"Mereka memintaku untuk tidak memberitahu mu. Aku tidak mau menghancurkan kepercayaan mereka padaku," kata Daniel mencari alasan.
"Memang percuma juga bertanya padamu."
"Kesampingkan itu. Ada perlu apa kau kemari? Tumben datang ke perusahaan," tanya Daniel mengalihkan pembicaraan.
"Aku baru pulang dari kampus dan sekalian mengantarkan undangan ini."
Via berjalan mendekati meja dan meletakan selembar undangan di adapan kakaknya. Daniel membuka undangan tersebut lalu membacanya sekilas. Itu merupakan undangan untuk sebuah pesta perayaan 50 tahun perusahan Xu yang diadakan minggu depan.
"Undangan itu dari Tn. Cershom. Ia ada urusan penting minggu depan dan tidak bisa menghadiri nya. Jadi ia meminta kakak dan kakak ipar untuk menggantikannya datang ke pesta tersebut."
"Baiklah. Jika tidak ada halangan kami akan datang."
__ADS_1
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
Diperjalanan pulang Lina terus melamun tentang gadis kecil yang ia temui di taman tadi. Ia merasa perna bertemu dengannya, tapi dimana? Wajah imut gadis itu terus terbanyang di kepalanya.
"Ada apa Velia? Setelah kembali dari taman kau terus saja melamun," tanya Samuel yang sendari tadi melirik Lina.
"Tidak ada apa-apa," Lina mengalihkan pandangannya keluar jendela. Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah papan nama sebuah rumah sakit. "Ra-mo-na. Hentikan mobilnya Samuel!" teriak Lina membuat Samuel mengerem secara mendadak.
"Ada apa?!" tanya nya panik.
"Bisa kita pergi ke sana?" tunjuk Lina ke rumah sakit tersebut.
"Rumah sakit? Kau ini hampir membuatku terkena serangan jantung. Untuk apa kau ke rumah sakit? Apa kau ingin memeriksa kandunganmu?"
"Tidak. Aku merasa sangat mengenal tempat itu. Kumohon, bisa pergi kesana," pinta Lina dengan ekspresi anak kucingnya.
Samuel segera memalingkan wajahnya. "Aah... Kau tidak perlu menggunakan ekspresi itu."
Samuel memutar balikan mobilnya, kemudian mengambil jalur yang mengarah ke rumah sakit Ramona. Lina sendari tadi terus menatap bangunan 12 lantai itu, apalagi begitu mobil telah memasuki kawasan rumah sakit. Samuel memarkirkan mobilnya di parkiran yang ada di lantai bawah tanah.
Ditemani Samuel, Lina mulai berkeliling rumah sakit dari ruangan ke ruangan, dari lantai ke lantai tanpa lelah. Tempat-tempat yang dianggapnya tidak asing ia masuki begitu saja, walau ada sebagian besar ruangan dilarang untuk dikunjungi oleh sembarangan orang. Selama berkeliling, beberapa potongan-potongan ingatan samar muncul di kepala Lina dalam bentuk acak. Lina berusaha menyusun potongan-potongan ingatan tersebut sampai kepalanya pusing namun ia tidak peduli. Ia terus memaksakan diri.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε
__ADS_1