Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Pertemuan dengan Yusra


__ADS_3

"Eh, bisa kau menyingkir? Aku harus kembali ke kelasku," kata Julia menyadarkan Yusra yang melamun.


"Ha? Hehe... Ini pertama kalinya seorang gadis mencoba lari dari ku. Aku anggap kau itu baru datang dari desa dan tidak mengenal apa-apa tentang kehidupan di kota ini. Pantas saja sikap mu ini begitu bar-bar," bukannya pergi, Yusra malah menyudutkan Julia ke tembok yang membuatnya semakin tidak bisa kemana-mana.


"Apa dia bilang tadi? Apa otaknya ada di dengkul? Berani sekali kau mengejek nona muda ini baru keluar dari hutan!! Aku akan memukulmu sampai mati!!" batin Julia mengamuk begitu mendengar perkataan Yusra.


"Tapi asal kau tahu saja, kau sangat beruntung aku tertarik dengan sifat agresi dan liarmu ini. Kau sungguh berbeda dari gadis lain yang perna aku temui. Jadi maukah kau berkencan denganku? Akan aku tunjukan peradaban yang belum pernah kau lihat sepenuhnya. Orang dari desa sepertimu pastikan belum perna melihat kecanggihan teknologi zaman sekarang, bukan? Aku bisa memaklumi itu..."


Yusra terus mengoceh. Dari setiap kata-katanya jelas mengatakan kalau Julia buta teknologi, cuman gadis yang tidak tahu apa-apa dan terbelakang. Hal ini tentu membuat Julia semakin dibuat kesal.


"Teruslah mengoceh maka aku bisa pastikan hari ini adalah hari pemakamanmu!!"


Julia mengepalkan tinjunya dan mengambil ancang-ancang hendak memukul pria di depannya ini. Namun beruntung, dengan sigap Julius berhasil menahan tangan adiknya itu sebelum mengenai wajah Yusra dan dengan cepat menurunkan tangan Julia sebelum Yusra menyadarinya. Julia sontak kaget melihat kakaknya tiba-tiba telah berdiri di depannya.


"Kakak?!"


"Eh? Sejak kapan kau ada disini? Siapa kau?" tanya Yusra yang juga tidak menyadari kedatangan Julius.


"Ah, maafkan saya tuan muda Arlo. Saya tidak bermaksud menganggu. Sebenarnya saya adalah kakak Julia," kata Julius dengan nada sopan santun.


Sedangkan Julia, ia sendari tadi terus berusaha menarik tangannya, tapi cengkraman Julius terlalu kuat untuknya. Dan anehnya lagi, sejak Julius datang, Julia tidak bisa mengeluarkan suaranya sama sekali. Ia terus mencoba untuk berteriak namun tetap saja tidak ada suara pun yang keluar dari mulutnya. Julia tentunya berpikir kalau ini pasti ulah dari kakaknya sendiri.


"Kakak?" ulang Yusra. Ada sedikit kebingungan diraut wajah Yusra.


"Iya. Kakak kandung," jelas Julius sebelum terjadi ke salah pahaman.


"Oh... Aku kira..." Yusra merasa lega begitu mengetahuinya. "Orang ini lumayan hebat juga. Aku bahkan tidak menyadari kedatangannya. Akan lebih bagus kalau aku bisa mengrekrutnya menjadi bawahanku," batinnya.


"Maaf tuan muda Arlo, ada debu di seragam anda."


Kalimat dari Julius membuyarkan lamunan Yusra yang sendiri tadi melirik penampilan Julius dari ujung kaki sampai kepala. Julius mengibas-ngibaskan sedikit debu yang menempel di pundak Yusra. Namun kita tahu kalau itu bukanlah debu biasa.


"Terima ka... Hachii!" seketika tiba-tiba Yusra bersin tanpa penyebab.

__ADS_1


"Sebaiknya tuan muda Arlo ganti baju. Anda sepertinya mengalami alergi debu. Keringat anda banyak sekali dan hidungmu juga memerah," kata Julius memberi saran.


"Tapi aku tidak alergi debu... Hachii!"


Yusra kembali bersin. Julius dan Julia menjauhkan muka sambil menutup hidung dan mulut mereka.


"Lebih baik periksakan diri anda ke rumah sakit. Alergimu terlihat semakin parah."


"Sepertinya begitu. Hachii!" Yusra menyekat hidungnya yang kini mengeluarkan lendir. "Entah mengapa tiba-tiba kepalaku juga pusing."


"Mau saya antar?"


"Tidak. Tidak perlu. Aku bisa sendiri," tolak Yusra. dengan sedikit sempoyongan ia berjalan pergi sambil mencari pegangan pada tembok.


"Hati-hati tuan muda Arlo. Semoga cepat sembuh!" teriak Julius.


Julius berbalik pada Julia yang ada dibelakangnya. Julia sendari tadi masih mencoba melepaskan cengkraman tangan kakaknya. Julius menekan satu titik tepat di tenggorokan Julia agar ia bisa berbicara lagi. Setelah itu baru Julius melepaskan cengkramannya.


"Kakak!! Kenapa kau melakukan itu padaku? Dan lagi, kenapa juga kau bersikap baik pada dia?!!" tanya Julia sambil menggosok pergelangan tangannya yang merah.


"Hm! Salah siapa juga membuatku jengkel. Lagi pula siapa dia? Aku belum perna dengar nama keluarganya seumur hidupku," Julia melipat kedua tangannya di dada dan membuang muka dengan ekspresi cemberut.


"Hah... Papa meminta kita untuk tidak terlibat dengan keluarga Arlo. Kemungkinan besar keluarga Arlo berkerja sama dengan Lady Blue," jelas Julius.


"Lady Blue?!"


"Iya. Kau itu masih ceroboh dan suka mencari gara-gara dengan sembarang orang tanpa mengetahui dulu siapa mereka sebenarnya. Dan yang paling mengesalkan, aku juga yang harus membantumu," tegas Julius dengan nada serius.


"Itulah tugas seorang kakak, melindungi adik-adiknya."


"Bukan berarti kau bisa berbuat sesuka hati!"


"Terserahlah! Aku bukan tipe yang suka diatur-atur. Ngomong-ngomong, darimana kakak tahu aku ada disini? Tidak mungkin secara kebetulan, kan? Kakak membuntutiku?" tanya Julia mencurigai Julius.

__ADS_1


"He, kurang kerjaan apa aku membututimu? Itu mungkin cuman perasaanmu saja."


"Aku tidak percaya."


"Ya sudah kalau mau percaya atau tidak. Oh, iya. Paman Qazi mengirimkan ini untukmu."


Julius mengeluarkan kotak persegi panjang dari saku seragamnya. Kotak tersebut memiliki tutup transparan yang memungkinkan dapat melihat isinya. Sebuah kalung perak berliontin ruby begitu cantik tersimpan dalan kotanya. Julius menyerahkan kotak berisi kalung pada adiknya. Julia menerima kotak tersebut dan melihat isinya tanpa membuka kotaknya.


"Sebuah kalung? Cantik sekali. Hei, tunggu dulu. Ini bukan cara agar kakak bisa meletakan alat pelacak di kalung ini, kan?"


"Jangan berpikir yang bukan-bukan. Sudah aku katakan kalau itu hadiah dari paman Qazi. Kalau tidak percaya, tanyakan saja padanya. Lagi pula, Aku juga dapat," Julius memperlihatkan sebuah jam tangan hitam yang melingkar dipergelangan tangannya sebagai bukti.


"Kalau begitu, aku mau pakai yang kau pakai itu!"


Belum sempat Julius menyetujuinya, Julia sudah merebut jam tangan milik kakaknya itu setelah menyodorkan kotak kalung yang ia pegang. Julia bergegas menjauh dari Julius agar jam tangan tersebut tidak berhasil direbut kembali.


"Julia!! Kembalikan jam tanganku! Mana mungkin aku memakai kalung wanita!" teriak Julius.


"Tidak mau. Uwee......"


Julia menjulurkan lidahnya sebelum berlari pergi meninggalkan kakaknya yang terlihat cemberut. Namun setelah Julia hilang dari pandangan, Julius malahan tersenyum menang.


"Dasar adikku yang bodoh. Aku sudah menduga hal ini. Sebenarnya jam tangan yang kau rebut itulah yang dipasang alat pelacak olehku."


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


ξκύαε


__ADS_2