
Daniel dan Lina segera ingat dengan pesta perjamuan itu, saat pertemuan mereka dengan keluarga Pinkston. Tapi Lina mempertanyakan kenapa Nisa tidak ikut hadir di pesta tersebut. Nisa hanya menjawab kalau ia merasa tidak enak badan tepat pada malam pesta diadakan waktu itu. Walau yang sebenarnya terjadi adalah karna ibu tirinya yang melarang Nisa untuk ikut. Gloria cuman ingin putri kandung sendirinya yang dapat dikenal oleh orang-orang dari kalangan atas seperti keluarga Flors. Tapi nyatanya Rica malah mempermalukan dirinya sendiri.
Perlahan-lahan Nisa menjadi santai setelah obrolan yang terkadang diisi dengan lawakan atau pertengkaran kecil dari kakak adik yang terkadang bikin ketawa. Ia tidak menyangka kalau keluarga Flors begitu ramah dan bersahabat. Sempat terbesit dipikirannya andai keluarganya sama seperti keluarga Julia. Walau berasal dari kalangan atas dengan segudang kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan tapi mereka masih memiliki waktu bersama keluarga. Tidak seperti keluarganya. Ayahnya terlalu sibuk berkerja, sedangkan ibu tirinya cuman mementingkan putri kandungnya, Rica. Ia kesepihan. Tidak ada yang memperhatikan dirinya atau peduli padanya. Nisa seperti dianggap tidak ada dalam lingkungan rumannya sendiri. Sering kali Nisa merindukan ibunya yang telah tiada. Andai ibunya masih hidup, apa mungkin keluarganya bisa sama seperti keluarga Flors? Penuh kebahagian seperti ini.
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
Di vila mewah di kota sebrang yang terletak cukup jauh dari pusat kota. Sebuah vila berdesain Eropa klasik berdiri kokoh di atas dataran tinggi yang menyajikan pemandangan hamparan bunga lavender. Taman bunga yang begitu luas tersebut sengaja dibangun oleh pemilik dari vila itu untuk kesenangan tersendiri. Aroma semebrak yang dihasilkan bunga biru keunguan tersebut dapat tercium dari jarak ratusan meter. Sebuah mobil hitam melaju melewati jalan yang terbentang membela hamparan bunga lavender itu dan berhenti tepat di depan vila. Seorang penjaga segera membantu membukan pintu mobil dan penjaga yang lain membuka pintu utama vila itu.
"Selamat datang, Yang mulia. Anda pasti lelah setelah penerbangan yang panjang," sambut seorang pria dengan formal. Ia mengenakan setelan jas hitam lengkap dengan dasi kupu-kupunya.
"Tidak juga. Penerbangan dari pulau Balvana ke kota ini tidaklah jauh," ujar seorang gadis muda yang dipanggil 'Yang mulia' oleh pria tadi. Ia menyandarkan tubuhnya di sofa setelah memberikan tasnya pada seorang pelayan. Dilepaskan rambut palsu yang ia kenakan dan menghapus dandanannya. "Hah... Pipiku terasa pegal karna terus berpura-pura tersenyum padanya."
"Kenapa anda tidak meminta orang lain saja mengerjakan tugas ini dari pada anda susah-susah menyamar sebagai siswi di sekolah Anthony?"
"Aku ingin memantau dia secara langsung. Lagi pula aku ini memang masih sewajarnya menempuh pendidikan SMA. Sejauh yang kulihat, dia sepertinya sudah melupakan aku. Oh... Julia teman lamaku, tidakkah kau merinduhkan temanmu ini? Teman yang kau anggap sama seperti saudara. Dasar pembohong!" gadis itu memukul meja dengan sangat kuat sampai menghasilkan suara yang nyaring. "Kau sama sekali tidak mengangapku sebagai temanmu! Semua kepedulian, sikap baik dan sunyum mu itu, semuanya palsu! Itu cuman sekedar kebohongan belakang! Hehe.... Aku memang bodoh. Siapa aku? Aku cuman gadis miskin yang hidup sensara bersama orang tua tunggal. Bukanlah dirimu yang seorang putri dari keluarga kaya raya. Kau bisa memiliki semua yang kau mau, sedangkan aku tidak. Kau disukai banyak orang tapi aku... Aku cuman berdiri dalam bayang-bayangmu saja. Hiks... Hiks.... Hihi... Hahaha...."
Suara tangis yang tadinya pilu kini berubah menjadi tawa yang mengisi ruang tersebut. Pria disampingnya hanya bisa diam membiarkan kepercayaan seorang teman yang hancur ditumpahkan hari ini.
"Sekarang semuanya sudah berubah. Aku adalah tuan putri yang memiliki segalanya. Kekuasaan, kekayaan dan rasa takut semua orang. Akulah Lady Blue yang mengemparkan kota sebrang ini. Lihat saja nanti Julia. Aku akan membuat dirimu melihat aku yang sebenarnya dan melenyapkan senyum palsu dari wajah sok polos dirimu itu. Hahaha...."
__ADS_1
"Aku sangat suka melihatnya seperti ini," batin pria tersebut. "Apa perlu saya minta seorang pelayan menyediakan teh hangat dan sedikit camilan untukmu, Yang mulia?" kata pria menawarkan setelah beberapa saat kemudian.
"Boleh."
Pria tersebut memerintahkan seorang pelayan wanita untuk menyiapkan teh hangat dan camilan. Permintaan tersebut segera dituruti. Tak membutuhkan waktu lama bagi pelayan itu kembali dengan membawa nampan berisi teko, satu cangkir dan sepotong kue blueberry. Dengan anggunnya pelayan tersebut menyajikan semua itu. Setelahnya ia melangkah pergi.
"Ada yang bisa saya bantu lagi, Yang mulia?" tanya pria itu kembali kalau-kalau nonanya memelukaan sesuatu lagi.
"Ayoklah perngurus Hans, sudah sering aku bilang jangan memanggilku seperti itu. Panggil saja 'nona'," kata gadis tersebut setelah menyerumput tehnya.
"Saya cuman merasa terbiasa saja memanggil anda begitu. Mengingat anda memang tuan putri dari Kerajaan Denmark."
"Itu benar. Mau bagaimanapun anda merupakan salah satu putri kerajaan. Tidak ada yang bisa membantah hal itu."
"Kau salah perngurus Hans. Di dalam tubuhku memang mengalir darah bangsawan tapi aku bukanlah tuan putri. Aku cuman putri luar yang tidak dianggap dan sama sekali tidak mendapat gelar kerajaan apapun. Tapi aku masih berhak mendapatkan hak waris yang seharusnya memang telah menjadi milikku. Dan kumanfaatkan semuanya untuk membangun kekuatan agar aku bisa menguasai seluruh dunia bawah tanah di negara ini. Siapa yang peduli dengan gelar kerajaan jika kau bisa menguasai pasar gelap dan menjadi yang paling ditakuti," seringai jahat menggembang di wajah gadis itu.
"Anda sungguh luar biasa. Ayahmu pasti lebih bangga memiliki putri sepertimu dari pada anak-anaknya yang lain."
"Aku sama sekali tidak peduli lagi dengan dia. Sudahlah, bagaimana perkembangan saat ini? Apa senjata yang kita pesan sudah datang?"
__ADS_1
"Baru sebagian yang datang dan telah di simpan di markas utama, kemarin. Ini tanda buktinya," pengurus Hans menyodorkan selembar kertas pada nonanya.
"Okey. Berarti kita tinggal menunggu sisa kiraman senjtanya. Dengan begitu kita siap menyerbu ibu kota."
"Oh, iya. Ada kabar dari Tn. Arlo kalau ia saja mereklut anggota baru untuk menggantikan kesebelas anggotanya yang hilang."
"Itu urusanya. Terkadang aku bingung, bagaimana bisa ia kehilangan anggotanya tanpa jejak seperti itu di dalam wilayah kekuasaannya sendiri?"
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
ξκύαε